Sikap Rakyat Hadapi Wabah: Panik vs Tawakal





Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi.

Munculnya sikap “Panic Buying” di tengah masyarakat turut menambah masalah baru ketika wabah virus corona merebak. Penyebabnya ialah rasa kecemasan yang tinggi hingga mengakibatkan kehilangan sense of control. Cenderung bertindak cepat menuruti kata hati tanpa berpikir panjang.
Ketua Pusat Krisis UI Dicky Palupessy mengungkapkan secara psikologis, merebaknya virus corona menguatkan pemikiran rakyat tentang kematian. Maka seseorang bisa menjadi lebih impulsif, termasuk impulsif pada membeli barang-barang.

Ia juga menambahi bahwa informasi keliru, tidak akurat, dan tidak meyakinkan berkembang di tengah ancaman virus, menambah rasa takut setiap orang hingga membeli barang secara berlebihan. (cnnindonesia.com, 22/3/2020)
Hal senada disampaikan penulis dan psikologi klinis, Steven Taylor yang dikutip dari CNN. Ia mengungkapkan bahwa kepanikan itu menular, begitu juga dengan panic buying. Ketika media massa melaporkan rak-rak kosong di supermarket, kelangkaan barang, dan komentar orang yang panik membeli barang. Hal tersebut memicu orang untuk melakukan hal serupa.

Panic Buying” tidak hanya terjadi di Indonesia. Masyarakat Inggris mengalami hal yang sama. Hal ini membuat Kementerian Lingkungan dan Makanan Inggris, George Eustice menyatakan bahwa berbelanja lebih dari yang dibutuhkan berarti tidak memikirkan kondisi orang lain yang lebih membutuhkan.

Kondisi itu membuat hidup lebih sulit terutama untuk mereka yang bekerja di ‘garis depan’ pertarungan dengan virus corona: Dokter dan perawat NHS (Layanan Kesehatan Nasional) (kompas.com, 21/3/2020)
Sikap masyarakat dalam sistem kapitalisme menyikapi wabah penyakit penuh dengan kepanikan mencerminkan masyarakat yang lemah nilai takwa. Hingga tawakal tidak mendominasi dalam menyikapi setiap masalah.

Salah satu penyebab kepanikan tersebut bisa jadi karena rakyat dalam kapitalisme memang tak percaya sama sekali dengan pemerintahnya. Lantas, mengapa rakyat tak percaya pada penguasa?
Pertama, tidak ada bukti sosial konkret yang menjelaskan terkait persediaan logistik yang tersedia hingga saat ini. Penjelasan itu sangat dibutuhkan agar masyarakat merasa yakin dan tidak perlu membeli secara berlebihan.

Kedua, hingga detik ini, tidak ada transparansi pemerintah dalam hal penanganan virus corona. Ketiga, pemerintah juga tidak mengeluarkan imbauan bagi pelaku usaha ritel agar meratakan distribusi dan tidak menaikkan harga barang.

Dan keempat, masih sebagian saja oknum yang ditindak tegas pemerintah karena menimbun pasokan barang yang memicu kenaikan harga. Padahal penimbunan barang menyebabkan rakyat sulit mendapatkan barang yang dibutuhkan guna melindungi diri dari bahaya virus corona. Seperti masker dan hand sanitizer.

Beberapa hal di atas menegaskan kelemahan negara dalam memberi jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Rakyat tetap dalam kecemasan sepanjang hari serta makin tak percaya dengan segala kebijakan yang dilakukan oleh penguasa.

Jangan salahkan rakyat jika akhirnya mengambil langkah mandiri dengan bersikap layaknya seorang penguasa. Mencari dana untuk memenuhi kebutuhan menghadapi virus corona. Seperti kebutuhan akan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis dan membantu rakyat yang tidak memiliki makanan di tengah social distancing.

Menjadi bukti bagi kita, bahwa sistem kapitalisme menghasilkan berbagai keburukan. Salah satunya buruk atas pengurusan hidup rakyatnya. Darinya juga lahir masyarakat yang minus keyakinan pada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Hingga setiap orang dipenuhi rasa takut terus menerus melupakan bahwa Allah SWT yang berkuasa atas segala sesuatu.

Islam, Mengajarkan Tawakal di Tengah Musibah

Bagi orang beriman yang meyakini bahwa penyakit adalah makhluk Allah, tentara Allah, maka sikap yang harus ditunjukkan adalah menguatkan keimanan pada Allah. Menyandarkan diri hanya pada Allah SWT (tawakal), lalu bertobat sambil mengingat kemaksiatan apa yang dilakukan sehingga Allah menurunkan bencana tersebut pada suatu kaum.

Hal ini juga menjadi penjaga kesadaran dan kondisi ruhiyah masyarakat, khususnya yang berada pada daerah bencana untuk senantiasa menjaga ketaatan pada syariat dalam lingkup individu dan masyarakat, karena bencana dapat datang sewaktu-waktu dan memusnahkan setiap orang yang berada di daerah tersebut baik yang taat pada syariat maupun ahli maksiat.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “ Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Di sisi lain, karena Allah memerintahkan ikhtiar, maka memaksimalkan ikhtiar. Nabi menyatakan, “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya.” Ini seperti kebijakan lockdown.

Para penguasa dalam Islam pun mengingatkan rakyatnya agar segera bertobat jika bencana yang terjadi atas kemaksiatan yang dilakukan. Seperti halnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya.

Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hambanya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barang siapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Bencana yang menimpa manusia merupakan qadha’ dari Allah SWT. Namun, dibalik qadha’ tersebut ada fenomena alam yang bisa dicerna. Termasuk ikhtiar untuk menghindarinya sebelum bencana terjadi.

Dalam suatu kejadian bencana ada domain yang berada dalam kuasa manusia dan yang berada di luar kuasa manusia. Segala upaya yang dapat meminimalisir bahkan dapat menghindarkan dari bahaya dan risiko bencana tidak dapat dicegah ataupun dihilangkan. Namun segala usaha menghindarkan interaksi antara peristiwa yang menimbulkan bencana dengan manusia, inilah yang termasuk ke dalam upaya manajemen bencana.

Namun, apakah para penguasa muslim saat ini melakukan apa yang dilakukan penguasa dalam negara Islam (Khilafah)? Mengingat diri atas kemaksiatan yang dilakukan dan segera bertobat. Justru yang kita temukan, penguasa yang abai, minim solusi, serta tak segera mengambil sikap untuk melindungi nyawa rakyatnya.

Begitu menyakitkan hidup dalam pengurusan penguasa sistem kapitalisme. Jika tidak mati secara perlahan karena segala kebijakan liberalnya, mati secara langsung karena salah dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, tidak melakukan lockdown di tengah wabah virus yang makin merebak. Malah ambil langkah masih menerima kunjungan warga asing serta menutup diri dari suara dan jeritan rakyatnya.

Peran Umat Hadapi Wabah Penyakit dalam Khilafah

Krisis dan pandemi sudah pernah terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia, termasuk era kejayaan Islam. Semua bisa dilalui oleh kaum muslimin. Dalam kondisi krisis, umat berdiri menjadi pengasuh, penjaga, dan penopang utama kekuasaan negara.

Hal itu disebabkan negara mengurus urusan mereka. Memberikan apa yang menjadi haknya. Sandang, pangan, pendidikan, keamanan, dan kesehatan dengan sempurna. Umat yang mempunyai pemahaman, standarisasi, dan keyakinan yang sama dengan negara, mudah diatur.

Namun bisa kita bayangkan, jika negara yang selama ini memusuhi umat, pemahaman, standarisasi dan keyakinan mereka, maka akan sangat sulit diasuh, didukung dan dijaga oleh umat. Apalagi jika negara itu terus menerus melakukan tindakan yang diskriminatif terhadap rakyatnya.

Maka menjadi penting membangun negara dengan kekuatan umat. Karena dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama yaitu Islam. Sementara itu, dalam kondisi tanggap darurat ketika bencana terjadi penguasa dalam Islam mengambil porsi yang besar. Karena kewajiban tersebut ada padanya, juga mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang masuk bersama dengan bantuan-bantuan dari pihak asing.

Segala macam bantuan harus diserahkan kepada penguasa sekaligus bertanggung jawab dalam menyalurkannya pada orang-orang yang membutuhkan bantuan beserta jenisnya dengan tepat. Jika di baitul mal tidak lagi tersedia dana untuk masa tanggap darurat, dapat menggunakan alokasi dana penanggulangan bencana dari bagian lain dari wilayah negara Islam (Khilafah).

Dalam Islam, negara sudah selayaknya mengambil peran sentral dalam upaya menghindarkan masyarakat dari dampak bencana atau meminimalisirnya. Sejak sebelum terjadinya bencana, ketika masa tanggap darurat, hingga masa pemulihan dan kehidupan kembali normal.

Manajemen penanganan bencana dalam Islam, disusun dan dijalankan dengan berpegang teguh pada prinsip “wajibnya seorang Khalifah (kepala negara) melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya.”

Karena kepala negara ialah seorang pelayan rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan yang ia lakukan. Jika ia lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya akan menjadi sebab penyesalan dirinya di hari akhir kelak.

Sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah Saw:

“Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka. Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Maryam)

Bila ia mengkhianati amanah yang telah diberikan rakyat, dosa besar dan azab yang pedih akan ditimpakan kepadanya. Jika wabah virus saat ini merupakan azab Allah yang diberikan pada manusia di dunia sudah membuat kita menderita, apalagi jika azab di yaumul akhir yang telah Allah kabarkan lewat kalam-Nya. Sungguh sangat menyakitkan. Semoga kita terhindar dari segala keburukan tersebut.
______
Sumber : MuslimahNews.com
banner zoom