Dilema Pedagang Pasar Di Tengah New Normal

Oleh : Wulan (Komunitas Ibu Peduli Generasi)

Penamabda.com - Bagaikan makan buah simalakama, begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan nasib para pedagang di pasar-pasar tradisional saat ini. Bagaimana tidak di tengah semakin bertambahnya orang yang positif virus Corona, mereka harus berjibaku demi menafkahi keluarga. Padahal resikonya cukup besar tertular virus ini. Di satu sisi mereka khawatir tertular. 

Di sisi lain, juga bingung bagaimana bisa mencukupi kebutuhan keluarganya jika tidak berdagang. Sementara bantuan pemerintah sangat minim, bahkan nyaris tidak ada.

Data dari pemerintah menyebutkan banyak dari pedagang pasar yang sekarang terpapar covid 19. IKAPPI mencatat 64 pedagang pasar tradisional di Jakarta positif Covid-19 per 15 Juni 2020. Mereka tersebar di sembilan pasar. Satu pedagang yang terinfeksi dari Pasar Mester, Jatinegara, Jakarta Timur meninggal. 

Berbagai cara sudah ditempuh pemerintah demi memutus rantai penyebaran covid 19. Terutama di pasar tradisional yang kini menjadi claster baru penyebaran virus ini.  Diantaranya dengan mewajibkan para pedagang dan pembeli memakai masker ataupun faceshield, penggunaan hand sanitizer, penyemprotan desinfektan, pemeriksaan suhu tubuh, menerapkan social distancyng sampai dengan pemeriksaan rapid test. Sebagaimana dilakukan oleh Pemkot Malang yang melakukan rapid test terhadap 300 pedagang di pasar besar Malang pada tanggal 16 Juni kemarin. (www.ngopibareng.id). 

Tapi semua itu ternyata tidak berhasil menekan pertambahan pasien positif. Nyatanya, malah setiap hari jumlah pasien semakin melonjak tajam. Lagi-lagi hal ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengatasi wabah Corona ini. Langkah-langkah penanganan yang diambilpun tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan terkesan hanya setengah hati. 

Ironisnya, di tengah semakin tingginya pasien yang positif, pemerintah justru mengambil keputusan kontroversi yakni dengan kebijakan "new normal". Dimana dengan kebijakan ini pemerintah kembali membuka fasilitas-fasilitas umum (fasum) seperti mall, tempat rekreasi, transportasi umum dll. Kita patut bertanya, apa sebenarnya yang ada dalam benak pemerintah? Bukankah dengan dibukanya fasum akan semakin banyak masyarakat yang keluar rumah. Interaksi meningkat dan menjadi wasilah semakin banyak tertular covid 19. Lantas siapakah yang diuntungkan?

Kapitalisme Di Balik New Normal

Pemerintah terkesan gegabah mengambil kebijakan new normal ini. Tak hanya mengenyampingkan pendapat para pakar dan ahli. Kebijakan ini pun berresiko tinggi menaikkan populasi covid. 

Dengan adanya kebijakan new normal ini, Pengusahalah yang sebenarnya diuntungkan. Betapa selama masa PSBB mereka harus menutup tempat-tempat usaha, sehingga menanggung kerugian yang sangat besar. Dengan dibukanya kembali usaha mereka. Maka roda ekonomi kembali menggeliat. Padahal, dalih ini hanyalah isapan jempol belaka.
Dari sini semakin tampak jelas wajah asli sistem kapitalisme. Dimana yang dipikirkan hanyalah bagaimana caranya tidak merugi. Tak masalah meskipun harus mengorbankan rakyat kecil. 

Perselingkuhan penguasa dan pengusaha semakin nyata. Demi bisa kembali menjalankan usahanya. Pengusaha tak segan-segan menekan penguasa. Hingga lahirlah kebijakan yang bisa menguntungkan mereka.

Andaikan pemerintah peduli dengan nasib rakyatnya. Kebijakan ini tidak akan muncul. Pemerintah juga harusnya mengambil langkah yang tepat untuk menangani masalah pandemi ini. Hingga, para pedagang tidak perlu mengambil resiko berdagang di tengah bayang-bayang ketakutan tertular virus.

Cara Islam Mengatasi Pandemi

Jauh sebelum kapitalisme berkuasa, Islam telah mempunyai  solusi yang tepat dalam menangani wabah yang menyerang suatu negeri. Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab di daerah Syam terjadi wabah tho'un. Bukan saja warga negara biasa, bahkan penyakit ini pun menyerang beberapa sahabat Khalifah Umar seperti Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, dan Suhail bin Amr yang mengantarkan pada wafatnya mereka. Banyak penduduknya menjadi korban keganasan penyakit ini.
Ketika Khalifah mengetahui hal ini, segera diambil langkah-langkah strategis untuk memutus rantai penularannya. Diantaranya adalah:

1. Melakukan karantina wilayah syam. Beliau melarang para sahabat untuk masuk wilayah Syam dan melarang penduduk Syam keluar

2. Mengirimkan para tabib untuk merawat penduduk yang terjangkit.

3. Membawa penduduk yang terjangkit ke gunung-gunung agar terpisah dengan penduduk yang masih sehat.

4. Menyuplai obat-obatan dan makanan yang dibutuhkan oleh penduduk selama masa karantina.

Itulah seperangkat kebijakan yang diambil oleh pemimpin Islam ketika menghadapi musibah. Selain itu ketakwaan pemimpin dan rakyat juga menjadi kunci keberhasilan penanganan musibah. 

Mereka yakin bahwa musibah itu datangnya dari Allah. Maka tawakal dan taqarub adalah senjata ampuh agar musibah segera berlalu. 

Cara seperti inilah semestinya yang dilakukan oleh pemimpin negeri ini. Ketika terdeteksi suatu wilayah menjadi titik penyebaran covid 19, harusnya wilayah tersebut langsung dikarantina. Sehingga warga dan  pedagang di luar wilayah itu bisa tetap beraktivitas seperti biasa, tanpa takut terpapar virus. Dan roda perekonomian akan tetap berjalan seperti biasa. 

Ironisnya karena sistem kapitalisme yang diterapkan. Negara lebih mementingkan para pemilik modal daripada keselamatan rakyatnya. Padahal Rasulullah saw bersabda: 

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). 

Maka, sudah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalisme. Yang sudah terbukti kebobrokannya. Dan kembali kepada aturan Sang Pencipta dengan menerapkan Islam secara Kaffah. 

Wallahu'alam bish showwab.
banner zoom