Optimalisasi Peran Intelektual Muslimah, Memadukan Peran Ummun Warabbatul Bait, Intelektual dan Peran Politik Membangun Peradaban

Oleh : Arifah Azkia (Aktivis Mahasiswi Surabaya, Fasilitator Rumah Tahfidz)

Penamabda.com - Reposisi peranan intelektual muslimah dalam membangun peradaban islam tidak bisa dinafikan bahwasannya peran muslimah juga sangat berpengaruh besar dalam kontribusi peradaban. Hal ini tidak terlepas dari perannya sebagai Ibu, sekolah pertama & utama bagi anak, Ibu Generasi, Pengemban Dakwah & pejuang islam (muslimah da'iyah),  Penyedia konsep penyelesaian berbagai problematika masyarakat, dan Bagian dari pressure group (penggerak) di tengah masyarakat. 

Ibu, Sekolah Pertama dan Pengatur Rumah Tangga

Peranan ibu sebagai tempat sekolah pertama (Madrasatul Ula) bagi anak-anak memiliki andil yang sangat besar untuk melahirkan dan mencetak generasi-generasi pemimpin peradaban serta ulama'-ulama' besar yang menjadi penerus para nabi dalam mengemban risalah islam di muka bumi. Sebagaimana Mujahidah Fatimah binti Ubaidillah, Madrasah Pertama Imam Syafii, imam besar tersohor seantero dunia. Ia adalah pendiri mazhab fikih dan ahli di segala bi dang keilmuan. Karya-karyanya diakui dan menjadi rujukan utama. Kehebatan sang tokoh tak terlepas dari peran ibunda, Fatimah binti Ubaidillah. Fatimah dikenal cerdas. Ia adalah sosok yang tegar dan tidak pernah mengeluh dalam posisinya mengasuh imam Syafi'i seorang diri bahkan Ia juga turun langsung mengajar dan membimbing hapalan Alquran buah hatinya itu. Syahdan, Imam Syafi'i sukses menghafalkan Al-Quran di usia tujuh tahun. Dedikasi dan kedisiplinannya mencetak kepribadian dan intelektual sang anak begitu kuat. 
Begitulah kiranya peran besar keberadaan seorang ibu yang senantiasa menjadi andil kesuksesan anak dan lahirnya para generasi peradaban. Setiap apa yang pertama kali dilihat, pengetahuan pertama yg didapat dan pemikiran yang mempengaruhi syakhsiyah seorang  anak tidak terlepas dari peranan seorang ibu yang menjadi pengajar dan pengatur rumah tangga. 

Sosok Intelektual Muslimah sebagai Agen Perubahan (Ibu Generasi)

Perjuangan atas dasar motivasi ruhiyyah dan membangun kualitas diri dengan kekuatan syakhsiyah, maka tuntunan akademis dan daya juang menyebarkan kesadaran ideologis dan menyiapkan sosok generasi tangguh pendobrak peradaban dan siasat menghadapi rintangan ideologis, maka hal itu sangat perlu dimiliki oleh para Intelektual Muslimah seperti Ibu Sultan Muhammad al-Fatih yang mendedikasikan motivasi pejuang dalam diri seorang Al-Fatih untuk menjadi Agen Perubahan peradaban islam. selepas subuh ia senantiasa mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel Ia berkata, “Engkau –wahai Muhammad- akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.

Itulah ibu Muhammad al-Fatih, Sosok Intelektual Muslimah yang mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari dan senantiasa memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, untuk meklukkan kota Konstantinopel dan membawa perubahan besar menuju kejayaan islam. 
Ibu Generasi akan senantiasa memiliki cara dan mengoptimalkan perannya dalam memadukan syakhsiyah dan Nafsiyah anak sehingga menjadi mumpuni dan berdedikasi untuk islam. Dalam kaitannya dengan generasi, peranan kaum intelektual muslimah sangat penting sebagai bagian integral dalam menjamin masa depan generasi cemerlang. Dengan kapasitas keilmuannya, intelektual muslimah memungkinkan untuk lebih mampu berkontribusi secara langsung sebagai ibu generasi dalam ruang lingkup yang luas di berbagai bidang. 

Muslimah Da'iyah & pejuang islam sejati

Intelektual Muslimah adalah seorang da'iyah pengemban dakwah dan pejuang islam sebagai seorang mukmin yang telah diseru oleh Allah dalam firmannya :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada dari kamu satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung".[Ali Imran:104].

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik".[An Nahl:125].

Dengan ketinggian penginderaan dan ketajaman analisanya, maka seorang intelektual (muslimah) akan menjadi kelompok di tengah masyarakat yang bisa memahami apa sebenarnya akar persoalan yang sedang dihadapi masyarakatnya, apa solusi yang harus diambil, dan selanjutnya mereka pun akan menjadi pemimpin dalam melakukan perubahan ke arah perbaikan tersebut. Bahkan berani menyuarakan akan terjadinya kedzoliman penguasa dan mengoreksinya. Sebagaimana Intelektual Muslimah Da'iyaah Sayyidah Asma' yang berani melawan kedzoliman pemimpin Quraisy. Dan ia dikenal sebagai pejuang tangguh agama Allah. Dan juga sosok sahabbiyah Al-Khanza bin Amr yang merupakan pengemban dakwah tangguh dan pejuang islam sejati.

Intelektual Muslimah: penyedia konsep penyelesaian berbagai problematika masyarakat

Sejak masa Nabi Muhammad ﷺ, kaum perempuan telah berpartisipasi dalam menyebarkan ilmu dan membangun masyarakat. Serta menjadi penyedia konsep dari berbagi problematika segala lini. Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam kitabnya Al-Ishâbah fi Tamyîz Ash-Shahâbah menulis biografi 1543 shahabiyah, di antara mereka ada ahli fikih, ahli hadits, dan ahli sastra. Beberapa shahabiyah tercatat sebagai guru bagi para sahabat maupun tabi'in, seperti Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah, Ummu Habibah, Hafshah, Asma' binti Yazid binti As-Sakan, dan sebagainya.

Sementara itu, di bidang sains dan teknologi, meski diyakini ada juga banyak perempuan muslimah yang terlibat, namun cukuplah untuk menyebut nama Maryam Ijliya al-Asturlabi, seorang perempuan astronom yang dijuluki _“al-Asturlabi”_ karena memiliki kontribusi luar biasa dalam pengembangan Astrolab (sebuah alat penting dalam navigasi astronomis). Di wilayah Islam bagian barat, Fathimah Al-Fihriyyah Ummul Banin membangun Universitas Al-Qurawiyyin di Fez pada abad III H. Universitas ini menjadi universitas Islam pertama di Dunia Islam, bahkan di seluruh dunia. Fathimah Al-Fihriyyah adalah seorang alim yang dihormati banyak orang.

Muslimah Intelektual senantiasa melihat segala problematika yang terjadi dengan pemikiran mendalam dan landasan solusi islam yang telah menancap dalam ideologinya. Yang dengannya, seorang intelektual muslim bisa memberikan konsep solusi yang tidak hanya yang bersifat praktis dan pragmatis saja, namun lebih mendasar adalah solusi pada tataran ideologi yang akan membentuk system kehidupan lebih luas. Dan bahkan menghasilkan solusi-solusi yang totalitas atas segala problematika ummat dengan menyandarkan hukum syara' sebagai pedoman. 

Maka  Agar seorang intelektual muslimah bisa mereposisi perannya menjadi intelektual sejati, maka ada tiga hal yang harus senantiasa melekat pada dirinya yaitu memiliki kepakaran/keahlian tertentu sesuai dengan bidang yang dikuasainya, memahami realita kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat (apa sesungguhnya persoalan-persoalan yang terjadi, mengurainya hingga bisa dipahami akar permasalahan yang sesungguhnya), dan memahami ideologi Islam sebagai sumber solusi yang dia gali untuk menyelesaikan semua jenis problematika masyarakat yang dihadapinya. Sehingga muslimah inteletual menjadi seorang yang bermanfaat ditengah-tengah ummat sebagai penyedia konsep. 

Intelektual Muslimah: Bagian dari pressure group di Masyarakat

Kekuatan iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para intelektual adalah modal potensial untuk menjadikan mereka secara komunal (berjamaah) menjadi komunitas yang memiliki posisi tawar yang tinggi di hadapan penguasa. Dna mennjadi penggerak atas suatu kebajikan dan melawan kemungkaran.

Posisi tersebut bisa sebagai pemberi masukan bagi kebijakan yang akan diambil, maupun sebagai kelompok yang tidak hanya mampu melakukan kontrol dan koreksi atas kebijakan penguasa yang tidak tepat, namun juga menekan penguasa untuk segera mengakhiri kedloliman yang mereka lakukan (sebagai pressure group). Termasuk intelektual muslimah yang akan menjadi komunitas yang dianggap lebih layak untuk memberi masukan seputar persoalan perempuan, keluarga maupun generasi. 

Maka adanya andil peran optimalisasi Intelektual Muslimah dan memadukan dan menyelaraskan segala aspek haruslah senantiasa ditumbuhkan dan dimiliki oleh para intektual muslimah masa kini untuk mendobrak kejayaan islam dan peradaban gemilang. 

Wallahu a'lam bissowab.
banner zoom