Aisyah, Cinta Pertama Rasulullah SAW, Penghafal Hadis dan Ahli Fiqh

Oleh : Tawati (Koordinator Media Kepenulisan Daerah)

Penamabda.com- Abu Bakar radhiallahu anhu, adalah salah satu sahabat Rasulullah saw. Hasil pernikahannya dengan Ummu Ruman menghasilkan seorang putra bernama Abdurrahman dan seorang putri bernama Aisyah.

Aisyah radhiallahu anha, dilahirkan empat tahun setelah kerasulan Muhammad Saw. Aisyah dikenal sebagai wanita yang cerdas. Dikalangan sahabiyah dan istri Rasul, Aisyah figur penghafal dan periwayat hadis terbanyak dan ahli fiqh.

Ketika dakwah Islam mengalami hambatan yang luar biasa dan para pejuangnya termasuk ayahnya mengalami perlakuan yang memedihkan Aisyah kecil telah mampu memahami beban berat yang dipikul oleh ayahnya tersebut.

Dua tahun setelah wafatnya Khadijah radhiallahu anha, datang wahyu kepada Rasulullah Saw untuk menikahi Aisyah. Rasulullah melihat wajah Aisyah pada selembar sutera yang dibawa oleh Malaikat selama tiga malam berturut-turut. Kemudian beliau mendatangi Abu Bakar radhiallahu anhu dan melamar Aisyah. Abu Bakar dan istrinya tentu saja sangat senang mendengar keinginan Rasulullah tersebut dan menerimanya.

Lembaran kehidupan rumah tangga Rasulullah dimulai ketika Rasulullah telah menetap di Madinah setelah sebelumnya Aisyah radhiallahu anha dan istri-istri Rasul lainnya yang masih menetap di Mekkah dijemput oleh seorang utusan Rasulullah Saw. Pernikahan penuh berkah itu pun dengan izin Allah berlangsung. Terwujudlah cinta pertama yang terjadi dalam Islam yaitu cintanya Rasulullah Saw kepada Aisyah radhiallahu anha seperti yang diriwayatkan di dalam hadis oleh Anas bin Malik radhiallahu anhu.

Keluasan ilmu dimiliki dan posisinya yang menjadi orang yang sangat dekat dengan Rasulullah membuat Aisyah radhiallahu anha sering kali menjadi tempat bertanya bagi para sahabat setelah Rasulullah Saw wafat. Beribu hadis dihafalkannya dan beragam hukum digali olehnya.

Setelah mengarungi hidup yang penuh dengan jihad, Aisyah radhiallahu anha wafat dalam usia 66 tahun bertepatan dengan bulan Ramadan 58 H. Abu Hurairah ikut serta dalam shalat jenazahnya dan mengantarkannya ke pemakaman Baqi' tempat dimakamkannya para Ummul Mukminin yang telah wafat terlebih dahulu, kecuali Khadijah radhiallahu anha yang dimakamkan di Mekkah.

Hadis dan hukum yang begitu banyak menjadi warisan nan agung bagi umat setelahnya. Sejarah pun tidak akan pernah berhenti menggoreskan tinta emasnya untuk menuliskan nama Aisyah radhiallahu anha di dalamnya. [PM] 
banner zoom