-->

Ramadhan Di Tengah Corona; Saat Kecongkakan Barat Dipaksa Bertekuk Lutut Terhadap Islam

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si (Koordinator LENTERA)

Eropa dan Amerika, adalah dua kawasan simbol dunia Barat beserta ideologi kapitalismenya. Sejak keruntuhan Khilafah Turki Utsmaniy pada 03 Maret 1924, Barat begitu rakusnya menjajah dunia atas nama uang. Tapi lihatlah di era milenium ini, wabah corona ‘mendadak’ datang sebagai tentara yang begitu gagah membasmi kecongkakan Barat. Padahal ia hanya makhluk prokariotik.

Ya, corona telah meluluhlantakkan kapitalisme tanpa ampun. Barat di ambang resesi ekonomi, yang diikuti pengurangan populasi akibat terserang corona. Lihat saja Italia, Spanyol, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan tak terkecuali Amerika Serikat; nyaris hancur lebur melalui makhluk Allah SWT yang tak kasat mata ini.

Dan benar saja, tangan Allah SWT masih bekerja. Allah selalu punya cara untuk menyampaikan urusan-Nya, dengan cara-Nya. Firman Allah SWT :

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq [65]: 03).

Di tengah pandemi yang menggerogoti, Barat berangsur berubah. Negara-negara kapitalisme-sekular yang pongah itu bertekuk lutut pada Islam.

Di Inggris, Global Village Space melaporkan bahwa untuk pertama kalinya BBC menyiarkan panggilan shalat atau adzan di jaringan siarannya. Saat ini, seluruh masjid di seluruh Inggris tutup sebagai langkah memutus rantai penyebaran Covid-19. Menurut Global Village Space, imam yang berbeda memimpin siaran pukul 5:50 pagi setiap pekan pada hari Jumat dari 14 stasiun radio lokal BBC. Imam-imam tersebut akan membacakan ayat-ayat dari Al-Qur’an dan kutipan hadits Nabi sebelum menyampaikan khutbah dan memimpin para pendengar dalam doa. Program ini berjudul, ‘Islamic Reflections’. BBC sendiri merasa senang melakukan ini dan masyarakat Inggris juga menyambut dengan baik (republika.co.id, 15/04/2020).

Selanjutnya, ada hampir 100 masjid di Jerman dan Belanda melantunkan adzan pada Jumat, sebagai bentuk dukungan kepada umat Islam di tengah pandemi virus corona. Padahal diketahui bahwa di Jerman, suara adzan yang dilantunkan melalui pengeras suara dilarang. Kecuali saat ada acara khusus.

Sementara di Belanda, adzan berkumandang untuk memberikan semangat moral bagi warga muslim dalam menghadapi wabah virus corona. Hal tersebut membuat warganya keluar rumah dan bersuka cita sebagai ungkapan rasa syukurnya. Kumandang takbir juga tidak ada hentinya mereka kumandangkan. “Subhanallah, Allahu Akbar. Suatu yang sangat jarang terjadi,” ungkap mereka.

Belum lagi di Belgia. Saat menghadapi pandemi corona, pemerintah di Belgia pun memperbolehkan masjid setempat untuk mengumandangkan adzan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan moral sesama manusia. Perlu diketahui, kota dengan penduduk muslim paling banyak di Eropa adalah Brussel atau Ibu Kota Belgia. Hal tersebut dibuktikan pada buku yang ditulis oleh Felice Dassetto seorang ahli sosiologi. Dirinya memprediksi pada 2030 Brussel akan menjadi kota yang mayoritas warganya adalah muslim. Saat ini penduduk Brussel yang beragama Islam berjumlah 300 ribu orang. Hal itu juga kemudian berpengaruh terhadap pola kehidupan warga Brussel yang menjurus kepada norma-norma Islam (merdeka.com, 06/04/2020).

Tak hanya itu, di papan-papan reklame yang biasanya dipenuhi pariwara komersial, mendadak diganti dengan ayat Al-Quran dan kutipan hadits Rasulullah ﷺ.

Ini sebagaimana pemandangan yang tak biasa di sebuah halte di depan RS Meander, Amsterdam, Belanda. Sejumlah papan poster berisi ucapan terima kasih yang ditujukan tenaga medis menghiasi halte tersebut. Poster tersebut mengutip ayat Al-Quran. Foto-foto tersebut pun viral. Dalam poster tersebut tertulis: “Whoever saves a life, it is as if he had saved mankid entirely (Quran 5:32) Thank you healthcare workers.” Yang artinya adalah: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (Al Maidah:32)” Terima kasih tenaga medis. Selain dalam versi Bahasa Inggris, ada juga poster dalam Bahasa Belanda (kumparan.com, 05/04/2020).

Pemandangan serupa juga terjadi di Chicago, Amerika Serikat. Sebuah papan reklame besar di salah satu jalan raya tidak jauh dari Bandara Internasional O’Hare, Kota Chicago, Amerika Serikat, memajang anjuran Nabi Muhammad ﷺ tentang bagaimana masyarakat menghadapi wabah pandemi corona menerjang seluruh negara. Pesan Rasulullah ﷺ yang terpasang tersebut memuat tiga perintah, yaitu rutin mencuci tangan, tidak meninggalkan wilayah terjangkit wabah, serta tidak mengunjungi kawasan yang dilanda wabah (republika.co.id, 20/04/2020).

Ma syaa Allah. Ini benar-benar di luar kendali manusia. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum betapa umat Islam selalu menjadi sasaran Islamophobia di Barat. Sosok Rasulullah ﷺ sendiri sudah berkali-kali menjadi korban penghinaan melalui karikatur atas nama seni serta hak asasi dan kebebasan berekspresi. Pun para muslimah ber-niqob di sana. Rasanya tak pernah surut diskriminasi kepada saudara dan saudari muslim kita di negara-negara Barat.

Namun kini, momen corona sungguh tengah memulai era baru. Terkait hal ini, ada pendapat politik Henry Kissinger yang patut kita perhitungkan. Dirinya yang seorang mantan Menteri Luar Negeri AS, berkeyakinan adanya perubahan tata dunia global pasca corona. Faktanya, negara-negara besar di Barat tengah morat-marit dihantam corona.

Artinya, di sini Sang Khaliq sedang memberi kaum muslimin masa untuk berpikir. Maka berpikirlah secara cemerlang. Agar tata dunia baru sebagaimana prediksi Henry Kissinger tadi, adalah momen di mana Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada kita. Yakni menuju era yang dikehendaki oleh Allah SWT, Khilafah ats-tsaniyah. Yang saat ini sudah mulai disambut melalui lantunan panggilan-Nya yang bergema di mana-mana, di negara kafir sekalipun.

Ingat kembali, bahwa Allah pasti melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Tinggal kita sebagai manusia, makhluk-Nya yang berakal, hendak mengubah cara pandang terhadap kehidupan atau tidak. Ini semata agar dapat menyambut pesan Allah dalam urusan-Nya tersebut. Firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ…

“… Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Ar-Ra’du [13]: 11).
[]

Sumber : mediaumat.news