Dunia Hanya Persinggahan

Oleh : Ka sih

Gulita nan pekat merajai malam.
Lolongan srigala memecah kesunyian.
Di balik tirai si peri kecil berdoa.
Mentari segeralah datang.
Kalahkan sang raja malam.

Di antara koridor yang suram dan dingin.
Ramai orang merubung satu jendela.
Ramai namun hening.
Isak tertahan.
Gumam tertahan.
Seolah menanti ajakan tuk di pecahkan beriringan.

Di seberang sana, ibarat fragmen tanpa naskah.
Terbujur kaku sosok laki-laki muda .
Mata mendelik ke atas.
Mulut terbuka dengan nafas satu satu.
Ayat demi ayat mengalun syahdu.

Ia terbilang muda untuk memerankan yang di gariskan sang sutradara alam.
Orang orang tersayang mulai gamang.
Alat pengukur jantung berbunyi menyebalkan.
Bib..bib...bib..
Makin lama makin pelan.

Tinggalah aku termangu pada sisi pintu.
Mereka-reka kehidupan yang begitu instan.
Betapa jarak kematian dan kelahiran ternyata hanya sehasta,
sedepa,
Bahkan sehembusan nafas kita.

Sesudah itu manusia pulas.
Tersisa jasad yang pias.
Jasad itu bisa kau atau aku.

Hey, hendak kau halau maut?

Sementara gigi satu-satu tercabut.
Guratan kulit mulai keriput.
Helai demi helai putih mewarnai rambut.
Tak juga kuasa kau cegah.

Siapa pedulimu?

Bahkan sejarah pun enggan melirik.
Maka mulailah khusyuk alam fikir dan zikir.
Bahkan kesempatan tak mampir dua kali.

Merugilah orang orang bebal.
Yang tak percaya kehidupan kekal.
Dan semua butuh bekal.
banner zoom