Polemik Berdamai dengan COVID-19, Kita Butuh Sikap yang Tegas

Oleh : Sarinah (Aktivis Dakwah Makassar)

Penamabda.com - Pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta untuk berdamai dengan corona menuai kritikan dari berbagai kalangan karena pernyataan ini dinilai sebagai suatu sikap pasrah yang tentunya akan berdampak buruk bagi keselamatan jiwa masyarakat. 

Dilansir dari  merdeka.com, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat Indonesia agar dapat berdamai dengan COVID-19. Namun harus tetap waspada menerapkan pola yang sudah ditetapkan. Melalui  sebuah video yang ditayangkan, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat Indonesia agar dapat berdamai dengan kondisi yang terjadi pada saat ini sampai ditemukannya Vaksin yang efektif.

Pernyataan tersebut lantas  menuai keritikan dari berbagai kalangan, salah satunya yakni pernyataan  mantan Wakil Presiden Jusuf  Kalla yang menilai bahwa sikap tersebut tidak tepat karena Virus ini sangat berbahaya. Tentu hal tersebut sangat disayangkan karena saat ini jumlah penderita COVID-19 terus bertambah sementara kita hanya diminta untuk pasrah mengahadapi Wabah yang terus menggila. Padahal sejak merebaknya wabah ini sudah memakan puluhan hingga ratusan ribu korban jiwa. Jika pemerintah justru meminta untuk berdamai, bukan tidak mungkin kita akan bertaruh nyawa dalam menghadapi wabah yang tidak pasti akan berakhir.

sementara para tenaga medis mulai kewalahan menangani jumlah pasien yang terus bertambah. Munculnya tagar #IndonesiaTerserah sebagai jawaban atas ketidak berdayaan mereka yang selama ini berada di garda terdepan dalam menangani pasien yang terkena Virus COVID-19. Lantas kita harus bagaimana.

Jika kebijakan berdamai dengan Corona adalah solusi dalam menghadapi wabah, maka sudah pasti kita akan hidup dalam hukum rimba dimana yang kuat akan bertahan sementara yang lemah akan menderita. Namun mampukah kita melawan Virus Corona yang sangat mengganas ini ? Jika selama masa PSBB saja jumlah pasien yang tarjangkit mencapai ratusan jiwa apalagi setelah dihilangkannya aturan tersebut.

Kita Butuh Pemimpin yang Tegas

Menghadapi Wabah COVID yang terus mengganas ini maka seharusnya pemerintah bersikap tegas bukan justru membiarkan Wabah ini terus berlarut atau bahkan bersikap pasrah dan membiarkan masyarakat bertaruh nyawa menghadapi wabah yang terus mengganas.

Sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah pada Zamannya, dikala itu ada suatu penyakit menular dan mematikan yakni penyakit kusta. Nabi memerintahkan untuk menjauh atau melarang melihat orang yang mengalami lepra. "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR Bukhori) Hadist ini hasan (tidak berisi informasi yang bohong) dan sesuai penelitian memang bakteri penyebab kusta yang ternyata mudah menular antar manusia.

Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan umatnya jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Nabi bersabda, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Sikap menghadapi wabah dengan baik juga diterapkan oleh khalifah-khalifah penerus Rasulullah Saw. Seperti yang dilakukan Umar Bin Khattab. Ketika Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam.

Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori). Dalam hadist yang juga diceritakan Abdullah bin Abbas dan diriwayatkan Imam Malik bin Anas, keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar.

Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.
 
Itulah beberapa contoh atau tindakan yang diambil oleh para sahabat yang dicontoh dari sikap Nabi Muhammd SAW  dalam menghadapi wabah penyakit yang sangat mengganas pada masanya. Sehingga kita harus terus berikhtiar dalam menghadapi wabah ini sampai Tuhan berkehendak untuk mengangkatnya. 

Wallahu a’lam.
banner zoom