Ramadhan Bulan Taubat dan Taat

Oleh : Mimin Nursarasati S.Pd

Penamabda.com - Ramadhan kariim, bulan penuh rahmat dan kemuliaan tengah kita tapaki bersama. Adaptasi agar dapat khusuk menjalankan ibadah selama ramadhan juga sudah kita lewati. Sehingga  amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkan mulai terbiasa kita kerjakan. Meski pandemi covid 19 masih belum reda di negeri ini, selayaknya sebagai orang muslim tetap harus bergembira dan bersyukur telah diijinkan Allah untuk bertemu dengan Ramadhan di tahun ini.

Memang benar kita harus bergembira dan bersemangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Hal ini karena Ramadhan adalah bulan yang istimewa dibandingkan bulan-bulan yang lain. Pada bulan ini Allah melipatgandakan balasan pahala terhadap amalan wajib yang kita tunaikan, dan memberi balasan yang setimpal dengan amalan wajib di bulan selain Ramadhan atas amalan sunnah yang kita kerjakan. 
Namun tidak dapat kita pungkiri bahwa dalam kegembiraan ini terselip kesedihan. 

Sedih karena Ramadhan kali ini, kita tunaikan di masa pandemi Covid-19 yang memiliki dampak luar biasa. Angka kematian akibat Covid-19 semakin bertambah, belum lagi orang dalam pengawasan, dan pasien dalam pengawasan, lebih banyak lagi. Sedih  ini semakin menyayat hati manakala melihat gelombang PHK tidak terelakkan. Terbayang pengangguran di mana-mana, penghasilan terhenti, sementara kebutuhan hidup tidak bisa berhenti. Sehingga korban kelaparan pun mulai berjatuhan, tindak kriminalitas juga mulai bermunculan.

Ironis sekali, Ramadhan yang seharusnya dilalui dengan khusuk beribadah kepada Allah, tetapi potensi kemaksiatan terjadi di mana-mana. Berita tindak kekerasan, pencurian, pembunuhan, bunuh diri dan yang lainnya mewarnai hari-hari Ramadhan di tengah pandemi ini. Dan di sisi lain Allah berfirman dalam surah Al-Baqoroh ayat 183 : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.” 
 Apa yang harus kita lakukan untuk membenahi puasa kita di sepuluh hari kedua bulan Ramadhan ini, agar derajat taqwa bias kita raih di tengah pandemi ?

Hikmah di balik pandemi

Sebelum membahas apa yang harus kita benahi saat ini, ada baiknya kita mencoba memahami hikmah di balik pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini. Dalam sebuah  hadist Rasulullah ketika beliau ditanya tentang wabah tha’un yang saat itu melanda diceritakan : “Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, ‘Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’” (HR Bukhari). 

Tha’un oleh ahli agama disematkan pada Covid-19 karena tha’un sejenis wabah yang menyerang manusia secara umum di suatu daerah tertentu, tanpa mempedulikan agama dan keshalihan penduduk yang tertimpa wabah. Hal ini sama dengan wabah virus corona yang sekarang melanda dunia. Banyak korban berjatuhan dari hari ke hari. Baik muslim maupun non muslim, baik orang shalih maupun yang thalih. Menyerang warga masyarakat Negara maju maupun berkembang. Semua terdampak, dan kebingungan mencari cara agar korban tidak terus bertambah.

Allah mengirimkan makhluknya yang tidak kasat mata itu untuk mengingatkan pada kita bahwa banyak pelanggaran atau kemaksiatan yang sudah dilakukan oleh umat manusia termasuk umat Islam, yang semakin hari semakin parah. Ramadhan yang datang hanya dijadikan perayaan ibadah secara ritual saja, sehingga ketika Ramadhan berlalu mereka tidak menjadi orang yang bertaqwa dengan menjalankan syariahnya tetapi kembali pada kemaksiatannya. Judi, minuman keras, prostitusi, kenakalan remaja, narkoba, pencurian, pembunuhan, korupsi, kebijakan yang tidak pro rakyat sehingga kemiskinan, kebodohan, dann lain-lain, merupakan serangkaian kemaksiatan dan kezdaliman yang dilakukan baik oleh individu masyarakat maupun penguasanya. Hal ini terjadi terus menerus padahal Ramadhan datang dan pergi.
 
Akhir 2019 hingga awal 2020 Allah mengirimkan corona pada kita umat manusia sebagai siksaan dan peringatan untuk membungkam kepongahan, kesewenang-wenangan mereka pada sesama, kezdaliman mereka pada sesama  umat Islam dan kesombongan mereka karena tidak mau tunduk pada syariahnya. Allah menunjukkan kekuasaanNya bahwa dengan makhluk yang kecil saja kecanggihan tekhnologi yang dibanggakan suatu Negara, kekuatan dan kekuasaannya tidak mampu melindungi warganya. Jadi tidak selayaknya mereka sombong dan angkuh berjalan di muka bumi ini. Seharusnya ini menyadarkan pada kita bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah SWT.

Saatnya Taubat dan Taat

Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang, seharusnya menyadarkan kita bahwa kemkasiatan dan kedzaliman yang dilakukan manusia, keengganan terikat pada syariahnya mendatangkan ujian dan siksaan dari Allah SWT berupa wabah ini. Untuk itu di 10 hari kedua Ramadhan ini segeralah kita bertaubat, mohon ampun pada Allah atas segala salah dan khilaf. Sudah cukup banyak korban berjatuhan dari orang-orang yang baik ahli maksiat maupun yang  bukan ahli maksiat, para pakar di bidangnya dan yang lainnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita sebagaimana bunyi hadist : 

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ
فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, “Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya.” (HR Ahmad 1596)

Ramadhan adalah bulan takwa. 

Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Baqoroh : 183. Maka hendaknya kita lejitkan semangat kita di bulan ini untuk kembali kepada syariah Allah SWT sebagai wujud ketundukan kita kepada Allah sehingga selepas Ramadhan kita menjadi orang yang bertakwa. Takwalah yang menentukan derajat manusia di sisi Allah. Makin tinggi derajat takwa seseorang maka makin tinggi pula derajatnya di sisi Allah. 

Takwa menurut Imam an-Nawawi dalam syarh shahih Muslim, adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah itulah syariah Islam. 

Dengan demikian, takwa adalah mengamalkan dan menerapkan syariah Islam dalam kehidupan. Baik oleh individu, masyarakat (jamaah), dan Negara. Hanya dengan seperti itulah kita dapat memenuhi perintah Allah untuk menjalankan syariah Allah secara menyeluruh, sebagaimana dalam firmanNya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah : 208)

Pada Ramdhan di tengah pandemi ini, marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT secara bersama-sama, dengan bertaubat, menjalankan seluruh perintah dan menjauhi seluruh laranganNya. Berharap wabah Covid-19 segera diangkat dari bumi ini dan selepas Ramadhan kita meraih derajat muttaqin. Yakinlah bahwa Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan dari bumi apabila kita sebagai individu, masyarakat, dan Negara menjalankan ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana firmanNya : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu.” (TQS al-A’raf : 96)

Terapkan syariahNya niscaya hidup menjadi berkah. 

Allahu a’lam bishawab

banner zoom