PENGGANGGU HATI

Oleh : Ustadz Felix Siauw

Sampai pagi ini, aku mencoba mendaftar, kebaikan apa yang bisa dihantarkan oleh kasarnya lisan? Buruknya perilaku, atau mengabaikan manusia yang seharusnya kita cintai

Lalu aku mencoba bertanya pada dalamnya hati, kasarnya lisan itu, apakah ia memberikan hantaran hidayah pada mereka yang aku cintai, ataukah sekedar kepuasan diri?

Lebih jauh lagi, lebih pantas mana kata-kata kasar itu aku tujukan? Sebab bisa jadi itu lecutan buat jiwaku yang lemah, tapi bisa jadi itu pemutus asa bagi mereka yang aku cinta

Bukan tak bisa, aku hanya tak ingin mereka katakan bahwa guru-guru yang mengajariku tak memiliki adab. Aku juga tak ingin Rasulullah Muhammad dianggap kasar

Sebab bila ada kebaikan pada kata-kata yang kasar. Tentu Nabi Muhammad sudah mencontohkannya pada kita. Tapi sebagian besar hidupnya, berlemah lembut nan ranggi

Marah karena Allah itu wajib. Tapi itu jauh berbeda dengan memilih kata-kata yang meracuni. Memaki itu memuaskan diri, tapi tak pernah akan diterima siapapun juga

Sedang hati manusia itu mudah mengingat dan sulit terlupa. Kita pikir kita menjadi penghantar kebaikan, tapi bisa jadi kitalah penghalang yang nyata-nyata

Pantas Rasulullah berpesan, menjadi Muslim berarti memiliki kendali atas lidahnya, dan tangannya. Mahabenar Rasulullah, dulu orang memaki dengan lidah, sekarang dengan tangan

Andai lisan kita tak mampu menunjuki, janganlah dipakai untuk menyakiti. Andai tangan kita tak mampu memperbaiki, maka jangan sampai menuliskan caci-maki

Tak ditambah oleh kelembutan kecuali akan menghiasinya, tak hadir oleh kekasaran kecuali kerusakan. Aku hanya berharap Allah lembut kepadaku, maka aku berlembut pada mereka

banner zoom