Perut Berontak, Facebook Bertindak

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Muslimah Penulis Peduli) 

Penamabda.com - Baru saja membaca berita di grup PKK RT ada pencurian sepeda motor dan sepeda BMX di RT 10, artinya di perumahan saya sudah tak aman. Sejak penetapan PSBB berikut kebijakan pelepasan napi dengan program asimilasi suasana semakin mencekam. Jumlah pengangguran bertambah banyak begitu juga tindak kriminal. 

Sungguh rakyat tak hanya menderita karena ancaman Covid-19 namun taraf hidup yang menurun drastis. Perut lapar dimana-mana sebab kehilangan mata pencaharian dan minimnya jaminan kebutuhan pokok dari negara. 

Sebagainya berita baru-batu ini, ada warga Desa Semambung , Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Bernama Titin Sumiarsih, sejak pemerintah daerah Sidoarjo memberikan bantuan sosial (Bansos) berupa sembako  Ia yang bersuamikan kuli bangunan sama sekali tak mendapat bantuan. Malah tetangganya yang lebih berada justru mendapat bantuan (detikNews.com,7/5/2020).

Titin pun kemudian memberanikan diri menanyakan ke perangkat desa. Namun usahanya tetap gagal karena data warga yang mendapatkan bansos di Desa Semambung mengacu pada data lama. Bahkan warga yang mendapat bansos tersebut saat ini dinilai sudah mapan ekonominya. Artinya bansos terbukti sudah tak tepat sasaran.

Alhamdulillahnya, kewarasan akal Titin masih terjaga, ia tak bertindak brutal kemudian mendatangi " orang pintar" namun justru curhat, menumpahkan kekesalannya di media sosial facebook. Dia mengambil video dirinya sendiri di dapur rumahnya.  Dalam video itu dia curhat tak mendapat bantuan. Video itu lalu diunggahnya di facebook miliknya. Akhirnya curhatan Titin di facebook viral.
Curhatannya viral di dunia Maya, hingga membuat perangkat desa berang dan mengintimidasi. Sempat ada rasa khawatir akan nasibnya,namun bantuan datang dari Polres Jabon yang membawakannya sembako. Sungguh ironi, untuk minta haknya saja rakyat harus benar-benar mengemis. Tidak takutkah para pemimpin negeri ini jika azab datang menimpa semua karena ketidakadilan ini?

Sekulerisme jelas telah mengakar dalam benak para pemimpin baik di level teratas hingga ke bawah, empatinya mati seakan mereka tak kenal Allah.  Amanah yang ada dipundak mereka seakan hanya jadi wasilah memenuhi perut mereka bukan hak rakyat.  Bansos diseleksi, disunat bahkan dipolitisasi. 

Sangat jauh dibanding dengan pengaturan dalam Islam. Dengan pos-pos yang ada dalam Baitul Maal, negara siap dan kuat secara finansial dalam membiayai seluruh operasional negara yaitu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya. Baik kaya ataupun miskin. Jika itu gratis maka rakyat tak boleh membayar sepeserpun. 

Madinah pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab pernah mengalami bencana alam dan kelaparan, bagaimana teladan Umat? Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ''Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,'' begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.

Kali lain, Umar bin Khathab pernah berkata, ''Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.'' Sampai seorang sahabat pernah berkata, bila Allah tak segera mengakhiri bencana itu, maka Ali adalah orang pertama yang mati kelaparan. 

Sudah semestinya kita memiliki pemimpin yang peka akan penderitaan rakyat, tidak menunggu viral di media sosial lebih dahulu. Dan itu hanya lahir dari sebuah ketakwaan orang mukmin dalam sebuah sistem yang shahih, yaitu Islam. 

Wallahu a'lam bish showab. 
banner zoom