OASE DI TENGAH PANDEMI ; BUNDAKU GURU KAMI

Oleh : Zahida Arrosyida (Pengelola Homeschooling Mutiara Qur'an, Malang).

Penamabda.com - Sebagian kita barangkali tidak pernah terbayang akan berhadapan dengan situasi seperti sekarang. Di era industri 4.0 saat kemajuan dalam berbagai kehidupan manusia telah diraih, ditengah berbagai kemudahan saat aktifitas bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun tiba-tiba kita terhenyak oleh kehadiran makhluk sangat kecil ciptaan Allah.

Yups..sudah hampir 4 pekan kita dibuat tak berkutik..mati gaya kata anak zaman now. Semua aktifitas dilakukan dari dalam rumah. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, majelis ta'lim dari rumah dan bahkan sholat berjamaah pun "dirumahkan". Wabah Covid-19 telah membuat publik tak berkutik, sekuat tagar #DiRumahAja saat menjadi trending topik.

Covid-19 yang mewabah ini bukan hanya berimbas pada sektor perekonomian. Pendidikan juga terkena dampaknya. Anjuran untuk melakukan physical dan sosial distancing telah menjadikan kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke rumah. Dengan pertimbangan ini Kepala daerah mengambil kebijakan belajar dari rumah dengan pembelajaran melalui sistem daring. Aktifitas sekolah harus dipindahkan ke rumah (home learning). Orangtua siap tidak siap harus menggantikan peran guru dalam memberikan mata pelajaran. Satu hal yang layak disyukuri karena mata ajar, jadwal dan target materi belajar harian sudah disiapkan oleh guru secara online.

Dengan pembelajaran daring ini membuat orangtua ikut berperan aktif dalam pembelajaran siswa. Corona memberikan dampak  yang luar biasa pada habit siswa dan orangtua. Hikmah dari wabah ini adalah mengembalikan peran keluarga sebagai madrasatul ula/pendidik pertama bagi anak. Karena pada faktanya tak sedikit orangtua yang terpaksa atau dalam keadaan sadar telah mengabaikan kewajiban mendidik anak-anak. 

Dalam mendidik anak semuanya mengalir begitu saja. Hari demi hari dilalui bersama anak tanpa ada target dan program selain memberi makan, membelikan pakaian, mainan dan mengajak jalan-jalan. Mereka  menyerahkan tanggung jawab penuh pendidikan  kepada sekolah, karena sudah membayar mahal biaya masuk dan SPP sekolah. Pokoknya ketika anak berangkat sekolah diantar, ketika pulang sekolah dijemput, sampai rumah anak dianggap sudah "beres" belajar dari sekolah.

Dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga di rumah, akan bisa menjadi oase di tengah krisis multidimensi yang menimpa kehidupan sekarang, terutama krisis "perhatian" dari keluarga terhadap anak-anak yang muncul dari kesibukan para orangtua saat harus keluar mencari nafkah untuk keluarga tercinta. Sesungguhnya anak-anak merindukan kehadiran orangtua untuk membersamainya dalam mengarungi kehidupan. Oleh karena itu gunakanlah saat ini sebagian momen untuk  mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak.
Dengan berupaya menjadi guru penuh cinta yang terbaik bagi anak-anak kita.

Peran ibu sebagai guru adalah peran strategis dalam mencetak generasi Islam berkualitas pemimpin yang kelak mampu menangani urusan umat dengan sebaik-baiknya berdasar syariat Islam.

Beberapa tips agar menjadi guru yang baik dan menyenangkan bagi anak-anak :

1) Luruskan niat. 
Menyadari tugas pokok dan fungsi ibu adalah mendidik anak untuk meninggikan kalimat Allah. Tujuannya mewujudkan generasi pemimpin yang akan mengatur kehidupan berdasarkan aturan Allah yang bersumber dari Alqur'an.

2) Optimalkan dengan menemukan potensi diri ibu. Misalnya : akal (gunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak, mencari solusi terbaik dsb). Naluri (kasih sayang yang besar, cinta yang melimpah, kesabaran, kelembutan, keuletan, keinginan menggapai ridho Allah dalam aktifitas, dsb). Fisik (keluwesan, keterampilan, tak mengenal lelah, dsb)

3) Menjadi guru adalah mengajarkan anak untuk selalu belajar  menanam harapan baik dalam memandang persoalan kehidupan. Bunda adalah sumber inspirasi anak dalam menentukan sikapnya atas suatu hal. Maka langkah awal untuk menuju ke sana adalah Bunda menanamkan konsep diri positif berbasis akidah Islam pada anak. Misalnya: dengan membentuk pola pikir : saya anak saleh, saya rajin belajar karena menuntut ilmu itu dapat pahala dari Allah, saya bertanggung jawab karena semua perbuatan kita akan dihisab oleh Allah, dsb. Dengan pola pikir ini akan membentuk sikap jiwa : percaya diri, tidak mudah menyerah, suka tantangan, dsb.

4) Bunda adalah orang yang akan menjadi pijakan anak ketika menumbuhkan motivasi pada mereka. 
Dalam hal ini Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana menumbuhkan motivasi yaitu dengan mengangkat harga diri, memanggil dengan nama kesayangan dan dengan pujian/tidak mencela. 
Pujian Rasulullah dalam memberikan motivasi, misalnya; Abdullah bin Umar tidak pernah sholat malam. Nabi bersabda untuk memotivasinya " Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, jika ia melaksanakan sholat malam". 

Sesudah itu Abdullah banyak mengerjakan sholat malam dan tidur hanya sebentar.
Rasulullah memberikan motivasi dengan mengangkat harga diri, misalnya : Rasul memberi kesempatan kepada Usamah bin Zaid untuk ikut berjihad sekalipun hanya membantu pengobatan. Rasulullah dalam memberikan motivasi juga tidak pernah dengan mencela. Dari Anas RA : " Saya membantu Nabi Saw selama 10 tahun, demi Allah beliau saw tidak pernah mengatakan kepada saya "cih", "mengapa kamu perbuat itu" Tidakkah kamu yang berbuat?".

5) Memberikan stimulasi. Untuk memberikan stimulasi ini gunakanlah bahasa yang merangsang aktifitas berfikir anak untuk memunculkan pertanyaan 5W&1H Gunakan bahasa yang baik dan benar dalam mendeskripsikan sesuatu agar kalimat yang disampaikan dapat dicerna dengan baik oleh anak.

6) Curahkan kasih sayang dan didiklah dengan cinta. Sadarilah bahwa anak kita bukan robot yang otomatis bisa berjalan jika remote di klik. Mendidik itu butuh proses dan perjuangan. Bunda jangan emosi jika ternyata hasil belajar online bersama ananda belum sesuai harapan. Stay cool bunda.. jadikan ini bahan evaluasi untuk menjadikan cara mengajari anak lebih baik.

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa tidak menyayangi maka tidak akan disayangi" (HR Bukhari).

Kasih sayang pada anak tidak berlebihan. Anak perlu diberi peringatan saat melakukan kesalahan agar tidak terbiasa melakukan kesalahan tersebut.
Mu'adz bin Jabal berkata : "Rasulullah Saw berwasiat: Nafkahilah anakmu dengan sebagian hartamu, jangan buang tongkatmu dari mereka untuk mendidik mereka, buatlah mereka takut karena Allah SWT".

7) Jalin komunikasi efektif pada anak. Caranya ketika berbicara atau menjelaskan suatu ilmu pada anak: tatap matanya, gunakan dialog, gunakan cerita dan permisalan, berikan alasan dan hujjah, lakukan kedekatan emosi, dan manajemen marah.

Untuk menjadi guru yang menyenangkan tentu tidak begitu sulit, hanya saja yang terpenting adalah kesungguhan dan usaha yang keras agar muncul ide-ide kreatif agar pembelajaran bisa membuat ananda lebih enjoy dan aktif berpikir.

Menjadi seorang guru merupakan tugas yang sangat mulia, apalagi jika dilakukan untuk anak-anak kita sendiri. Sabar dan selalu alirkan ilmu yang kita punya walau itu hanya satu huruf saja. Jangan beranggapan sekedar untuk membuat pintar anak, karena bisa mengurangi keihlasan  dan membuat amarah hati bunda. Beranggapanlah bahwa kita sebagai orangtua hanya menyampaikan ilmu yang kita punya. Yang terpenting adalah kita sebagai orangtua telah berdedikasi atas ujian ini, sebagai bentuk perjuangan melawan kebodohan, karena mendidik generasi itu adalah upaya yang tak boleh berhenti meski negeri ini diterpa berbagai cobaan.

Orangtua adalah dahan pijakan anak untuk meraih pucuk kehidupan. Bila dahan itu patah, anak jatuh bersamanya dan tidak akan pernah sampai di puncak. Maka jangan pernah patah semangat menjadi dahan tempat berpijak.  Tetap semangat untuk menjadi ibu tangguh yang ihlas dan tanpa lelah mendidik ananda untuk menjadi generasi cemerlang yang akan mengisi peradaban gemilang untuk menyongsong kemenangan Islam.

Insyaa Allah.
banner zoom