Ketika Ibu Gagap Menjadi Madrasah Pertama dan Utama

Oleh : Arinda Nurul Widyaningrum

Gerakan di rumah aja selama beberapa waktu ke depan akibat virus covid 19, menjadikan berbagai aktivitas publik harus dijalankan di rumah. Termasuk proses belajar mengajar. Di rumah, otomatis ibu berperan penuh dalam mengawasi proses belajar anak. Kemudian tugas atau laporan hasil belajar dikirim ke guru, dan dipantau melalui daring.

Namun dalam beberapa hari ini, secara mengejutkan berbagai komplain dan aduan para orang tua menyebar. Rata-rata para ibu tidak siap dan merasa pusing dengan management pengajaran. Mulai dari keluhan anaknya yang tak mau diatur, tidak semangat belajar, cepat bosan, dan mata pelajaran yang tidak ibu kuasai, sementara anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.

Berbagai lelucon pun bermunculan, seperti quotes dan meme hingga video lucu tentang anak-anak yang ikut-ikutan merasa suntuk belajar seharian bersama ibunya. Katanya, ibu lebih galak dibanding guru, ibu tidak mampu mengajari materi secara jelas, dan sebagainya.
 
Ketidaksanggupan ibu dalam memainkan peran mendidik, menimbulkan pertanyaan besar. Apa benar ibu sudah bersiap diri menjadi madrasah bagi anak-anaknya? Kebingungan dan kegagapan mereka seolah-olah mengabarkan hal sebaliknya. Bahwa ibu selama ini tidak begitu maksimal dalam persiapan dan pengimplementasian. Ibu tidak paham dan bahkan tidak mengenali seperti apa anaknya harus dididik.
 
Padahal, membekali diri sebelum menjadi madrasah atau sekolah, adalah tanda keseriusan seorang calon ibu. Sebab memang peran perempuan yang melahirkan generasi ini adalah mendidik anak-anaknya dengan baik. Siapapun yang tampil tanpa persiapan, maka akan turun panggung tanpa penghormatan. Ibu tak akan menjadi teladan dan kebanggaan, bila tidak ada yang mampu ditularkan pada generasinya. 

Bukankah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah telah berpesan, “Dididklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir.” Maka mendidik diri sebelum memiliki generasi adalah kebutuhan krusial. Sayangnya, para wanita zaman now pemikirannya telah melenceng jauh dari fitrah. Ketinggian seorang wanita kini diukur melalui pencapaian materi. Produktivitas mereka dinilai dari seberapa besar penghasilan atau gaji.
 
Beginilah kerja paham feminisme untuk mengajak kaum wanita berlomba lomba tampil dalam kancah dunia. Melejitkan potensi diri hingga menyetarai kaum laki-laki. Adalah keliru bila menganggap perempuan selama ini tertindas karena tak mampu menyamaratakan kedudukan dengan lelaki yang bebas bekerja di luar sana. Namun apa daya, paham ini telah disuntikkan ke dalam pikiran kaum muslim. Sebagai konsekuensi, ibu lupa kodratnya sebagai pencetak generasi qurani, dan lebih fokus pada dedikasi karir yang tinggi. Hingga gelar sarjana yang diraih, terasa sia-sia dan salah bila tak mengantarnya pada bekerja di gedung-gedung AC yang tinggi.

Padahal, menjadi ibu generasi butuh pendidikan juga. Butuh kecerdasan ibu di banyak sisi. Hingga keliru bila memahami bahwa gelar sarjana sia-sia jika berakhir di rumah tangga. 
Wahai kaum wanita, jelas sekali bahkan dalam Islam, betapa dirimu tak perlu susah payah menyaingi laki-laki dalam urusan pencapaian materi secara membabi buta hingga lupa menyiapkan diri sebagai madrasah. Sebab di pundakmu tak ada beban nafkah. Justru ibu harus di rumah, memastikan generasinya tak termakan pemahaman keliru dari barat. Ia harus di sana mencelupkan keimanan, menjaga nutrisi, hingga memperhatikan perkembangan anak-anaknya dan antisipasi yang harus diambil untuk menjaga fitrahnya tetap suci. Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah seorang anak itu dilahirkan melainkan di dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahud, Nasrani, Majusi.”

Kegalauan Ekonomi 

Pada sisi lain, ibu yang belum mampu mengoptimalkan diri dalam pengasuhan, tak dapat disalahkan sepenuhnya. Himpitan ekonomi akibat penerapan sistem kapitalisme yang sangat eksploitatif telah memproduksi kemiskinan. Menyebabkan beban ekonomi keluarga semakin berat, hingga ibu harus turun tangan menopang perekonomian keluarga. 

Belum lagi agenda-agenda program pemberdayaan ekonomi perempuan, sangat kental dengan promosi dan dukungan akan program kesetaraan gender. Sehingga ibu semakin dirayu lebih jauh untuk membantu roda ekonomi negara sebagai haknya dalam bidang ekonomi dan menjadikannya setara dengan lelaki. 

Pada akhirnya, sulit mengharapkan peranan ibu yang maksimal di tengah kehidupan berasaskan liberal ini. Karena kerusakan sistematis pada peranan ibu harus dituntaskan sedari akarnya. Dan asas terbaik kehidupan hanyalah yang bersumber dari Islam. Yang menjamin para ibu tercukupi nafkahnya bahkan oleh negara bila ia tak mampu ditanggung oleh keluarga.
 
Islam memandang wanita mulia bukan yang membabi buta memeras keringat dan mengeksploitasi diri di luar rumah, ia dimuliakan ketika sepenuh raga dan jiwa di dalam madrasah, menaati suami, dan menjaga kemuliaan diri sebagai tiang negara. Hal ini hanya bisa dilihat pada sistem yang menjalankan sistem Islam secara utuh hingga syariatnya berjalan maksimal, tentu hanya dalam naungan Khilafah Islamiyah. 

Wallahualam.
banner zoom