KETAKWAAN; Status Tertinggi Manusia

Oleh : Aya Ummu Najwa

Penamabda.com - Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Tak ada keraguan lagi bahwa ketakwaan adalah status tertinggi seorang hamba di hadapan Allah. Bukan kekayaan, status sosial, warna kulit, suku, bangsa, dan sebagainya.

Imam ath-Thabari rahimahulLâh dalam tafsirnya mengatakan, “Sungguh yang paling mulia, wahai manusia, di sisi Tuhan kalian, adalah yang bertakwa, yakni yang menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi kemaksiatan; bukan yang paling mewah rumahnya dan paling banyak keturunannya.”(Tafsîr ath-Thabari, 7/86).

Takwa oleh sebagian sahabat didefinisikan sebagai berikut:

الخوف من الجليل 
Takut kepada Allah Yang Mahaagung, 

والعمل بالتنزيل 
mengamalkan al-Quran, 

والقناعة بالقليل 
merasa puas dengan yang sedikit 

والإستعداد ليوم الرحيل
dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi Hari Penggiringan (Hari Akhir).

Sayangnya, hari ini sekularisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan) telah menyimpangkan makna takwa yang hakiki. Sekularisme menempatkan takwa sekadar ketaatan dalam urusan ibadah dan akhlak semata. Tidak sedikit orang yang khusyuk dalam ibadah dan berperilaku baik pada sesama. Namun, mereka mengabaikan banyak perintah dan larangan Allah yang lain. Padahal Allah Subhanahu Wa ta'ala telah menjadikan Islam sebagai risalah paripurna, mengatur semua aspek kehidupan. 

Ketidakpekaan umat atas perintah-perintah Allah tersebut karena menerapkan paham sekularisme terhadap ajaran Islam. Padahal Islam adalah sistem kehidupan yang luas. Islam mengatur hubungan manusia dengan Al-Khâliq, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, juga hubungan manusia dengan sesamanya. 

Penjajahan atas Dunia Islam telah menjadikan ajaran Islam mengalami sekularisasi. Umat dijauhkan dari risalah Islam yang hakiki. Akidah Islam dijadikan hanya sebatas membahas masalah keakhiratan. Tidak menjadi asas dalam kehidupan dunia. Syariahnya hanya dibatasi dalam masalah ibadah ritual dan akhlak. Tidak dipakai untuk mengatur bidang sosial, ekonomi, politik dan negara.

Distorsi makna takwa ini membuat kehati-hatian dalam beramal karena rasa takut pada Allah semakin memudar. Praktik riba merajalela. Kecurangan bisnis terus terjadi. Perzinaan dan liwath menjadi-jadi. Kezaliman dan kebohongan dalam politik dan pemerintahan tak kunjung henti. 

Bahkan sebagian Muslim juga mengkriminalisasi ajaran agama dan orang-orang yang memperjuangkan Islam. Muslim yang berusaha menjalankan agama dan menyerukan pelaksanaan agama disebut sebagai kaum radikal. Mereka dipersekusi. Sementara itu syariah Islam dan Khilafah yang telah dibahas kewajiban hukumnya dipandang sebagai ancaman bagi umat manusia.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meraih dan memelihara ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala antara lain: 
Pertama, menjadikan akidah Islam bukan sekadar akidah ruhiyyah, tetapi juga akidah siyasiyah, yakni asas dalam kehidupan dunia. Dengan itu semua urusan dunia maupun akhirat selalu dilandasi oleh dorongan keimanan kepada Allah. 

Kedua, senantiasa menjadikan Islam sebagai standar untuk menilai perbuatan terpuji-tercela dan baik-buruk. Pertimbangan dalam beramal hanyalah halal dan haram, bukan manfaat atau madarat; bukan pula ridha atau benci manusia. Yang ia cari semata-mata adalah keridhaan Ilahi sekalipun orang-orang mencaci dirinya. 

Ketiga, bersabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah sebagaimana para nabi dan rasul, juga orang-orang salih dalam menjalankan perintah dan larangan Allah.

Keempat, berdakwah mengajak umat untuk sama-sama meniti jalan ketakwaan dan menghilangkan kemungkaran. Ia takut bila berdiam diri justru akan mendatangkan bencana dari Allah Subhanahu Wa ta'ala

وَٱتَّقُواْ فِتۡنَةٗ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمۡ خَآصَّةٗۖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.-Surat Al-Anfal, Ayat 25

Kelima, segera memohon ampunan kepada Allah dan kembali pada ketaatan manakala telah melakukan kemungkaran.

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.-Surat Ali 'Imran, Ayat 135

Keenam, menumbuhkan kerinduan pada ridha Allah dan surga-Nya. Dengan begitu ia tak akan tergoda untuk menggadaikan agama demi mendapatkan sekeping dunia yang remeh.

Sungguh ketaqwaan adalah syarat utama meraih syurga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

(۞ وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِینَ)

Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (TQS Ali Imran:133)

Wallahu a'lam
banner zoom