Terampil Sabar dan Syukur

Oleh : Novianti 

Penamabda.com - Dalam media online Kompas.Com, disebutkan oleh Sekjen PBB bahwa tekanan sosial ekonomi akibat pandemi covid-19 telah meningkatkan KDRT pada wanita dan anak-anak perempuan. Para ibu dan anak perempuan dalam ancaman besar pada suatu tempat dimana seharusnya mereka memperoleh rasa aman, yaitu rumah. Negara Perancis, Afrika, Australia sudah melaporkan peningkatan kasus KDRT sejak pandemi.

Bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia, pandemi pun memberikan dampak. Banyak perusahaan mem-PHK karyawannya, driver gojek sepi orderan, ribuan TKI dipulangkan. Mereka semua punya keluarga. Sementara anak-anak harus belajar di rumah 24 jam. Para anggota keluarga bertemu dengan tekanan masing-masing yang bisa menjadi bom waktu kapan saja. Terlebih negara abai terhadap kewajiban melindungi rakyatnya.

Akanlah masa pandemi ini mengoyahkan kekokohan keluarga-keluarga muslim?

Ada nasehat Rasulullah saw: 
Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR Muslim no 2999).

Jadi semua peristiwa dalam kacamata seorang muslim adalah baik. Kondisi apapun menjadi kesempatan untuk meraih pahala.

Ada 2 sikap yang Rasulullah ajarkan dari hadits tersebut: 

Pertama, keterampilan sabar. Nasehat yang bagi sebagian orang terdengar klise karena sudah sering kita dengar. 

Tapi kita harus paham, sabar adalah sikap yang harus dimiliki seorang mukmin. Banyak ayat yang memerintahkan untuk bersikap sabar : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al Baqoroh : 153).

Perintah sabar dalam ayat ini meliputi banyak kondisi. Saat mendapat musibah, dalam meninggalkan kemaksiatan, menjalankan ketaatan pada Allah.

Untuk menjalani itu semua seringkali tidak mudah. Karena itulah di ujung ayat, Allah menyampaikan sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih sabar yaitu : 
1. Gali informasi tentang seseorang atau suatu peristiwa agar bisa lebih sabar saat menghadapinya.

2. Berlatih tersenyum.
Senyum memberikan modal kekuatan bagi kita dalam menjalani aktivitas. Senyum itu perbuatan yang ringan dilakukan. Tapi tidak jarang, anak atau pasangan lebih sering melihat pasangannya berwajah cemberut daripada tersenyum. Mungkin ada yang beralasan, bagaimana mau tersenyum jika banyak masalah.  

Padahal dari sejak bangun hingga tidur, tidak ada bisa merencanakan kapan mau sedih, gembira, senang, kecewa. Semua yang terjadi adalah takdir Allah.

Jadi..suasana harus menyenangkan dulu baru kita tersenyum? Atau tersenyum dulu baru suasananya menyenangkan? 

Jika memilih yang pertama, mulai dari bangun pagi kita sulit tersenyum.

Coba perhatikan. Saat bangun apakah anak-anak mudah dibangunkan untuk sholat, sahur, dimintai bantuan? Umumnya tidak cukup satu kali agar anak melakukannya. Kita bisa terus uring- uringan jika menunggu semua keadaan harus sempurna sesuai keinginan.

Karena jarang tersenyum, semua yang dilihat menjadi masalah.

Tapi coba berpikir sebaliknya, tersenyum karena Allah. Suasana seperti apapun akan terlihat dengan cara berbeda 

Ternyata senyum memberikan modal kekuatan bagi kita dalam menjalani aktivitas. Neurotrasmiter seperti dopamin, endopin dan serotonin semuanya dilepas saat tersenyum. Dan ini akan mengirim pesan ke seluruh tubuh, rasa bahagia. Lebih rileks, menurunkan tekanan darah, jantung lebih sehat, imun lebih kuat, dan memunculkan potensi berfikir kreatif. 

Yang pasti, orang akan lebih senang melihat wajah kita yang tersenyum daripada mengkerut. Wajah terlihat lebih cantik di hadapan pasangan dan anak.

Pantaslah Rasulullah menganjurkan tersenyum dengan mengiming-imingi pahala sedekah.  

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria."

Yang berikutnya adalah belajar terampil  syukur. Menurut bahasa syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut. Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.

Menurut Ibnul Qayyim:
الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah”

Lawan dari syukur adalah kufur nikmat. Cirinya sering mengeluh, semua kondisi yang ada dikeluhkan, keadaan orang lain dikeluhkan. 
Memiliki 1000 alasan dirinya bukan orang yang beruntung.

Riset dari Royal Society for Public Health and Young Health Movement menunjukkan kufur nikmat ini banyak menjangkiti terutama pada kaum milenial sekarang.

Indikasinya adalah muncul sikap minder atau kurang percaya diri akan tubuhnya, harta, kecerdasannya. Dan medsos instagram memberikan pengaruh paling besar munculnya kufur nikmat.

Padahal apa yang dilihat di medsos belum tentu fakta. Ada pasangan yang selalu menunjukkan kemesraan di medsos tiba-tiba bercerai. Seseorang yang terlihat sukses, jadi pecandu narkoba. Jadi rugilah orang yang kufur nikmat karena iri pada kehidupan editan orang lain.

Cara berlatih bersyukur:
1. Menanamkan keyakinan bahwa setiap orang diuji dengan cara masing-masing oleh Allah. Jika Allah mencintai seorang hamba, ia pasti akan mengujinya. Sehingga saat menghadapi peristiwa  tidak disukai, cari hikmahnya. 

Jika belum menemukannya hari ini, mungkin pekan depan atau bulan depan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.  Terus berprasangka baik pada Allah.

2. Menggali kebaikan pada pasangan dan anak. Mereka sama dengan kita bukan orang yang sempurna. Ketika ada hal yang tidak disukai dari mereka, cari 1000 kebaikannya.

3. Membantu orang lain bersyukur yaitu dengan cara memberikan respon positif untuk mengembalikan kesadaran bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.  

"Aku apes sekali hari ini. Bangun kesiangan, ketinggalan kereta, jadinya bayar taxi. Uang keluar lebih banyak deh. Dimarahin bos lagi." 

"Ya Allah. Tapi kamu punya uang untuk membayar taxi? Bos mu tidak memecatmu?" 

Itu contoh respon mengajak orang lain bersyukur. 

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim ; 7)

Semoga bermanfaat dan dipraktekkan dalam keluarga. Hal-hal kecil tapi bisa mengokohkan. 

banner zoom