Jangan Ada Pencitraan Di Antara Kita

Oleh : Novianti (Praktisi Pendidikan) 

Penamabda.com - Pencitraan adalah gambaran yang ingin diciptakan  mengenai pribadi  seseorang atau lembaga, organisasi atau produk.  Biasanya tindakan ini dilakukan secara sistematis dan terencana karena memiliki tujuan tertentu. Yaitu membentuk persepsi dalam masyarakat agar berperilaku sesuai pelaku pencitraan. 

Pada masa pemilihan presiden, kepala daerah, anggota dewan,  upaya-upaya pencitraan ini demikian kental. Masing-masing  ingin terlihat baik sebagai sosok  terpercaya agar dipilih masyarakat.  Bahkan seringkali  caranya tidak peduli halal dan haram.  Memanipulasi yang tersembunyi dari publik, menggiring pada opini menyesatkan.

Dan ini terus berlanjut hingga kondisi sekarang.  Di tengah-tengah penderitaan akibat pandemi corona, rakyat yang sudah membutuhkan bantuan malah  dipertontonkan oleh parade pencitraan. 

Bantuan sosial (bansos) pemerintah pusat dalam menangani pandemi Corona atau COVID-19 terlambat diterima warga karena kemasan atau kantong bertuliskan “Bantuan Presiden" habis.

Untuk memperoleh  bantuan, rakyat harus melakukan drama mengejar paket sembako dari mobil dengan sorotan kamera.

Media susul menyusul mempertontonkan dagelan.  Aksi blusukan pada malam hari di perkampungan Sempur, Bogor, dicitrakan seolah Umar Al Faruq hadir di dunia nyata.

Penguasa sibuk  memoles dirinya dibandingkan keseriusan menyelesaikan berbagai masalah dampak corona.  Kebijakan yang dikeluarkan justru membuat rakyat tambah sengsara dan menimbulkan masalah baru.

Empat proyek jaring pengaman sosial yang terdiri dari program keluarga harapan, program kartu sembako, program kartu prakerja, dan subsidi listrik belum banyak  membantu.

(BLT) yang diklaim bisa menambah penerima manfaat, nyatanya belum mampu mengangkat rakyat dari keterpurukan. Persyaratan administrasi,  kacaunya data penerima bantuan, membuat tak sedikit pejabat di bawah seperti lurah, ketua RW dan RT khawatir akan ada amukan warga akibat jumlah bantuan yang terbatas dan tidak merata.

Rakyat yang sudah kelaparan hanya dijanjikan angin surga yang entah kapan bantuan bisa datang dengan mudah dan cepat.

Terlihat jelas bagaimana kepemimpinan  sistem sekuler kapitalis memperlakukan rakyatnya.  Kemiskinan, keterpurukan rakyat justru dimanfaatkan sebagai obyek pencitraan.  Padahal kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Mengapa pencitraan terus dilakukan?  Karena sejatinya melayani rakyat sebatas slogan. Kekuasaan hanya alat menumpuk kekayaan para penguasa dan kroni-kroninya.

Para kapital tak ketinggalan mengambil kesempatan.  Kongkalingkong dalam proyek pengadaan kartu prak kerja senilai Rp. 5.9 trilliun sungguh mencengangkan.  Program yang seharusnya ditujukan untuk membantu para korban PHK menjadi bagi-bagi kue di kalangan lingkar istana. Pembahasan RUU Cilaka yang  ditengarai hanya menguntungkan pihak pemodal sengaja dibahas di masa pandemi untuk menghindari pengawasan masyarakat yang sedang sibuk melawan corona.  Belum lagi penambahan hutang baru sebesar  Rp. 1440 triliun untuk mendanai defisit anggaran.

Kebutuhan pembiayaan utang  digunakan untuk membiayai defisit APBN senilai Rp 853 triliun, investasi termasuk program pemulihan ekonomi nasional Rp154 triliun, dan utang jatuh tempo sebesar Rp433 triliun.

Terlihat bahwa ekonomi negara kita menggunakan cara gali lubang tutup lobang.  Ini akibat tata kelola negara yang tidak  becus. Dan hutang akan terus menerus menjadi beban turun temurun.

Wajah buruk negara inilah yang harus ditutupi sehingga baik presidan dan para pejabatnya terus berokestra membuat pencitraan.  Namun lagunya sudah tidak lagi enak didengar. Rakyat membutuhkan penyelesaian real sebagai pembuktian para penguasa bekerja untuk rakyat.

Kepemimpinan Islam Tanpa Pencitraan

Madinah adalah kota yang menjafi titik penerapan Syariat Islam.  Disini Rasulullah tidak hanya sebagai pemimpin agama tapi juga pemimpin negara.

Rasulullah mengatur masyarakat di Madinah dengan  Syariat Islam meski tidak semua penduduknya muslim.  Beliau menciptakan keamanan dan stabilitas dalam Madinah. Sebagai negara baru di tengah dua adigdaya saat itu, Romawi dan Persia, tentu sangat dibutuhkan kerja keras dengan menghimpun segenap potensi manusia yang ikhlas untuk membawa misi kebangkitan dan perbaikan manusia.

Rasulullah tidak segan berada di tengah-tengah umat untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan ikut menanggung derita seperti yang dirasakan kaum muslimin saat itu.  Muslim dan non muslim diperlakukan sama sebagai warga.

Rasulullah  bekerja memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, keamanan agar tercipta rasa keadilan.

Rasulullah bersabda:
"Siapa saja di antara kalian yang bangun pagi dalam keadaan diri dan keluarganya aman, fisiknya sehat dan ia mempunyai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia mendapatkan dunia." (HR at-Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan sebagai kepala negara, berusaha memenuhi  kebutuhan rakyatnya.

Kesehatan disediakan secara gratis didasarkan pada peristiwa pengobatan Ubay oleh dokter yang dikirim Rasulullah.  Ketika Nabi saw. mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa serombongan orang dari Kabilah ‘Urainah masuk Islam. Mereka lalu jatuh sakit di Madinah. Rasulullah saw. selaku kepala negara  meminta mereka untuk tinggal di penggembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Mereka diperbolehkan minum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim).

Demikian pula dalam penyediaan lapangan kerja. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah menyatakan, “Banyak orang dikalangan kami yang mempunyai kelebihan tanah, yang mereka sewakan kepada orang lain dengan bagi hasil per sepertiga dan per seperempat. Lalu Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang mempunyai kelebihan tanah maka hendaklah ditanami, atau menyerahkan kepada saudaranya untuk menanaminya. Jika dia menolak maka tahanlah dia.” (H.R. Ibnu Majah).

Rasulullah sebagai kepala negara melindungi rakyatnya tanpa pencitraan. Kehidupan sederhana adalah keseharian beliau bersama keluarganya. Beliau tidur di atas tikar yang membuat bekas pada kulit beliau di bagian sisi. Untuk pernikahan putrinya  Fathimah, beliau hanya menyiapkan gandum yang telah digiling, kulit binatang yang telah disamak, cerek dan sebiji pinggan.

Beliau tidak menyembunyikan apapun dari rakyatnya. Rumah beliau sangat sederhana. Jauh dari kesan seorang kepala negara.

Gaya  kepemimpinan tanpa pencitraan  ini diikuti oleh para khalifah sesudahnya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab. 

Di masanya, wilayah Islam mengalami perluasan yang sangat pesat. Namun Umar hidup sangat bersahaja. Beliau sangat peka terhadap kehidupan rakyatnya.

Kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. Ia berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Saat tiba pada pemandangan seorang ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan lalu memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya bagi mereka. Umar tidak perlu memberikan stempel khalifah pada  yang diberikan bahkan keluarga tersebut tidak menyadari saat itu seorang pemimpin negara sedang menghidangkan makanan. Bagi Umar, yang beliau lakukan adalah pelaksanaan kewajiban.

Ketika pernah pada masa kelaparan mencapai puncaknya  Umar  disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan itu. “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar. “Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya.

Mendengar kata-kata sang badui, Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”

Demikianlah kepemimpinan dalam Islam.  Kepemimpinan yang tak perlu pencitraan karena apa yang diucapkan terbukti  dalam tindakan.  Rakyat menyaksikan keteladanan seorang pemimpin dalam kesungguhan melayani rakyatnya.  Pelayanan yang dilandaskan pada iman bukan untuk mencari pujian.

Karena itulah mengapa setelah Rasulullah wafat, antara  Abu Bakar dan Umar merasa berat menggantikan kepemimpinan negara.  Itu amanah besar dengan pertangungjawaban yang berat.  Saat Abu Bakar dibaiat, beliau berpidato yang menyiratkan rasa takut yang mendalam.

“(Amma ba’du), kemudian saudara-saudaraku, saya sudah terpilih memimpin kalian. Dan saya  bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau saya salah, maka luruskanlah saya,”

“Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kalian adalah kuat di mata saya. Sesudah nanti haknya nanti saya berikan kepadanya—insya Allah—dan orang yang kuat, buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil—insya Allah,”.

Berikutnya, beliau kembali melanjutkan: “Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana pada mereka,”.

Dan Abu Bakar berpesan ,“Taatilah saya selama saya taat kepada Allah SWT dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar perintah Allah dan Rasulullah, maka gugurkanlah kesetianmu kepada saya. Laksanakanlah shalat kamu sekalian, semoga Allah memberi rahmat kepada kita semua." 

Suatu pidato dari seorang pemimpin dengan kesadaran mendalam bahwa pengurusan atas jiwa rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban. Cukuplah penilaian Allah atas semua pelayanan yang dilakukan. Tak ada urusan dengan pencitraan karena eksistensi jabatan bukan mencari penilaian manusia apalagi meraup keuntungan.

Sungguh, saat ini umat membutuhkan sosok kepemimpinan yang menempatkan kebahagiaan rakyat sebagai prioritas dan memuliakan Allah  dalam  kehidupan.

Wallahu'alam


banner zoom