Konser Di Tengah Wabah Corona, Bukti "Sakitnya" Rezim Kapitalis?


Oleh : Ummu Farras (Aktivis Muslimah)

Penamabda.com - Sungguh diluar akal sehat. Pada minggu malam (17/5), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), MPR, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyelenggarakan konser amal corona. Sontak saja hal ini menuai kritik dan polemik di tengah tengah masyarakat. Bagaimana tidak, konser ini dilakukan di tengah wabah covid-19, dan di hari-hari khusyu' bulan Ramadan. Disaat rakyat sedang terus berjuang untuk melawan pandemi dengan #dirumahaja, dan di saat umat muslim yang merupakan mayoritas rakyat negeri ini sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci, pemerintah yang katanya berideologi Pancasila, dan paling pancasilais ini malah berdesakan campur baur dan bersuka cita dalam riuhnya konser amal bertabur biduan. Parahnya, hal ini pun dilakukan tanpa mengindahkan aturan social dan physical distancing yang merupakan kebijakannya sendiri.

Sungguh sangat ironis. Di selenggarakannya konser ini tentu amat menyakiti hati rakyat. Sedari awal, pemerintah meminta rakyat untuk dirumah aja, tanpa memikirkan kebutuhan perut rakyatnya. Padahal kebanyakan rakyatnya tak bisa memenuhi kebutuhan perut, jika tetap dirumah aja. Konser corona ini pun betul-betul menciderai hati para tenaga medis yang hingga saat ini masih terus berjuang di garda terdepan dalam memerangi wabah Covid-19.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo pun mengakui, karena terlalu senang, mereka tidak mematuhi jaga jarak fisik pada saat konser di tengah pandemi. Maka, setelah konser terselenggara, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet meminta maaf kepada masyarakat terkait pelaksanaan konser galang dana yang digelar Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) tidak mematuhi sosial distancing atau jaga jarak fisik di tengah pandemi Covid-19. (okezone.com)

Yang patut dipertanyakan adalah, kemana selama ini perginya BPIP? Sedari awal wabah mendera negeri, tak pernah muncul untuk berpartisipasi dalam penanganan wabah. Sekalinya muncul, dengan solusi yang tak masuk akal, yaitu konser amal corona di tengah wabah. Apakah konser ini sesuai dengan nilai Pancasila?

Padahal jika ditelaah dengan akal sehat dan hati nurani, konser ini dari awal sila pertama pun sudah tak sesuai. Apakah Allah Ta’ala Ridho, dengan terselenggaranya konser yang mengumbar aurat, saling campur baur, dan bersenang senang di atas kesusahan rakyatnya? Tentu Allah SWT tidak akan meridhoiNya.

Jika niatnya adalah acara amal, untuk menggalang dana bagi penanganan wabah Covid-19, mengapa harus lewat acara yang melanggar aturan? Alangkah lebih baik, jika sedari awal dana penanganan wabah diambil dari anggaran negara yang sebenarnya bisa dialihkan. Seperti gaji para pejabat yang puluhan bahkan ratusan juta, tunjangan tunjangan pejabat, dan juga dari Sumber Daya Alam negeri ini yang sangat banyak. Tentu seharusnya bisa dimanfaatkan demi kemaslahatan rakyat.

Namun sayang, solusi yang jelas dan nyata ini tidak akan mudah diambil oleh rezim kapitalis. Jangankan memotong gaji pribadi untuk kemaslahatan rakyat, Sumber Daya Alam negeri ini pun telah habis dibabat asing dan aseng. Sudah watak rezim kapitalis, tak peduli terhadap kemaslahatan rakyat sendiri. Kehidupan rakyat tak menjadi prioritas. Yang menjadi prioritas utama mereka adalah kepentingan pribadi dan segelintir elite, serta kepentingan para cukong penguasa dan pengusaha. Inilah bukti nyata bahwa negeri ini tak baik-baik saja. Negeri ini sedang sakit, karena diatur dengan hukum yang dibuat oleh manusia atas dasar hawa nafsunya. Negeri ini sedang sakit, karena di pimpin oleh para penguasa yang tak mampu sedikitpun meriayah rakyat dan bukan sosok seorang negarawan.

Sangat berbeda sekali dengan sosok pemimpin di dalam Islam. Seorang pemimpin (Khalifah) adalah sebagai Raa'in dan Junnah yang bertanggung jawab penuh terhadap pengurusan rakyatnya. Di tengah situasi pendemi seperti saat ini, tentu seorang Khalifah tak akan berpikir untung rugi untuk mengeluarkan dana negara bagi kemaslahatan rakyat. Sumber daya alam negeri sepenuhnya bagi kemaslahatan rakyat. Islam melarang hajat publik dikomersialisasi apalagi diserahkan pada swasta dan asing. Islam memerintahkan kepada negara untuk mengelola sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum untuk digunakan bagi kemaslahatan rakyat. Maka, tidak akan ada rakyat yang kelaparan di tengah pandemi.

Sungguh, semakin rindu pada tegaknya syariat Islam dalam naungan Khilafah. Semakin rindu dengan sosok pemimpin yang mengutamakan kepentingan dan kemaslahatan rakyat. Semoga rezim kapitalis yang sakit ini segera berlalu, dan berganti dengan kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu'alam bisshowwab


banner zoom