RAKYAT MINIM EDUKASI, WABAH COVID-19 BERBUAH DISKRIMINASI

Oleh : Zahida Arrosyida 

Penamabda.com - Di tengah pandemi virus Covid-19 yang masih terus berkecamuk dan entah kapan akan berakhir, terselip banyak kisah gulana perjuangan tenaga medis mulai dari dokter hingga petugas kebersihan rumah sakit. Mereka yang selalu tampil menjadi pejuang di garda terdepan dalam menyelamatkan jiwa masyarakat, semestinya mendapatkan lencana penghormatan atas  jasanya. Namun ibarat campak bunga dibalas campak tahi, sikap yang ditampakkan oleh masyarakat telah menjadikan rasa takut berlebihan. Akibatnya sebagian masyarakat menunjukkan sikap yang tidak tepat dan over was-was ketika berhadapan dengan pejuang kesehatan itu.

Fenomena warga di beberapa daerah melakukan aksi menolak jenazah pasien positif ataupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19 menunjukkan betapa rasa takut berlebihan telah merebak ditengah masyarakat.

Sebutlah penolakan jenazah di tempat pemakaman umum (TPU) di Makassar dan Gowa, Sulawesi Selatan. Yang berawal dari penolakan warga di sekitar TPU Baki Nipa-nipa, Kelurahan Antang, Manggala, Makassar pada Minggu (29/3/2020). Masih di Manggala, penolakan juga datang dari warga sekitar TPU Pannara pada Selasa (31/3/2020).
Penolakan serupa juga datang dari warga Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah. Warga memblokade jalan masuk desa yang berbatasan dengan Desa Karangtengah sejak dini hari. Menurut penuturan seorang warga, penolakan tersebut lantaran warga resah dengan berita adanya pemakaman warga yang terinfeksi COVID-19.

Yang lebih masygul selain warga menolak pemakaman jenazah Covid-19, bahkan terdapat korban yang meninggal tersebut merupakan tenaga medis yang saat ini melakukan pekerjaannya di garis terdepan di daerah Semarang. (Kompas.com). Di tempat lain kejadian serupa juga dialami oleh para petugas medis, dokter dan perawat di usir dari sebuah Kos di salah daerah di Jakarta Timur. (liputan6.com). Tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain juga akan terjadi hal yang sama jika pemerintah tidak memikirkan langkah serius untuk mencegah hal ini.

Apakah sebabnya kondisi ini bisa terjadi? Kenapa masyarakat seperti  mementingkan diri sendiri tanpa perduli dengan kondisi genting yang melanda negeri. Bahkan himbauan  pemerintah untuk bersama berjuang melawan pandemi  dianggap sebagai angin lalu. Memang tidak bisa sepenuhnya ketidaklurusan ini ditujukan hanya pada masyarakat, karena mereka hanya ingin terhindar dari wabah mematikan. Memang benar  semua itu terjadi karena masyarakat khawatir akan tertular. Jika tertular sudah pasti harus menanggung beban biaya berobat dan belum tentu bisa mendapatkan layanan kesehatan di saat membludaknya pasien yang datang ke rumah sakit. Hal lain yang menyebabkan masyarakat khawatir berlebihan adalah kurangnya informasi akurat dan edukasi yang sampai ke masyarakat. Ditambah lagi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga semakin turun apalagi melihat sepak terjang pemerintah saat ini yang seakan-akan tidak terbuka dengan kondisi yang terjadi.

Pemerintah memang dinilai telah lalai dalam menangani wabah Covid-19. Dilansir dari  CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo digugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu (1/4) karena dinilai lalai dan terlambat dalam menangani wabah virus corona (Covid-19).

Senada dengan ini, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra menilai pemerintahan Presiden Jokowi lalai dan gagap dalam menghadapi virus corona (Covid-19). Kini menurutnya  tinggal masyarakat yang berjuang sendiri-sendiri. Dan dia yakin kegagapan pemerintah terjadi karena masalah kepemimpinan dalam 
pemerintahan. Hal itu berdampak pada ketiadaan skenario yang jelas menangani Corona.

Sejumlah penolakan terhadap jenazah korban Covid-19 ini sungguh mengusik kegetiran nurani kita. Perlakuan warga yang telah menolak pemakaman seakan-akan jenazah itu seseorang yang telah melakukan dosa dan aib besar sehingga harus ditolak untuk dikebumikan di tempat pemakaman pada umumnya.

Dalam pandangan Islam, seorang muslim yang meninggal karena wabah akan diganjar sebagai syahid. Maka semestinyalah  jenazahnya dimuliakan dan dipenuhi hak-haknya. Mulai dari dimandikan, dikafani, disholatkan hingga dimakamkan. Dengan proses penguburan khusus jenazah karena suatu wabah menular. Hal ini dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis, yakni dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafannya. Menurut beberapa penelitian yang sering disampaikan oleh beberapa ahli di media, menjelaskan bahwa virus ikut mati bersama meninggalnya inangnya. Namun untuk kehati-hatian maka bisa dimaklumi jika terdapat ketidaknormalan secara fikih prosedur pemakaman korban Covid, misalnya dibungkus plastik, diletakkan dalam peti dan sebagainya.

Demikian juga dari sisi hukum nasional. Menurut UU Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular, UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, dan Surat Edaran Dirjen P2P Nomor 483 Tahun 2020 Tentang Revisi Ke-2 Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Corona Virus (Covid-19)—secara terang-terangan menyatakan, “Penguburan dapat dilaksanakan di tempat pemakaman umum.” (SOP Pemulasaran Jenazah Covid-19, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta).

Sungguh situasi dan kondisi yang sangat menyedihkan. Mulai dari pasien, keluarga dan tenaga medis mendapat perlakuan diskriminatif dari masyarakat padahal mereka pun tidak menginginkan penyakit menular itu menghampiri dirinya. Beginilah kehidupan dalam kepemimpinan sistem kapitalis sekuler. Negara abai dalam mengatur urusan rakyat. Pemimpin lamban dalam mengambil kebijakan yang akan menyelamatkan jutaan jiwa rakyatnya. Negara juga lalai dalam memberikan pengarahan, informasi akurat dan edukasi yang mencerahkan. Mereka dibiarkan kebingungan dengan  bertebarannya berita hoax, simpang siur dan tidak jelas sumbernya. Hingga masyarakat menyimpulkan sendiri-sendiri sesuai subjektivitas berpikir nya tanpa ada kejelasan pasti sebuah informasi.

Sistem Islam sebagai aturan yang sempurna yang berasal dari Al- Khalik, telah memberikan tanggung jawab kepada negara untuk menanggulangi wabah dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang wabah penyakit.

Islam mewajibkan agar negara mengedukasi, membina dan meningkatkan kehidupan masyarakat dari segi pengetahuan maupun keimanan. Apalagi di saat wabah seperti sekarang yang tengah diberlakukan Physical Distancing dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai wilayah. Sikap takut berlebihan terhadap penularan Corona ini selain butuh pemahaman yang tepat dari aspek medis juga harus dilakukan penyadaran dari aspek spiritualitas. Harus difahamkan bahwa tiap individu memang wajib melakukan ikhtiar untuk menjaga diri dari tertularnya suatu wabah sebagaimana yang diajarkan Syara' dan dunia kesehatan, namun tidak dibenarkan mempunyai rasa ketakutan yang berlebih terhadap kematian yang membawa pada kondisi menanggalkan rasa  kemanusiaan dan empati terhadap orang lain yang sedang ditimpa ujian terkena wabah penyakit.

Dalam sejarah peradaban Islam negara bertanggung jawab penuh melakukan tindakan cepat, tepat, preventif dalam mengatasi wabah.

Selain itu negara, dalam hal ini tenaga medis, tokoh umat dan media akan saling bersinergi untuk menjelaskan hakikat wabah suatu penyakit  kepada masyarakat sehingga mereka akan menyikapi dengan tepat, akan kooperatif dalam mendukung penanganannya dan turut serta dalam penanggulangannya.

Dalam konteks menyelesaikan bencana massal yang menimpa manusia, media massa sesuai perspektif Islam sangat diperlukan sebagai sarana menjelaskan semua tuntunan hidup yang bersumber dari syariat berupa nilai-nilai dan panduan bersikap dalam semua aspek kehidupan serta dorongan berperilaku sesuai panduan tersebut. Media massa juga mendorong peningkatan kualitas hidup melalui penggambaran yang benar untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam mengamanatkan media massa menggambarkan ke tengah masyarakat kesesatan, kesalahan dan larangan mengambil Ideologi dan pemikiran diluar Islam. Mengungkap cara-cara busuk yang digunakan untuk menjerumuskan manusia pada kehinaan dan kehilangan fitrah kemanusiaan. Media massa dalam sistem Islam akan mewujudkan masyarakat yang cerdas karena memiliki tuntunan yang jelas dalam semua urusan hidupnya dan mampu memilah mana yang benar mana yang salah. Juga menghasilkan masyarakat yang peduli karena sikap kritis terhadap lingkungan melalui budaya amar ma'ruf nahi mungkar dan berani menasehati  pemerintah.

Dengan peran media massa yang sangat urgen berfungsi untuk menggambarkan Islam secara benar dan membina kepribadian masyarakat, maka negara bersama  para medis dan para tokoh dalam menghadapi pandemi akan selalu menerangi pemikiran umat agar tertunjuki oleh mabda Islam sehingga sikap-sikap, pendapat dan pemikiran yang kontradiktif untuk tercapainya kemaslahatan bersama seperti sikap saling curiga, tidak empati, diskriminatif dan lain sebagainya, terhadap sesama akan dapat di singkirkan dari kehidupan umat. Semua ini tentu saja akan terwujud ketika Islam kaffah diterapkan pada kehidupan. 
Insyaa Allah.
banner zoom