Masa Transisi New Normal Rakyat Menjadi Tumbal

Oleh : Nanik Farida Priatmaja

Penamabda.com - Wacana new normal ternyata banyak disambut hangat sejumlah daerah di Indonesia. Kondisi masyarakat yang sudah jenuh menjalani stay at home pun menyambut new normal dengan kembali beraktivitas. Tak jarang daerah-daerah yang menerapkan Pembatasan Berskala Besar (PSBB) mulai melonggarkan bahkan menghentikan demi menyambut new normal.

PSBB hingga saat ini masih diterapkan di dua provinsi dan tiga kabupaten saja. Sementara DKI Jakarta saat ini sedang memasuki masa transisi new normal. Masyarakat mulai melakukan kegiatan normal. Pusat perbelanjaan dan transportasi umum sudah banyak yang beroperasi. Kemacetan Jakarta pun kini telah terjadi kembali.

Jawa Barat masih memperpanjang PSBB lima daerahnya hingga 26 Juni dan lima daerah Bodebek mengikuti Jakarta hingga 2 Juli 2020.

Surabaya masih masuk zona merah akan tetapi sudah melonggarkan PSBB sejak 9-22 Juni kemarin dan tidak dilanjutkan lagi. Hal ini juga terjadi di kota-kota lain di Jawa Timur seperti Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Jombang dan Situbondo yang juga masih zona merah.

Kelonggaran ini pun meningkatkan mobilitas masyarakat dan juga jumlah kasus positif COVID-19. Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia melonjak hampir 70% dalam 19 hari terakhir. Hingga Selasa (23/06/2020) jumlah kasus positif di Indonesia sebanyak 47.896 kasus, sementara pada Kamis (4/06/2020) jumlah kasus masih 28.818.(CNBC.com, 23/06)

Sambutan masyarakat terhadap masa transisi PSBB menuju new normal seharusnya diiringi dengan kekonsistenan menjaga ketaatan protokoler. Uforia masyarakat menyambut new normal memang tak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena tingkat kejenuhan sudah luar biasa tinggi dan lemahnya ketahanan ekonomi masyarakat masa pandemi yang cukup menggelisahkan. Namun hal ini tentu saja sangat disayangkan jika masyarakat kembali beraktivitas tanpa menaati protokoler kesehatan (memakai masker, tetap menjaga jarak, rajin mencuci tangan dan sebagainya).

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan seharusnya mewaspadai atau tetap siaga akan terjadinya lonjakan pasien covid-19 di masa transisi new normal ini.  Pasalnya meskipun memberlakukan sanksi bagi masyarakat yang tidak mentaati protokoler kesehatan, namun faktanya masih banyak masyarakat yang melanggar. Hal ini butuh sinergisitas antar pemerintah dan masyarakat.

Pemerintah berupaya segera memberlakukan new normal demi menggerakkan roda perekonomian negeri ini. Padahal seharusnya tidak demikian. Pandemi corona sangat butuh penanganan tepat dan serius. Masyarakat pun harus benar-benar teredukasi menyeluruh. Hal ini demi menjaga agar penyebaran dan penularan covid-19 tak meluas.
banner zoom