Liqo’ Syawal Tokoh Jawa Timur! New Normal: Antara Sehat Ekonomi Vs Sehat Manusia

Oleh : Karina Larasati (Mahasiswi)

Penamabda.com - Ramadhan telah berlalu namun tidak menyurutkan semangat kaum muslimin. Keimanan dan ketaqwaan akan terus tumbuh dalam hati kaum muslim. Baik itu untuk menyambut kembalinya bulan Ramadhan yang akan datang ataupun menyambut kemenangan yang juga pasti akan datang. 

Bulan Syawal telah tiba, namun kaum muslimin tidak akan menyianyiakan kesempatan ini untuk terus beramar ma’ruf nahi mungkar, yakni dengan agenda Liqo’ Syawal dengan tema “New Normal, Diantara Ancaman Krisis Ekonomi Dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam” pada hari Sabtu, (13/06).

Dalam agenda yang diselenggarakan pada salah satu akun youtube “Kaffah Channel”,  berkumpul para Tokoh Ummat Jawa Timur yang insyaAllah selalu memikirkan nasib ummat dalam sistem kapitalis hari ini. Siaran langsung berjalan kurang lebih 3 jam dengan penonton berjumlah 8.000 lebih setelah 4 jam di posting secara resmi.

Agar lebih barokah, agenda Liqo’ Syawal dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an dengan dipandu oleh pembawa acara.   Dilanjutkan gema takbir untuk menyambut ribuan kaum muslim dari 34 Provinsi yang antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir. Menghadirkan Pembicara Nasional yakni  KH. Rohmad S Labib dan Ustadz Ismail Yusanto, dan dihadiri pula oleh berbagai Intelektual Jawa Timur, pengusaha Jawa Timur, Ulama jawa timur, dan masih banyak lagi yang insyaAllah senantiasa di Rahmati oleh Allah.

Pemateri pertama membahas tema terkait dari sisi ekonomi oleh pengusaha jawa Timur, lebih tepatnya Pengusaha Property Syari’ah yakni Bapak Wahyu Eka Dianto, S. Pt. Beliau menjelaskan bahwa wajar saat ini masyarakat ragu pada kebijakan New Normal, sebab pemerintah gamblang sekali menjelaskan alasan munculnya kebijakan ini yakni motif ekonomi. Terlebih motif ekonomi ini justru menjadi perhatian utama ditengah jumlah kasus COVID-19 yang belum kunjung menurun bahkan belum menemui titik maksimalnya, dengan arti terus meningkat. Kepentingan rakyat tidak lagi menjadi prioritas, namun dinomorduakan.

Dari kalangan intelektual muda ada Aktivis Mahasiswa bernama Adinda Khotibul Umam. Pemerintah dirasa gagap dalam menangani virus COVID-19 sedari awal, karena bukan fokus pada persiapan penanganan pada Bulan Januari dan Februari justru malah mengeluarkan lelucon dalam menyambut virus ini, bukan solusi serius seperti yang kita harapkan. Khotibul Umam juga mengatakan, pembelajaran mahasiswa yang terpaksa berjalan secara online menjadi kurang efektif dan kurang persiapan sehingga berjalan tidak maksimal. Mahasiswa lebih mengikuti arus masyarakat yang masih bingung dengan UKT, sehingga mahasiswa tidak sempat mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Lukman Noerrochim,Ph. D., tokoh Intelektual, menyampaikan pemerintah kehilangan akal sehat dalam mengeluarkan kebijakan, dan memang tidak bisa hanya dengan perubahan abal-abal yang termakan trend dunia, harus ada new leadership, new sistem yang mengayomi masyarakat sesuai dengan fitrahnya. Begitu juga dari segi jurnalis, Ustadz Rif’n Wahyudi, menyampaikan fakta pemerintah yang gagap, dan memicu berbagai polemik politik. 

Berikutnya ialah pemateri Nasional, yang pertama Ustadz Ismail Yusanto menyampaikan secara tegas bahwa pemerintah tidak serius menangani ini jika kita melihat fakta di bidang ekonomi, jurnalistik, kesehatan,dan lain-lain yang dirugikan dan diabaikan. New Normal yang penuh syarat dari WHO dan berbagai negara yang sudah terlebih dahulu melaksanakan lalu menutup kembali kebijakan New Normal, cukup menjadikan kita bertanya kuatkah kita menjalankan New Normal ini. Masyarakat terlebih terpaksa dihadapkan dengan pilihan memilih kesehatan ekonomi atau kesehatan manusia. Tentu masa yang sulit ini membuat ekonomi hancur, namun keduanya, baik kesehatan ekonomi ataupun kesehatan manusia, seharusnya menjadi tanggungjawab negara tidak boleh dibebankan kepada masyarakat.

Ke dua, Ustadz KH. Rochmad S Labib menyampaikan kita memang diperintahkan untuk melihat kerusakan dibumi yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, melihat yang sedang terjadi kemudian mengambil pelajaran darinya. Maka menurut beliau, beberapa poin pelajaran yang dapat kita ambil ialah yang pertama, kita harus sadar bahwa kita makhluk yang lemah, butuh tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta sebagai upaya kita bertawakkal. Dan sebisa mungkin menjaga diri secara fisik agar terhindar dari orang yang terpapar virus. 

Poin kedua berkaitan dengan orang yang terpapar virus, seharusnya orang yang terapar virus tidak tercampur dengan yang sehat. Dan itu butuh campur tangan pemerintah, namun yang terjadi pemerintah tidak sigap menanganinya sehingga pasien semakin banyak dan semua aktifitas terpaksa dihentikan.
Ustadz Rochmad mengatakan kalau aturan Islam ini diterapkan yakni memisahkan dengan tegas mana daerah yang harus di lockdown, mana daerah yang memiliki banyak kasus positif, maka masyarakat lain akan aman dari terjangkitnya COVID-19 ini, sehingga daerah yang masih hijau dapat tetap melakukan berbagai aktifitas ekonomi dan yang lain. Sehingga bisa menunjang perekonomian daerah lain, namun faktanya baik yang sakit ataupun sehat semua diperintahkan untuk stay at home karena takut akan terjangkit virus akibat ulah pemerintah sendiri. Begitulah cara bertindak dengan landasan keimanan, mensetting Islam sebagai landasan kehidupan sejak awal. Bukan justru bertindak terlebih dahulu baru kemudian setelah semakin parah mencari pengaturan dalam Islam. 

Maka masyarakat semakin sadar bahwa aturan Islam itu sempurna dan mampu menjawab setiap problematika kehidupan kita. Semakin dekat pula kebangkitan Peradaban Islam. Semoga kita semua mampu dan pantas menjadi ummat yang terbaik (khoiru ummah) dihadapan Allah dengan senantiasa memegang teguh kebenaran ini. Allahu akbar!
banner zoom