Habis Corona Terbitlah Islam

Oleh : Novianti (Praktisi dan Pengamat Pendidikan) 

Penamabda.com- Seiring bertambahnya angka positif corona di Indonesia, jumlah tenaga medis yang terpapar hingga meninggal dunia terus bertambah. Ada 25 dokter yang telah meninggal karena virus corona (Suara.com, 4/4/2020).

Tidak menutup kemungkinan beberapa hari ke depan jumlah korban para tenaga medis bertambah mengingat keterbatasan alat yang seharusnya digunakan saat menangani pasien corona seperti APD dan masker. Ditambah minimnya ketersediaan sumber daya manusia sehingga para tenaga medis harus bekerja tanpa mengenal waktu.

Dan yang lebih mengkhawatirkan ada dokter yang mulai terjangkit virus corona meski tidak menangani pasien corona sebagaimana yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi (CNN Indonesia, 04/04/2020). 

Kondisi yang sangat memprihatinkan karena para tenaga medis adalah yang bekerja di garda terdepan dalam menangani pasien corona. Jika tenaga medis terus berkurang sementara pasien terus 8obertambah maka akan banyak pasien tidak tertangani. Kematian masal bisa terjadi.  

Padahal menjadi dokter membutuhkan waktu bertahun-tahun apalagi menjadi seorang spesialis. Kehilangan satu dokter spesialis tidak hanya berkurang satu tenaga medis melainkan kehilangan ribuan pengalaman, nasehat, bimbingan yang masih dibutuhkan oleh masyarakat luas. Butuh waktu lama untuk mencari pengganti mereka, setidaknya 10 tahun belum termasuk praktek pengalaman.

Sehingga pertempuran para tenaga medis untuk mencegah penyebaran virus corona  adalah perang tak berimbang. Jumlah tenaga medis tak sebanding dengan musuh yang dihadapi yang teramat besar dan berbahaya dengan perlindungan yang sangat jauh dari memadai.

Dalam kondisi ini masyarakat melakukan gerakan untuk membantu para tenaga medis. Mulai dari alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) atau kelompok masyarakat independen yang membuka gerakan penggalangan dana di situs Kitabisa.com.

Demikian juga sesama masyarakat berusaha meringankan saling membantu. Berbagi makanan, sembako pada mereka yang otomatis tidak punya penghasilan karena terhentinya aktivitas perekonomian.

Di tengah kebingungan dan kesibukan rakyat yang saling gotong royong, pantaslah banyak yang bertanya kemana pemerintah, dimana mentri Kesehatan?

Hingga hari ini belum ada pernyataan secara resmi permohonan maaf dari presiden atas ketidakmampuan.negara melindungi para tenaga medis. Tenaga medis perlu support tidak hanya soal alat pelindung tapi juga kebijakan agar penyebaran dan pertambahan korban terinfeksi bisa dicegah.

Pernyataan presiden bahwa keselamatan rakyat prioritas utama hanya jargon. Para pejabat terkesan tidak ada koordinasi karena tidak satu suara dalam menyikapi corona. Terlalu banyak kepentingan saling tarik menarik sehingga kebijakan sering berubah.

Penanganan corona yang seharusnya difokuskan pada upaya penyelamatan jutaan rakyat tergadaikan oleh kepentingan politik dan ekonomi.

Ditengah-tengah kegentingan situasi karena bertambahnya korban seharusnya pemerintah segera membuktikan janjinya keberpihakan pada rakyat. Namun faktanya, rakyat harus menonton teater yang makin mempertegas pemerintah telah bertindak tidak manusiawi dan membiarkan rakyat mati pelan-pelan satu demi satu.

Ketidakseriusan pemerintah dalam penanganan corona sudah tercium sejak awal. Penolakan usulan lockdown untuk menutupi keengganan pemerintah terhadap kewajiban perlindungan dan penjaminan kebutuhan rakyat di tengah musibah sekarang.

Himbauan Social Distancing yang pelaksanaannya setengah hati karena tidak ada kekompakkan antara pusat dan daerah dan tak ada pengawasan di kalangan masyarakat, hanya untuk memoles citra bahwa negara masih hadir.

Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dibarengi dengan penetapan UU Darurat Sipil, sama sekali tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Justru negara bisa semakin otoriter namun tidak dibarengi dengan jaminan pemenuhan kebutuhan hidup.

Sementara di sisi lain, rencana pembangunan ibu kota dan penggodogan pengundangan Omnibus Law terus melaju. Meski anggaran penanganan corona ditambah sebesar 405.1 triliun namun sumbernya pun masih dipertanyakan oleh DPR. Jika bersumber dari hutang, jelas akan menjadi beban rakyat berikutnya. Dicurigai peminjaman tersebut lebih bertujuan menyelamatkan perekonomian nasional dibandingkan menyelamatkan nyawa rakyat di tengah penyebaran virus corona. Sudahlah rakyat berjuang sendiri masih tertimpa tangga pula.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan negara ini sudah benar-benar tidak memperdulikan nasib rakyat. Mereka lebih mementingkan kekuasaan dan ekonomi daripada menyelamatkan nyawa rakyat. Sistem kapitalisme telah mencerabut rasa empati penguasa.

Perhitungan untung rugi adalah khas para pengusung kapitalis. Karenanya dalam situasi rakyat terancam, negara tetap lebih memilih penyelamatan ekonomi dibanding penyelamatan nyawa manusia. Terhadap peluang meraup keuntungan bisa bergerak cepat tapi menyangkut urusan rakyat banyak pertimbangan. 

Inilah akibat yang harus ditanggung oleh jutaan rakyat yang memilih pemimpin tanpa standar agama. Pemimpin minus taqwa tak memiliki rasa takut pada Allah karena ketakutan akan kehilangan dunia lebih besar. Peran agama sangat nihil sehingga Allah berada pada subordinat. Keuntungan selalu superordinate alias lebih tinggi daripada agama. Sehingga dalam penanganan wabah seperti sekarang, tak ada konsep tawakkal dan sabar serta ikhtiar maksimal berdasarkan aturan Allah.

Peran penguasa dalam sistem kapitalis diametris dengan Islam. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan rakyat yang harus mengurus urusan rakyat dengan aturan yang sudah Allah tetapkan. Sehingga penguasa akan memprioritaskan nyawa rakyat dalam penanganan wabah seperti sekarang.

Seorang penguasa yang bertaqwa penuh rasa kekhawatiran seandainya ada diantara rakyatnya yang terlantar karena di yaumil akhir rakyat bisa menuntut atas kepemimpinannya di hadapan Allah SWT.  

Beratnya tanggung jawab penguasa tergambar oleh perkataan Umar bin Khattab saat memimpin, "Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya ,'Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?."

Padahal Umar berada di Madinah namun ia memikirkan apa yang akan terjadi terhadap rakyat yang hidup ribuan mil di kota Baghdad.

Seandainya definisi kepemimpinan para penguasa saat ini sama dengan yang dipahami oleh Umar bin Khattab, niscaya satu nyawa saja yang hilang sudah mendorong penguasa berikhtiar dengan segala kemampuan sesuai aturan Allah.

Namun, gambaran pengurusan rakyat oleh pemimpin seperti Umar hanya terjadi jika penguasanya adalah orang yang bertaqwa dengan penerapan Syariah islam.

Penantian rakyat saat ini untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan atas nasib mereka hanyalah suatu penantian panjang yang tak berkesudahan. Selama pemimpinnya bukan seorang yang amanah dan sistemnya bukan dari Dzat yang menciptakan.

Dari apa yang terjadi makin menyadarkan bahwa kita membutuhkan pemimpin Muslim yang bertaqwa dan menerapkan Islam. Ia senantiasa memperhatikan urusan dan kemaslahatan rakyat. Diapun sadar harus bertanggung jawab pada semua urusan rakyat di hadapan Allah kelak.

Sekarang pilihan itu ada pada rakyat. Habis corona semoga rakyat berpaling pada Islam dan hanya memilih pemimpin yang akan menerapkan Syariah Islam.
banner zoom