Zalim! Harga Minyak Dunia Terjun, BBM Tetap Mahal.

Oleh : Susmiyati, M.Pd

Penamabda.com - Pandemi Covid-19 telah menguras energi dan perhatian dunia. Kehadiran makhluk berukuran nano meter ini telah memporak-porandakan urusan seluruh negara di dunia. Sampai-sampai harga minyak dunia pun ikut terusik. Harga minyak mentah dunia terus turun tajam.  Besarnya bervariasi bergantung jenisnya.

Minyak mentah jenis Brent turun 6 persen ke level $ 23,03 per barel. Ini merupakan angka terendah sejak 2002. Sementara  minyak West Texas Intermediate (WTI) juga turun 6 persen ke level $ 19,92 per barel. 

Menurut analis dari Rystad Energi, harga minyak dunia bisa saja jatuh ke level $ 10 per barel. Penyebabnya adalah karena dunia kehabisan tempat untuk menampung minyak tersebut. Apalagi kondisi pandemi Corona yang tak kunjung selesai. Hal ini membuat minyak dunia tidak digunakan karena industri berhenti beroperasi. Terpaksa minyak mengendap untuk sementara waktu.(www.liputan6.com/bisnis/read/4214692).  
Mengutip Reuters, Jumat (10/4/2020) harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, anjlok 1,36 dolar AS atau 4,1 persen, menjadi 31,48 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 2,33 dolar AS atau 9,3 persen menjadi 22,76 per barel dolar AS.(www.suara.com,10/4/2020).

Pandemi Covid-19 memang telah mengoncang semua sendi kehidupan, hingga menyentuh harga minyak. Real harga minyak dunia anjlok. Lantas bagaimana dengan harga minyak di dalam negeri?

Rupanya rakyat tak ada gunanya untuk berharap. Pasalnya, merosotnya harga minyak mentah dunia, tidak secara otomatis berkorelasi dengan turunnya harga BBM. Turun saja tidak, apalagi harga murah. Pasalnya, PT Pertamina mengambil sikap diam, ketika di luar ramai diserukan agar pemerintah segera menurunkan harga BBM.

Pertamina seperti diam ditempat. Korporasi ini belum mau menurunkan harga BBM meskipun harga minyak telah jatuh hingga 60%. Padahal, penurunan harga minyak mentah dunia sudah semestinya menular pada harga BBM di Indonesia, sebagaimana menurut Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini.

Hal yang disayangkan, menurut Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina, Heru Setiawan, perseroan belum berencana untuk menyesuaikan atau menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Alasannya,  dibutuhkan koordinasi serta perhitungan yang akurat, disertai pertimbangan lainnya. Pandangan ini terkesan berbelit dan mencari alasan pembenaran.

Ini merupakan ketidakjujuran pemerintah terhadap wakilnya, yaitu rakyat.  Mereka tidak patuh terhadap peraturan yang mereka buat sendiri saat kondisi tak menguntungkan bisnis mereka. Padahal menurut aturan yang berlaku, harga BBM nonsubsidi ditetapkan setiap bulan, sementara BBM subsidi setiap tiga bulan.

Dasar penentuan harga keekonomian (bisnis) BBM menurut Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, adalah harga minyak mentah selama sebulan terhitung mulai tanggal 25 bulan sebelumnya sampai tanggal 24 bulan berikutnya. Sementara harga minyak mentah dunia telah melorot tinggal sepertiga dari harga patoka APBN sejak bulan Desember 2019.

Ketidakjujuran ini jelas merupakan tindakan kezaliman penguasa kepada rakyatnya. Di satu sisi ketika harga minyak mentah dunia naik, pemerintah dengan segera menaikkan harga BBM dengan alasan mengacu pada harga minyak dunia. Pun menaikkanya secara diam-diam saat tengah malam. Namun, saat minyak dunia anjlok, pemerintah menggunakan seribu alasan untuk menghindar untuk menurunkan harga BBM.

Kebijakan ini sebetulnya telah membuat pelanggaran terhadap aturan yang dibuat  oleh pemerintah sendiri. BBM bersubsidi dari bensin dan solar subsidi pun, pemerintah telah menangguk untung besar dari pengguna. Siapa lagi konsumen dari BBM tersebut kalau bukan rakyat kecil. Sebuah kezaliman yang nyata terjadi atas pemerintah terhadap seluruh rakyat. Utamanya rakyat miskin dan hampir miskin sebagai konsumen.

Zalim! Betapa tidak, di saat sebagian besar rakyatnya mengalami guncangan ekonomi akibat dampak dari Covid-19, ternyata pemerintah tetap tega mengambil untung besar dari bisnis BBM yang sejatinya milik rakyat. Minyak adalah milik rakyat,  karena sebagian besar digali dari perut bumi Indonesia, yang itu termasuk harta kekayaan umum milik rakyat.

Kebijakan buruk ini merupakan buah dari diterapkannya sistem demokrasi kapitalis. Sistem ini telah menjadikan penguasa tidak lebih dari sekadar makelar. Mereka berkelindan dengan kepentingan para pemilik modal dalam mendagangkan hajat hidup publik. Bukannya rakyat yang diperjuangkan kepentingannya, pemerintah malah memilih berselingkuh dengan korporasi. Alasan klasik yang tak bisa ditutupi karena para penguasa menapaki tangga birokrasi kekuasaan atas support dana dari pemilik modal. Para cukong itulah yang membiayai kampanye calon calon penguasa sesuai dengan levelnya.

Sistem ini juga telah melahirkan penguasa zalim tanpa empati sedikit pun kepada rakyatnya. Sistem ini telah menghilangkan fungsi penguasa sebagai penjaga dan pelayan rakyat. Di Indonesia pelaksanaan sistem kapitalis ini diperburuk dengan pemerintah yang tidak taat pada aturan buatan mereka sendiri.

Berbeda jauh dengan sistem yang lahir dari aturan Islam. Dalam pandangan Islam, sumber daya alam yang jumlahnya besar seperti minyak bumi merupakan harta milik umum. Pemerintah sebagai wakil rakyat wajib mengelolanya secara langsung. Haram baginya menyerahkan pengelolannya pada pihak swasta, baik domestik apalagi asing.

Semua hasil pengelolaannya diberikan kepada seluruh rakyat berupa BBM murah dan bahkan gratis. Jika masih tersisa dari hasil pengelolaan tersebut dapat diberikan dalam bentuk pelayanan jasa di bidang kesehatan, pendidikan dan keamanan. Juga bisa untuk pembiayaan kebutuhan pokok publik lainnya secara gratis.

Sistem Islam juga meniscayakan untuk mewujudkan para pemimpin yang baik yang mutaqin. Sebab Islam menjadikan kepemimpinan adalah sebuah amanah. Setiap aspek kepemimpinan yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan dari Allah SWT atas kepemimpinannya.

Dalam sistem Islam pemimpin juga berfungsi sebagai perisai (junnah) dan pelayan rakyat. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Semua konsep ini membentuk pemimpin bertanggung jawab dan jujur serta mencintai rakyatnya. Merekai tidak mungkin melakukan pemenipuan, apalagi menyengsarakan rakyatnya dengan menerapkan aturan yang zalim.

Demikianlah gambaran singkat keunggulan pemimpin dalam Islam. Sudah seharusnya bagi seluruh umat Islam untuk rindu diatur oleh Islam sembari mempelajari hukum-hukumnya dan menyebarkannya. Gambaran lengkap sistem Islam hanya bisa diwujudkan oleh sebuah institusi negara yang disebut dengan Khilafah Islamiyah. 

Wallahu a'lam bishshowab
banner zoom