Kapan Sadarku?

Oleh : Ustadz Felix Siauw 

Tak ada yang aku dapatkan dari berita akhir-akhir ini tentang virus corona, kecuali merasakan kelemahan yang sangat, tak berdaya, serta terbatasnya manusia
.
Bagi yang lain, mungkin hampir putus asa, atau cukup untuk membuat mereka panik lalu mengaktifkan otak reptil mereka, berusaha menyelamatkan diri sendiri
.
Aku berusaha memahami, aksi berlebihan dengan menguras stok pangan, obat-obatan, masker dan lainnya, adalah bentuk dari ingin selamatnya manusia dari wabah
.
Sekali lagi, kesemuanya menunjukkan betapa lemahnya manusia, bahkan tak bisa berbuat apapun terhadap sesuatu yang sudah diketahui, tak bisa kendalikan apapun
.
Sampailah aku pada satu batas, ketika sudah berada di ujung pencarian tentang virus corona, penyebarannya, cara untuk mencegahnya, yaitu: kita tak bisa apa-apa
.
Di batas teknologi, di ujung ilmu manusia, ternyata kita semua harus tunduk, bersujud dan menengadah pada Sang Pencipta, yang mungkin kita abaikan disaat-saat biasanya
.
Ataukah mungkin ini cara Allah, mendidik kerasnya kepala kita, tentang arti kelemahan kita, tentang arti kematian, dan arti kekuasaan-Nya yang begitu luas?
.
Kita dijanjikan kenikmatan ketika mau memperjuangkan agama Allah, tapi kita abai. Ternyata kekuatan ketakutan lebih banyak menggerakkan kita untuk mendekat pada-Nya
.
Satu hal yang membuatku sedikit lebih tenang. Memikirkan Allah dan Rasul-Nya, masih memiliki orang-orang yang aku cintai, dan berusaha beramal salih pada hari ini
.
Ternyata, begitu mudahnya manusia mati, semudah Allah menciptakan kita, sama mudahnya ketika Allah akan bangkitkan kita kembali di hari ketentuan
.
Di hari itu kelak kita akan kembali sadar, bila semua manusia sekarang diambang batas kekhawatirannya akan virus, di saat itu ada yang lebih mengkhawatirkan, hari perhitungan amal

banner zoom