HERD IMMUNITY, SOLUSI TAK SOLUTIF ALA KAPITALIS

Oleh: Dhiyaul Haq (Pengajar di Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Malang)

Penamabda.com - Rasanya tak perlu dijabarkan panjang lebar, negeri nyiur melambai ini telah dibuat kalang kabut menghadapi pandemi Covid-19. Mulai dari masalah tersendatnya pasokan alat pelindung diri (APD), susahnya mengimbau masyarakat untuk tinggal di rumah, hingga banyaknya tenaga medis (terutama dokter spesialis) yang gugur dalam melaksanakan tugasnya.
Silih berganti pemberlakuan penyelesaian wabah Covid-19. Mulai dari tuntutan lockdown atau karantina wilayah dari berbagai kalangan, desakan pelarangan mudik, wacana darurat sipil, hingga akhirnya diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dari berbagai wacana yang ada, akhirnya pilihan terakhir jatuh pada PSBB.

Namun dalam perjalanan kebijakan ini, muncul statement-statement aneh dari para tokoh bangsa. Yang justru malah menambah kegaduhan masyarakat. Sebagai contoh, pernyataan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan tentang virus corona yang melemah ketika berada di cuaca panas. (MuslimahNews.com)

ronisnya, pernyataan ini justru didukung oleh beberapa instansi terkait. Seperti Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati yang menjelaskan bahwa beberapa kajian ilmiah telah menemukan adanya keterkaitan perkembangan virus corona dengan cuaca.

Dari kajian beberapa ahli menyebutkan Covid-19 memiliki suhu ideal penyebaran sekitar 1-9 derajat celcius. Artinya, penyebaran Covid-19 akan melemah jika berada di suhu lebih tinggi dari itu. Oleh sebab itu, Rita menyarankan agar masyarakat ketika akan beraktivitas terlebih dahulu melihat cuaca. Apalagi saat ini adalah peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. (Republika, 4/4/2020)

Sayangnya sampai sekarang secara ilmiah kondisi pandemic di Indonesia semakin meningkat dan tidak ada sinyal-sinyal Covid-19 akan berhenti memakan korban. Data korban yang terinfeksi menunjukkan angka yang semakin bergeser ke kanan. Sehingga pernyataan dari Pak Luhut dan dari BMKG tidak bisa diterima begitu saja. 

Jika ditelusuri lebih jauh maksud pernyataan ini adalah menuju kepada solusi herd immunity. yakni terbentuknya kekebalan kelompok setelah sejumlah orang terinfeksi oleh virus itu. Artinya, virus tersebut akan dibiarkan menjangkiti masyarakat, maka dengan sendirinya akan terbentuk kekebalan tubuh. Dengan begitu virus tak akan mampu menyerang manusia kembali. Manusia menyesuaikan diri dengan alam. Siapa yang mampu berrtahan maka dia akan menang dan dia bisa mekanjutkan kehidupannya kembali. Sebalinya yang kalah harus menerima kenyataan pahit yaitu kematian.

Menurut pakar epidemiologi Universitas Padjajaran (Unpad), Panji Fortuna Hadisoemarto, secara teori, herd immunity akan terbentuk jika virus telah menginfeksi sejumlah orang. Panji menambahkan, jika kita mengambil herd immunity, maka 75% penduduk Indonesia akan terinfeksi virus ini. Dengan catatan tak ada perlakuan seperti karantina wilayah atau PSBB.
Jika masyarakat telah terinfeksi sekitar 75%, maka tingkat kematian akibat virus ini pun akan turun. Dari 8% jadi 1-2%. Yang akhirnya jika dihitung ada sekitar 1-2,5 juta orang akan meninggal.

Sungguh ini bukan angka kecil. Negara kapitalis merasa rugi sehingga berusaha meminimkan anggaran pengeluaran untuk rakyat. Suatu hal yang wajar jika terjadi di dalam negara kapitalis. Rakyat pun selalu menjadi korban. Maka jelas negara kapitalis gagal dalam melindungi rakyatnya. Uang adalah urusan no.1 dan nyawa adalah urusan kesekian bahkan terakhir.  

Hal ini sangat jauh dengan Islam. Islam menjadikan negara sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi rakyatnya dan berupaya meminimalisasi korban yang berjatuhan akibat wabah seperti saat ini. Ketika telah diketahui ada wabah yang menyerang, negara akan langsung menyatakan daerah itu diisolasi, sehingga wabah tersebut tidak akan keluar daerah.

Hal ini pernah dilakukan di zaman Rasulullah Saw juga sahabat Umar bin Khaththab. Islam sangat melindungi rakyatnya. Jangankan jutaan nyawa melayang, nyawa seorang muslim saja sudah begitu berharga. Artinya, seorang pemimpin muslim akan mengerahkan segala cara untuk meminimalisasi bahkan menyelesaikan wabah itu. Bukan hanya diam menunggu qadha’ tiba.

Tentunya, kebijakan yang dilakukan seperti Rasulullah dan Umar itu tak bisa berjalan sendiri. Butuh perencanaan, dukungan, bahkan pembiayaan yang besar. Maka, negara dalam sistem Islam memiliki baitulmal yang akan menyelesaikan biayanya, juga para ahli yang ada siap berjuang karena dorongan pahala, bukan insentif belaka. Kepemimpinan seperti ini hanya didapat pada sistem pemerintahan Khilafah.

Wallahu a’lam bi ash-showab

banner zoom