Pengusaha, Sisi lain Penguasa?

Oleh : Siti Farihatin ( Guru KB dan Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Covid-19 menjadi perbincangan yang tidak ada habisnya, karena virus ini sudah mewabah di banyak negara dan sudah memberikan dampak yang luar biasa bagi beberapa sektor termasuk perekonomiam. Virus  ini menjadi ancaman bagi orang-orang yang tidak mempunyai pertahananan khusus ketika mereka berinteraksi denganya, katakanlah pihak medis yang senantiasa berinteraksi intens untuk merawat korban-korban yang terkena dampaknya. APD (Alat Pelindung Diri) sesuatu yang wajib dipakai ketika menangani pasien yang positif covid-19. Berita kelangkaan APD menjadi bahasan yang mencuat di tengah pandemi covid-19, hal ini karena kelangkaannya dan banyak dari tenaga medis ketika menangani virus corona menggunakan jas hujan sebagai pengganti APD tenaga medis. Keterbatasan APD ini banyak menjadikan warga khususnya tenaga medis bertanya-tanya kemanakah gerangan APD di Indonesia?

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia punya peluang untuk menyuplai alat pelindung diri (APD) dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda pandemi virus corona. Alasannya, Indonesia punya pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang yang kini dibutuhkan dunia yang berdampak covid-19. Hal ini disampaikan Sri Mulyani setelah mendampingi Presiden Joko Widodo dalam Konfrensi Tingkat Tinggi Liar Biasa (KTT LB) G-20 melalui telekonfrensi di Istana Bogor, Kamis (27/3) malam, dilansir JPNN.com. Karena kepercayaan diri Indonesia untuk menjadi produsen dan pemasok APD ke negara-negara yang terkena dampak covid-19 menjadikan Indonesia miskin APD ketika semakin merebaknya pandemi covid-19. 

Indonesia menjadi negara pemasok APD ke negara berdampak covid-19, diantaranya Jika dirinci, ekspor masker Indonesia ke China pada tercatat US$ 826,14 ribu di Januari dan US$ 25,60 juta di Februari 2020. Sedangkan ke Singapura, tercatat US$ 4.451 per 2019 menjadi US$ 36,84 juta atau naik 827.645% per Februari 2020. Rinciannya, sebesar US$ 559.416 di Januari dan US$ 36,28 juta di Februari 2020. Ekspor masker ke Hong Kong tercatat naik 123.274% dari US$ 10.049 di akhir 2019 menjadi US$ 12,39 juta per Februari 2020. Rinciannya, US$ 1,76 juta di Januari dan US$ 73,90 juta di Februari 2020.

Dari fakta tersebut sungguh sangat mengejutkan, tidak seharusnya Indonesia mengekspor APD yang menjadi petahanan diri tenaga media dengan ugal-ugalan, sehingga ketika pandemi covid-19 semakin merebak menjadikan APD langka dan tidak bisa dimanfaatkan untuk melindungi diri. Fakta yang didapati di lapangan tenaga medis menggunakan alat seadanya, gambaran tenaga medis menggunakan jas hujan sebagai alternatif pertahanan diri sungguh memprihatinkan sampai ada yang membuka donasi untuk pengadaan APD. Kerana keterbatasan APD ini menjadikan tidak sedikit dari tenaga medis yang poaitif covid-19 dan ada puluhan dokter yang meninggal dalam penanganan covid-19. 

Ketika APD di Indonesia langka, pemerintah berinisiatif untuk impor dari Cina. Dan sungguh mengejutkan ternyata ketika APD datang ke tanah air berlabelkan made in Indonesia. Gambaran yang sangat luar biasa, ketika negeri membutuhkan APD ekspor ugal-ugalan tetap dilakukan sehingga keberadaan APD menjadi langkah. Melihat fakta tersebut, bisa kita katakan bahwa penguasa mempunyai mental pengusaha dalam melakukan kebijakannya. Mereka lebih mengedepankan ekspor untuk meraup devisa yang sebesar-besarnya tanpa mengindahkan dampak yang akan diakibatkan ketika melakukan ekspor secara besar-besaran. Dampaknya ketika tenaga medis membutuhkan APD untuk pertahanan diri mereka tidak mendapati barang yang diinginkan karena jumlanya yang sangat terbatas.

Sungguh ironi, penguasa yang sejatinya harus menjadi perisai dan pelindung umat menjadi hilang fungsi hanya karena nafsu kapitalis. Mereka lebih mementingkan untung rugi daripada riaya umat. Mereka lebih mementingkan perut daripada senyum umat. Bagaimana dan kemana kita akan berpijak ketika kita mempunyai penguasa yang bermental penguasa tanpa mengindahkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang besar. Kepemimpinan adalah memberikan kesejahteraan untuk rakyat. Kepemimpinan yang benar adalah bukan untuk meraih kesejahteraan kelompok. 

Tapi kenyataan itu tidak akan bisa diraih dengan sistem yang bobrok, sistem kapitalis, sistem yang hannya mengedepankan untung rugi tanpa mempertimbangkan halal-haram dan kesejahteraan rakyat. Hal ini terbukti dari kebijakan-kebijakan yang diambil negara kapitalis-sekuler tidak akan sedikit pun menjadikan kepentingan dan kesejahteraan umat sebagai prioritas, tapi hanya minoritas. Untuk itu wahai saudaraku saatnya kita tidak berharap pada sistem ini, sistem kapitalis-sekuler mari bersama-sama memperjuangkan sistem yang benar yaitu Sistem Islam. 

Allahu 'Alam
banner zoom