Harga BBM Tak Turun Saat Minyak Dunia Anjlok, Tipuan Dan Dusta Rezim Kapitalis!

Oleh : Ummu Farras (Aktivis Muslimah)

Penamabda.com - Wabah Corona belum berakhir. Hingga saat ini, pandemi Covid-19 telah menggoncang semua sendi kehidupan. Perekonomian global merosot. Harga minyak mentah dunia pun anjlok.

Mengutip Reuters, Jumat (10/4/2020) harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, anjlok 1,36 dolar AS atau 4,1 persen, menjadi 31,48 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 2,33 dolar AS atau 9,3 persen menjadi 22,76 per barel dolar AS.(suara.com)

Menurut analis dari Rystad Energi, harga minyak dunia bisa saja jatuh ke level $ 10 per barel. Penyebabnya adalah karena dunia kehabisan tempat untuk menampung minyak tersebut. Apalagi kondisi pandemi Corona yang tak kunjung selesai. Hal ini membuat minyak dunia tidak digunakan karena industri berhenti beroperasi. Terpaksa minyak mengendap untuk sementara waktu.(liputan6.com)

Namun sayang sungguh sayang, terjun bebasnya harga minyak mentah dunia ini, tidak berkorelasi dengan turunnya harga BBM di dalam negeri. Pertamina bergeming. Pemerintah seakan buta dan tuli atas tuntutan berbagai pihak untuk menurunkan harga BBM. Padahal, penurunan harga minyak mentah dunia sudah semestinya menular pada harga BBM di Indonesia, sebagaimana menurut Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini.

Sebagaimana diketahui, pada 18 Maret 2020 lalu, Jokowi pun sudah meminta para menterinya mengkalkulasi rencana penurunan harga BBM subsidi maupun nonsubsidi. Jokowi menekankan harga BBM bakal turun seiring dengan merosotnya harga minyak dunia ke level USD 30 per barel. Tapi, kenyataannya ternyata tak sesuai ucapan. Harga minyak dunia sudah merosot, namun rezim tak kunjung menurunkan harga BBM. Mungkinkah ini semua hanya dusta dibalik lip service?

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menuding penyebab BBM tak kunjung turun adalah adanya Keputusan Menteri ESDM Nomor 62.K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. (detik.com)

Berdasarkan aturan ini, harga BBM di Indonesia didasarkan pada harga rata-rata produk kilang minyak di Singapura (MOPS – Mean Oil Platts Singapore) dan hanya dapat ditinjau setiap dua bulan.

Namun menurut Said Didu, Kepmen tersebut agak aneh karena diterbitkan saat harga minyak mentah dunia mulai turun, lalu peninjauan harga BBM hanya bisa dilakukan setiap dua bulan dan menggunakan standar harga produk kilang Singapura (MOPS) alias bukan harga dasar.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin pada RMOL (21/4/2020) menyatakan bahwa bisa saja pemerintah sedang mencari untung. Selisih harga minyak tersebut untuk menambal defisit APBN. Atau bisa juga untuk mengumpulkan uang untuk membayar bunga utang.

Sungguh sadis dan tak punya nurani. Di tengah situasi pendemi yang semakin mencekik, rakyat masih diperas dan diakali. Belum cukupkah hati para penguasa terketuk melihat penderitaan rakyat kecil yang di masa pandemi ini bahkan untuk sekedar mengisi perut saja sulit?

Turunnya harga BBM setidaknya memberikan sedikit angin segar bagi rakyat, meskipun sesungguhnya seluruh sumber daya alam dan kekayaan negeri ini merupakan hak rakyat. Bukan milik pribadi, apalagi korporasi. Sumber daya alam seharusnya digunakan sebesar besarnya untuk hajat hidup rakyat Indonesia.

Sungguh, ini membuktikan wajah buruk rezim kapitalis. Tak pernah berpihak pada rakyat. Tak pernah mau tulus mengurusi rakyatnya. Kebijakan zalim ini merupakan buah dari diterapkannya sistem kapitalis. Sistem ini telah menjadikan penguasa tidak lebih dari sekedar makelar dengan orientasi untung rugi. Mereka berkelindan dengan kepentingan para kapitalis (pemilik modal) dalam mendagangkan hajat hidup publik. Bukannya rakyat yang diperjuangkan kepentingannya, pemerintah malah memilih berselingkuh dengan para cukong korporasi.

Sistem ini telah melahirkan penguasa yang zalim dan tak punya empati sedikit pun kepada rakyatnya. Sistem ini juga telah menghilangkan fungsi penguasa sebagai penjaga dan pelayan rakyat.

Berbeda jauh dengan sistem yang lahir dari aturan Islam. Dalam pandangan Islam, sumber daya alam yang jumlahnya besar seperti minyak bumi merupakan harta milik umum. Pemerintah sebagai wakil rakyat wajib mengelolanya secara langsung. Haram baginya menyerahkan pengelolaannya pada pihak swasta, baik domestik apalagi asing.

Semua hasil pengelolaannya diberikan kepada seluruh rakyat berupa BBM murah dan bahkan gratis. Jika masih tersisa dari hasil pengelolaan tersebut dapat diberikan dalam bentuk pelayanan jasa di bidang kesehatan, pendidikan dan keamanan. Juga bisa untuk pembiayaan kebutuhan pokok publik lainnya secara gratis.

Sistem Islam juga meniscayakan untuk mewujudkan para pemimpin yang baik dan bertakwa. Sebab Islam menjadikan kepemimpinan adalah sebuah amanah yang diyakini pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak.

Dalam sistem Islam pemimpin juga berfungsi sebagai perisai (junnah) dan pelayan rakyat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Semua konsep ini membentuk pemimpin yang bertanggung jawab dan jujur serta mencintai rakyatnya. Mereka tidak mungkin melakukan penipuan, berdusta, khianat, apalagi menyengsarakan rakyatnya dengan menerapkan aturan yang zalim.

Demikianlah gambaran keunggulan pemimpin dalam Islam. Sudah seharusnya seluruh umat Islam rindu diatur oleh syariat Islam, rindu dipimpin oleh seorang Khalifah. Maka, sudah saatnya kita bersegera memperjuangkan tegaknya syariat Islam untuk diterapkan dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu'alam bisshowwab 

banner zoom