Perpisahan (Part 2)

(Cerita sebelumnya, Laki-laki Pemimpin Wanita) 

Oleh : Ummu Raisya

Penamabda.com - Waktu terus berlalu, harapan untuk segera mendapatkan pekerjaan di Negeri orang pun sirna. Ditambah pula beban hutang untuk mengganti uang yang hilang tersebut. Tetapi, pada akhirnya dengan tambahan biaya sendiri berangkatlah Ahmad ke Negeri seberang. Kontrak kerja  2 tahun yang harus ia lalui, terasa begitu berat karena harus berjauhan dengan keluarga. 

"Mi, besok Abi berangkat lho, apa ada yang mau disampaikan sebelum kita berjauhan?" tanya Ahmad pada istrinya yang berbaring disampingnya. 

Tak ada sahutan dari Siti, istrinya. Malam tampak lengang, tanpa sedikitpun suara-suara. Tiba-tiba terdengar isakan tangis dari sebelahnya, yang membuat Ahmad terperanjat. 

"Astaghfirullah... Ada apa Mi?" tanya Ahmad tersentak kaget, serta merta memeluk istrinya. 

"Ssstttt.., tahan Bi, nanti Ara bangun," jawab Siti sambil meregangkan sedikit pelukan suaminya agar bisa bernafas lega. 

"Umi sedih Bi, baru aja kita mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga bersama, Ara juga masih lekas belajar jalan, Abi sudah mau pergi jauh. Gimana kalau anak kita kangen sama Abinya, gimana kalau dia sudah bisa ngomong, dan tanya dimana Abinya, dan... "Siti tidak bisa melanjutkan kata-katanya, terlalu sesak dadanya memikirkan esok hari tanpa suaminya disisinya. 

"Dan bagaimana kalau Umi kangen sama Abi?" goda Ahmad yang di jawab dengan senyuman istrinya. 
"Sabar Mi, Insyaa Allah kita bisa melalui ini semua. Jangan terlalu memikirkan masa depan yg belum tentu Mi, jalani saja dulu apa yang terjadi sekarang," jawab Ahmad lembut sambil memeluk istrinya. 

Seperti dalam ayat Al-Quran yang berarti, 
"Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan(datang)nya." (QS.An-Nahl [16]:1) 
Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan dapat diraba, belum berwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Dengan demikian, tidaklah kita harus menyibukkan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya, dan meramalkan hal-hal buruk yang bakal ada di dalamnya. 

"Tapi Bi... Emm," belum selesai Siti berbicara, Ahmad sudah mendekapnya  dalam pelukannya. 

"Sudah Mi, ayo tidur biar besok tidak kesiangan dan jangan lupa berdo'a dulu." kata Ahmad.

Malam itu terasa sangatlah cepat berlalu, meskipun berusaha menutup mata, tetapi pikiran Siti terus menerawang kemana mana memikirkan hari esok tanpa mempedulikan nasehat suaminya. Meskipun dulu, semasa ia kecil dan masih duduk di bangku SD, ia pernah di tinggal merantau oleh bapaknya, tetapi ini jelas berbeda. Suami yang sudah begitu sabar menemani hari-harinya, kini harus pergi juga untuk menyambung kerja, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hingga jam dinding tepat menunjukkan pukul 3 dini hari, Siti beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Ia mencoba membasuh mukanya dan mengambil wudhu. 

"Ya Allah, jikalau ini yang terbaik untukku dan keluargaku, tolong kuatkan aku untuk menghadapi hari-hari tanpa suamiku, lancarkanlah suamiku dalam mencari nafkah, kuatkan imanku dan suamiku untuk selalu berada di jalanMu dan yang Engkau ridhoi ya Allah... "ucap Siti lirih di sela-sela do'anya setelah ia melaksanakan beberapa sholat sunnah. Beberapa saat kemudian terdengar lantunan suara adzan Bapaknya dari mushola dekat rumah. 

"Bi, bangun. Bapak sudah adzan, takutnya nanti ketinggalan sholat berjamaah." kata Siti pelan membangunkan suaminya, Ahmad, sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu. 

"Ya Mi, satu menit lagi." jawab Ahmad dengan malas-malasan. 

"Hmm, Abi, kebiasaan." gumam Siti sambil tersenyum dan berlalu pergi.  

Ditinggalkannya suaminya yang masih belum beranjak dari tempat tidurnya, untuk melanjutkan melaksanakan sholat subuh. Ia biarkan suaminya, karena ia tahu sebenarnya suaminya sudah bangun dari tadi dan sebentar lagi pasti akan beranjak untuk pergi ke mushola. 

===

"Apa kamu sudah siap ditinggalkan sementara waktu oleh Ahmad pergi ke Negeri orang untuk kerja?" tanya ibunya Siti pada anaknya. Lanjutnya, "Suami istri kalau berjauhan itu rawan perpecahan. Lihat saja si Jupri sama istrinya, jadinya seperti itu 'kan? Mana anak-anak nya masih kecil-kecil, tetap saja mereka jadi korban perceraian kedua orang tuanya."

"Sudahlah Bu, Ibu jangan menakut-nakuti Siti begitu, semua itu sudah jadi qadha Allah SWT, kita harus menerima nya meskipun itu buruk menurut kita Bu," jawab Siti santun tanpa bermaksud menggurui ibunya. 

"Ya baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu dan suamimu," kata ibunya sambil berlalu pergi meninggalkan Siti di ruang makan. 

Siti masih termenung mengingat percakapannya dengan ibunya semalam. Siti yang masih mengenakan mukena, meraih Al-Quran dan membacanya perlahan. Tepat pada  Al-Quran  yang artinya, 
"Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka." (QS. An-Nisa' [4]:34) 
Siti berhenti sejenak, ia teringat ceramah Pak Ustadz di pengajian beberapa hari lalu. Bahwa, salah satu dari ketiga ciri wanita terbaik adalah wanita yang menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya. Ia menjaga kehormatan dirinya dan menjaga harta suaminya terutama ketika suaminya sedang pergi. Ia senantiasa menjaga pesan suami dan tidak melanggar hal-hal yang dibencinya. Menjaga kehormatan diri sebagai muslimah dan sebagai seorang istri artinya juga menjaga tata pergaulan dalam Islam. Bahwa ia tidak boleh berduaan (khalwat) dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya. Ia juga tidak boleh ikhtilath, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. 

Tepatlah hal tersebut menjadi pedoman Siti untuk bekal keimanannya saat melepas kepergian suaminya dan melewati hari-hari tanpa suaminya nanti. 

Siti mengakhiri membaca Al-Quran ketika mendengar suara salam dari suaminya, dan kemudian menjawabnya. Setelah itu terdengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali. Ahmad yang pulang dari mushola langsung menghampirinya. Mengulurkan tangan yang kemudian disambut oleh Siti, ia cium punggung tangan suaminya. Kemudian menghamburkan dirinya, menyeruak ke dalam pelukan suaminya. Seakan tak ingin melepaskannya barang sesaat pun. 

"Sudah Mi, jangan menangis terus, nanti mata Umi bengkak 'kan malu dilihat yang lain," kata Ahmad melepas pelukan istrinya dan menyeka air mata yang terus berderai itu. 

Sambil terus memeluk kembali suaminya, Siti berkata, "Maafin Umi ya Bi, kalau Umi ada salah. Baik sengaja atau tidak, perkataan atau tingkah Umi yang 'gak berkenan di hati Abi."

"Ya Mi, sama-sama. Maafin Abi juga ya..." jawab Ahmad. 

===
Malam hari, ba'da sholat maghrib, semua anggota keluarga berkumpul, bapak, ibu, Siti serta anaknya, Ahmad, dan beberapa kerabat yang dekat rumahnya. Mereka berkumpul untuk mengantar kepergian Ahmad. Ada yang menambah uang saku, membekali dengan beberapa makanan atau cemilan, serta ada pula yang memberi nasehat. Dan yang pasti tidak terlupakan yaitu do'a-do'a dari semua yang hadir disitu. 

Saat perpisahan pun tiba karena mobil travel yang akan mengantarkan Ahmad ke bandara sudah datang. Suasana haru keluarga tak bisa di tutupi. Siti yang tampak menahan air matanya agar tidak tumpah disitu sambil menggendong Ara putri kecilnya, sesekali mengerjapkan matanya, mencium tangan serta memeluk suaminya barang sebentar. Kemudian disusul anggota keluarga yang lain, satu per satu bersalaman dengan Ahmad. 

Sebelum keluar rumah Ahmad sekali lagi mencium kening Siti dan berpesan, "Jaga diri ya Mi, dan anak kita. Jangan terlalu banyak mikir yang berat-berat, serahkan semua pada Allah SWT."

"Ya Bi, Abi juga jangan lupa jaga kesehatan. Jaga pola makan, sering berolah raga, dan jangan sering begadang," jawab istrinya. 

Siti menatap kepergian suaminya sampai 'tak tampak lagi mobil travel yang membawa Ahmad. Dia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Allah SWT melindungi suaminya dimanapun dan kapanpun. 


banner zoom