Pergaulan Bebas Makin Liar Akibat Sistem Bar-bar

Oleh : Alimatul Mufida (Praktisi Pendidikan)

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus.

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin mengatakan kasus kekerasan terhadap anak perempuan yang paling banyak terjadi adalah inses, yakni sebanyak 770. Menyusul berikutnya seksual adalah kasus kekerasan seksual sebanyak 571 kasus dan kekerasan fisik sebanyak 536 kasus. (tempo.co, 6/3/2020)

Tragis. Di negeri dengan jumlah muslim terbanyak di dunia masih banyak terdapat kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan. Apalagi yang menduduki angka tertinggi merupakan kasus inses yakni hubungan sedarah. 
Sebenarnya mengapa ini semua bisa terjadi? 

1. Pondasi Utama Yang Hilang. 
Tak bisa dipungkiri bahwa keluarga berperan penting dalam membentuk tingkah laku dan cara berpikir anak. Anak kecil mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dari orang tua. Lain halnya di zaman sekarang, banyak sekali orang tua yang lepas tanggung jawab kepada anaknya. Kenapa? Alasannya cukup sederhana ; butuh uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. 
Memang benar di jaman sekarang orang tua dituntut untuk bekerja. Berangkat pagi pulang malam karena biaya hidup sangatlah mahal dari mulai harga sandang pangan papan, pendidikan, kesehatan semuanya tak ada yang gratis. Akibatnya anak jarang sekali mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya Jangankan kasih sayang, bertemu saja jarang. Seolah-olah kewajiban orangtua hanya pemberi materi semata. 

Padahal peran orang tua lebih dari itu, orangtua adalah guru pertama bagi anak dan sudah pasti sosok yang layak dicontoh oleh anak-anaknya. Ketika anak tak pernah mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan, ia pasti mencari sosok yang bisa memberikan apa yang ia butuhkan seperti sosok Ayah yang selalu melindungi dan menjaga anak gadisnya dan sosok Ibu sebagai tempat curhat dan pemberi nasehat bagi anak lelakinya. Bagaimana ketika sosok Ayah dan Ibu itu tidak mereka temukan? Sudah pasti mereka akan mencari sosok yang mirip di luar sana sebagai pengganti. Anak gadisnya mencari sosok lelaki yang bisa melindunginya dan anak lelaki mencari sosok perempuan untuk bisa mendengarkan keluh kesahnya. 

2. Berada pada lingkungan yang sama
Faktor lain selain keluarga yang pasti lingkungan, dengan siapa ia bergaul dengan siapa ia berteman. Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap. (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Baik dan buruknya seseorang bisa dilihat dari dengan siapa ia bergaul, kalau gaulnya dengan teman-teman yang buruk,  sudah pasti akan ikut dalam keburukan. Tetapi kalau gaulnya dengan orang-orang sholih pasti juga ikut sholih. Belum lagi zaman sekarang miras dan sex bebas sudah menjadi gaya hidup remaja, sudah menjadi layaknya sarapan sebagai kebutuhan. Bonceng sana-sini, main ke klub, narkoba, dan mabuk-mabukan. Na'udzubillah. Malahan remaja-remaja yang biasanya gaulnya di masjid ikut majelis ilmu  dibilangnya "gak gaul".

3. Peran Negara yang gagal
Di sisi lain peran negara sendiri tentulah sangat penting. Tidak bisa dipungkiri bahwa di era industri 4.0 ini peran media sangat besar apalagi media sosial yang mudah sekali di akses mulai dari anak-anak, remaja hingga kalangan dewasa.  Bahayanya, di dunia internet ini tidak ada filter untuk konten-konten negatif jadi apa saja bebas diunggah, diunduh bahkan dibagikan. Terbayang ngeri, anak-anak kecil yang belum mengerti betul baik dan buruk mempraktikkan sesuatu yang buruk berdasarkan apa yang mereka lihat di internet. Inilah yang terjadi pada anak-anak dan remaja di negeri ini, karena memang negara tak pernah menyaring konten yang tersebar di internet walaupun sebenarnya bisa.

Jadi, masalah pergaulan bebas di negeri ini pun kompleks banget. Tidak bisa menyalahkan satu pihak saja karena itu semua berhubungan dari orangtua, lingkungan, dan juga negara. Solusinya, orangtua harus lebih peduli dengan anak-anak. mereka harus mempunyai kontrol lebih dengan anak-anaknya. Selain itu kita juga harus pandai-pandai memilih teman dan lingkungan yang baik pastinya yang tidak mengajak pada kemaksiatan. Yang tak kalah penting juga peran negara yang seharusnya bisa membatasi dan mem filter konten-konten negatif.

Satu-satunya yang bisa menyelesaikan permasalahan ini adalah Islam. Hanya Islam yang mempunyai aturan untuk menyelesaikan problem ini. Mulai dari bagaimana seharusnya sikap orangtua terhadap anak cara memilih teman dalam ketaatan dan juga aturan bagaimana negara mengatasi masalah ekonomi, pendidikan, pergaulan, dan lain-lain yang memang sangat amat berhubungan dengan kondisi pergaulan di negeri ini. Bagaimana Islam mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan juga sudah diatur di dalam Islam. Tinggal kita mau menggunakan Islam sebagai aturan hidup atau tidak? 

Wallahu a'lam.
banner zoom