-->

Dibalik Pesan "Takwa"

Oleh: Dhiyaul Haq (Pengajar Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Penamabda.com - Gema takbir berkumandang seantero dunia suatu lambang kemenangan kaum muslimin menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Kaum muslimin sudah usai melakukan perjuangan di Bulan Ramadhan dengan melakukan ibadah sebulan penuh berpuasa. Lebaran di tahun ini memang jauh berbeda karena sebagian masyarakat pun banyak yang harus merelakan dirinya tidak mudik demi mencegah penyebaran Covid-19. Sehingga silaturrahim hanya dilakukan secara virtual melepas rasa rindu dan melontarkan kata maaf dari kejauhan. Bahkan lebih dari itu shalat pun banyak yang dilakukan secara individu dan jamaah bersama keluarga di rumah masing-masing. 

Di hari raya yang istimewa Presiden RI, Jokowi menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia. Jokowi mengungkapkan perayaan Idul Fitri tahun ini harus dirayakan dengan cara berbeda karena Indonesia sedang menghadapi pandemi virus corona. Sehingga, tradisi Lebaran seperti mudik dan bersilaturahmi tak bisa dilakukan dengan cara biasanya. (kumparan.com)

Wakil presiden RI Ma’ruf Amin juga menyampaikan pesan kepada masyarakat. Ma’ruf Amin menyampaikan "Idul Fitri kali ini kita rayakan dalam suasana pandemi. Oleh karena itu, marilah kita rayakan dengan tetap memegang aturan-aturan kesehatan, dan marilah kita perkuat iman dan ketakwaan kita,"

Dengan memperkuat iman dan ketakwaan, kata Ma'ruf Amin, niscaya keberkahan akan diperoleh masyarakat beriman, khususnya menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. (nasional.tempo.co)

Membahas tentang keimanan, Allah Swt. menjelaskan dalam al-quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 208).

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang beriman adalah orang yang mengikuti kepada semua aturan Allah. Adapun kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah sangat jauh dari syariah Allah dalam menghadapi wabah. Sebaliknya kebijakan dalam menyelesaikan wabah ini membebek pada kapitalis-sekuler yang kini nampak di hadapan kita tidak menjadi solusi yang solutif.

Seharusnya pemerintah merefresh ulang arti kata keimanan dan ketakwaan yang disampaikan kepada masyarakat. Hakikatnya keimanan yang kuat akan mengantarkan  pada jalan ketakwaan. Takwa berasal dari kata waqa yang artinya melindungi. Takwa adalah sikap hati-hati seorang muslim agar terhindar dari sikap yang mendatangkan amarah Allah dengan cara menjalankan seluruh perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya. Dalam al-quran Allah Swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadanya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS. Ali-‘Imron: 102).

Dalam tafsir jalalain ayat tersebut menuntut agar Allah ditaati dan tidak didurhakai, seorang mukmin bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya agar senantiasa mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya.

Sementara al-Ustadz Muhammad Ali ash-Shobuni mengatakan حَقَّ تُقَاتِهِۦ maksudnya adalah menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya. (Shofwatut Tafsir, juz 1 hal. 20).

Jadi wujud ketawaan adalah kesadaran untuk menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dalam semua aspek baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Sayangnya kata takwa saat ini hanya dijadikan sebagai retorika ritual yang berulang-ulang tanpa difahami secara utuh oleh masyarakat dan negara saat ini. Pesan takwa dari pemerintah harusnya dibuktikan dengan mengambil solusi penanganan wabah menurut pandangan Islam dan membuang sistem sekuler-kapitalis yang menjadi rujukan berbangsa dan bernegara. Sudah saatnya kembali pada solusi islam dan diterapkan oleh negara secara menyeluruh.

Wallahu a’lam bi ash-showab