Atasi Wabah Dengan Islam

Oleh : Dina Eva (Aktivis Muslimah) 

Penamabda.com - Angin segar datang dari Kabupaten Tabalong yang  dalam seminggu kedepan diprediksi oleh Bupati Anang akan menjadi Kabupaten pertama di Kalimantan Selatan yang nol Covid-19 atau Zona Hijau, baik itu yang positif, Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pemantauan(PDP), dan sebagainya.

Hal itu disampaikan dalam sambutan penyerahan bantuan 1000 masker oleh Bank Kalsel Cabang Tanjung di halaman kantor Pemkab Tabalong Selasa tadi. “Insya Allah dalam seminggu kedepan Tabalong akan menjadi kabupaten pertama di Kalimantan Selatan yang nol Covid-19,” katanya. Diungkapnya, setelah Tabalong sudah nol covid-19 maka akan memasuki fase ketiga pada tahap penanganan covid-19.

Pada fase ketiga ini kita butuh banyak masker untuk masyarakat tabalong karena seluruhnya harus mencegah dengan memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Kita akan himbau itu,” tegas Anang. Dia juga mengajak kepada pihak ketiga seperti perusahaan, perbankan dan lain – lain agar bisa saling support pada masa fase ketiga ini. “Kita juga akan perketat orang yang keluar masuk Tabalong,  pos pantau yang sebelumnya hanya ada di 4 titik maka kita akan tambah di kambitin dan di Pulau Ku’u,” tambah Bupati Tabalong.

Dikesempatan lain, Bupati Anang juga memastikan difase ketiga nanti, disebutnya bakal kembali meramaikan mesjid juga mushalla, baik dalam shalat jum’at, tarawih, shalat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya. “Fase ketiga nanti saya pastikan sudah tidak ada lagi shalat dirumah, tapi di mesjid dan mushalla, khususnya pada shalat jum’at, tapi dengan syarat pakai masker dan kita perketat perbatasan,” imbuhnya.

Terbebas dari wabah merupakan kehidupan yang sangat diidamkan masyarakat saat ini, pasalnya berbulan-bulan telah mereka lalui kehidupan mereka penuh dengan rasa kekhawatiran dan kecemasan. Namun, sedini mungkin mengumumkan zona hijau pada suatu wilayah juga hal yang terlalu gegabah, mengingat masyarakat belum sepenuhnya bisa dikontrol untuk memenuhi anjuran-anjuran yang disampaikan pemerintah. 

Terlebih beberapa waktu yang lalu pemerintah mulai melonggarkan PSBB yang sebelumnya diberlakukan, walhasil banyak dari masyarakat yang keluar rumah untuk mudik, berkerumun di pasar menjadi tak terkendali lagi.

Dalam kondisi negara yang menerapkan sistem sekuler kapitalis, adanya pernyataan zona hijau dari pejabat negara tetap harus membuat kita waspada, karena sejak awal adanya data pasien positif Covid-19 kebijakan yang dibuat tak serius menangani. TKA masih dibiarkan masuk, kebijakan pemerintah daerah yang tak sejalan dengan pemerintah pusat, sulitnya pemberlakuan lockdown dan sebagainya menjadi bukti bahwa sistem sekuler Kapitalis hanya melahirkan para pemimpin yang tidak totalitas bekerja untuk rakyat.

Berbeda dengan sistem Islam, dimana sistem Islam akan melahirkan para pemimpin yang loyalitas untuk mengurus hajat hidup rakyatanya. Terlebih dalam hal melindungi jiwa rakyat, lihat saja bagaimana seorang khalifah Umar bin Khattab dalam menangani wabah yang melanda sebagian wilayah kekhilafahan, Untuk menangani wabah penyakit yang terjadi di negeri Damaskus, Umar menempuh langkah-langkah strategis. 

Pertama, memerintahkan gubernur Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk mengisolasi rakyatnya.

Kedua, mengurungkan perjalanannya menuju Damaskus. Pembatalan itu terjadi saat Umar bersama rombongan sudah sampai di Sargha, sebuah desa di wilayah Tabuk, setelah adanya kabar pandemi virus ‘Amawas di wilayah Damaskus.
Keputusan itu diambil setelah melalui musyarah yang cukup alot dengan para sahabat yang lain, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kemudian, Abd al-Rahman bin Auf menyampaikan pesan Nabi: “Jika kalian mendengar adanya wabah di suatu negeri maka janganlah kalian memasukinya. Namun, jika terjadi wabah di tempat kalian berada maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Umar memilih untuk menghindari wabah penyakit mematikan. Ia menjauhi satu tadir (terjangkit wabah) menuju takdir yang lain (selamat dari wabah). Abu Ubaidah bin al-Jarrah (58 tahun), Muadz bin Jabal (38 tahun) lebih memilih takdir yang pertama, hingga mereka rela mati syahid menghadapi wabah penyakit tersebut. Selain mereka, sahabat Nabi yang meninggal karena pandemi ‘Awamas tersebut adalah Abdurrahman bin Muaz, Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, dan Suhail bin ‘Amr.

Sementara sahabat dekat Nabi yang memilih takdir kedua (menghindar dari wabah), selain Umar, adalah Abdurrahman bin Auf. Saat Abdurrahman mengambil alih kepemimpinan negeri Damaskus, ia mengajak masyarakat untuk menghindari wabah. Bersama Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Abdurrahman bin Auf adalah tiga sahabat pemuka Nabi yang mendapatkan jaminan masuk surga.

Para ahli sejarah mencatat, korban meninggal karena wabah penyakit ‘Awamas mencapai 25 ribu orang. ‘Awamas adalah wabah penyakit pertama yang terjadi di dunia Islam pasca wafatnya Nabi, walaupun di zaman Nabi pernah terjadi wabah penyakit serupa namun tidak menyerang umat Islam, yakni pada tahun keenam Hijrah.

Demikian beberapa hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam Islam, serius menangani wabah, memberlakukan kebijakan yang bijaksana sehingga rakyat merasa nyaman memiliki pemimpin yang mampu mengayomi mereka. 

banner zoom