PENDIDIKAN SEKULER GAGAL MEWUJUDKAN GENERASI EMAS PERADABAN


Oleh : Zahida Arrosyida (Revowriter Kota Malang)

Dunia pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Setelah kasus Reyhard Sinaga yang melecehkan lebih dari 190 pria di Manchester, Inggris sejak 2015 sampai 2017. Mahasiswa berkebanggsaan Indonesia yang sedang menempuh S3 di Inggris ini membuat heboh karena tercatat sebagai pemerkosa dengan korban terbanyak sepanjang sejarah peradilan Inggris. Tidak lama berselang muncul berita tentang pesta minuman keras yang dilakukan oleh pelajar  SMP.

Dalam video berdurasi 30 detik, terlihat tujuh siswi berseragam Pramuka dan putih biru dari salah satu SMP di Karawang, Jawa Barat, sedang berpesta miras.
Kemudian seorang siswa berseragam Pramuka memberikan minuman yang diduga miras kepada temannya. Lalu siswi lainnya sedang asyik menghisap rokok.

Saat dikonfirmasi, pihak sekolah membenarkan para siswi yang ada di dalam video tersebut merupakan anak didik mereka. Kejadian itu terjadi saat sekolah kebanjiran sehingga para murid dipulangkan lebih awal.

Kepala Sekolah juga sudah mengumpulkan orangtua ketujuh siswi yang berpesta miras. Pihak sekolah akan memberikan sanksi pembinaan dan tidak melakukan sanksi keras kepada siswa-siswi itu, dengan alasan hanya kenakalan remaja yang masih bisa diperbaiki.

Sungguh disayangkan, tanpa mengabaikan beberapa keberhasilan dunia pendidikan, ternyata kita lebih banyak dihadapan pada potret buram produk pendidikan generasi hari ini baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun negara yang lebih banyak menghasilkan generasi miras, narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan lain-lain.

Prihatin dan miris. Hanya kata inilah  yang bisa diucapkan saat menyaksikan kondisi pendidikan dan pelajar hari ini. Saat dunia pendidikan Indonesia terus berbenah mencari format kurikulum yang tepat untuk membangun bangsa ini, peristiwa demi peristiwa masygul terus menghiasi lembaran potret pendidikan kita.

Pendidikan sejatinya menjadi salah satu pilar peradaban. Semakin baik pendidikan akan mengantarkan peradaban yang semakin baik pula. Jika sebuah peradaban tampak menghasilkan berbagai kerusakan, maka salah satu yang wajib dibedah adalah sistem pendidikannya. Sebab sistem pendidikan yang mengasah sumber daya manusia menjadi seperti apa. Dan sumber daya manusia inilah yang kemudian hari akan menentukan warna peradaban.

Itulah sekilas potret buram generasi kita yang tidak lain adalah buah dari sistem pendidikan generasi yang berlangsung saat ini.

Pendidikan sejatinya menjadi salah satu pilar peradaban. Semakin baik pendidikan akan mengantarkan peradaban yang semakin baik pula. Jika sebuah peradaban tampak menghasilkan berbagai kerusakan, maka salah satu yang wajib dibedah adalah sistem pendidikannya. Sebab sistem pendidikan yang mengasah sumber daya manusia menjadi seperti apa. Dan sumber daya manusia inilah yang kemudian hari akan menentukan warna peradaban.

Islam merupakan agama yang tidak saja mengatur kehidupan umat manusia di dunia. Kesempurnaan Islam ini telah terbukti mampu mengubah generasi yang tadinya ummi (buta huruf) dan jahiliah (bodoh/rusak) menjadi sebuah generasi utama dan pelopor kemajuan kehidupan. Bahkan mampu membangun sebuah peradaban manusia yang khas, yang menyinari seluruh bangsa di dunia dan kejayaannya bertahan lebih dari 10 abad.

Faktor paling penting menentukan kualitas generasi Islam adalah keimanan dan keilmuannya. Oleh karena itu dalam sistem pendidikan generasi menurut  Islam, tidak dikenal adanya dikotomi pendidikan seperti yang lazim terjadi dalam sistem sekuler.

Pendidikan generasi dalam pandangan Islam tidak hanya ditargetkan untuk mencapai ketinggian teknologi dan ilmu pengetahuan semata. Target utama pendidikan generasi adalah untuk mencetak generasi yang memiliki keimanan yang kokoh, lalu dengan dorongan keimanan itu teknologi dan ilmu pengetahuan dikaji,dikuasai dan dikembangkan. Artinya keimanan menjadi dasar keilmuan seseorang.

Gambaran generasi emas peradaban yang  dalam Islam adalah :

1) Generasi yang berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah): adalah generasi yang memiliki keimanan kuat terhadap Islam (akidah Islamiyah). Menjadikan akidah sebagai landasan dan standar dalam pola berpikir dan pola sikapnya. Penanaman pemahaman yang utuh dan dan kokoh terhadap akidah Islam menjadi penentu utama terbentuknya generasi berkualitas.

Pola pikir Islami akan terbentuk bila pemahaman terhadap suatu fakta selalu dikaitkan dengan pemikiran dan pandangan Islam. Faktor yang dapat menguatkan pola pikir Islam adalah pemahaman yang utuh terhadap Islam melalui pengkajian tsaqofah Islam. Jadi tsaqofah ini adalah pembentuk langsung kepribadian manusia.
Pola sikap Islami dikuatkan dengan pembiasaan untuk memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, menyelaraskan perasaan dan hati untuk senantiasa terdorong melakukan aktifitas semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Hal ini membutuhkan gemblengan kedisiplinan yang kontinyu, keteladanan dari orangtua, guru, para pemimpin serta kontrol dari seluruh anggota masyarakat. Sehingga generasi yang terlahir akan memiliki kekuatan sikap yang diwarnai oleh akidah Islam.

2) Generasi yang berjiwa pemimpin.
Penerapan syariat  Islam tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja tetapi merupakan rahmat bagi seluruh manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia (QS : Al Anbiya : 107). 

Karakter Islam yang demikian itulah yang mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam demi tegaknya syariat Islam di muka bumi. Karena Islam tidak hanya memperbaiki individu tapi juga masyarakat, negara dan dunia seluruhnya. Hal ini yang menumbuhkan tanggungjawab dan kepemimpinan dalam diri umat/ generasi Islam. Generasi yang tidak hanya mementingkan kesenangan dunia dengan mengejar materi, bermain-main dan berhura-hura. Tetapi suatu generasi yang serius dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tegaknya Islam. Generasi yang memberikan keteladanan dan mengajak umat manusia untuk mengambil jalan Islam.
Generasi yang berjiwa tampak dari tanggung jawabnya terhadap segala aktivitas dalam kehidupannya. Pemahaman Islam yang mengkristal pada dirinya akan mendorong untuk siap bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Baik pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masyarakat bahkan umat seluruh dunia.

Mereka paham betul bahwa hidupnya sarat dengan amanah dan kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
Rasulullah bersabda : " Dan amir adalah pemimpin yang mengurusi urusan umat, dan dia bertanggung jawab dengan segala urusannya."( HR Muslim).

3) Generasi yang mampu mengarungi hidup berdasarkan akidah Islam.
Ia akan memahami bahwa hanya dengan akidah semua semua persoalan (individu, masyarakat dan negara) akan diselesaikan dengan baik. Generasi yang mendapatkan pembinaan untuk mengokohkan akidah Islam dalam dirinya akan mampu mengarungi medan kehidupan dengan penuh keberanian. Tidak ada hal yang ditakuti kecuali murka Allah. Hidupnya hanya akan diabdikan kepada Allah, pantang putus asa dan menyerah pada problem atau konflik yang melanda kehidupannya.

Begitu pentingnya pendidikan generasi bagi keberlangsungan hidup manusia, sehingga Islam membebankan pendidikan generasi tidak hanya pada proses belajar di sekolah. Lebih dari itu Islam menyerahkan tanggung jawab pendidikan generasi (anak) secara komprehensif kepada keluarga, masyarakat dan negara.

Dalam pandangan Islam keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak. Keluarga-lah yang memiliki andil besar dalam mengenalkan dan menanamkan prinsip-prinsip keimanan. Keluarga pula yang punya kesempatan besar membentuk pola pikir dan pola sikap Islami pada anak.

Beberapa bentuk peran masyarakat dalam pendidikan generasi misalnya : 

a) pengadaan kajian-kajian tsaqofah Islam maupun ilmu pengetahuan umum.

b) Mengontrol penyelenggaraan pendidikan oleh negara. Misal  pemotongan gaji guru secara tidak wajar, komersialisasi saran pendidikan dll maka masyarakat harus melaporkan kepada negara.
Dengan kontrol yang kuat dari masyarakat maka penyelenggaraan pendidikan dapat diterapkan secara sempurna dan menutup celah-celah penyimpangan yang mungkin terjadi.

Negara merupakan institusi yang paling bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan generasi yang berasaskan akidah Islam. Untuk mencapai tujuan pendidikan dalam Islam maka negara harus membuat aturan-aturan dalam penyelenggaraan pendidikan, misalnya :

a) Menyusun kurikulum yang sama bagi seluruh sekolah baik negeri maupun swasta dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasannya.

b) Melakukan seleksi yang ketat terhadap calon-calon guru. Pemilihan guru didasarkan pada ketinggian kepribadian Islam dan kapabilitas dalam mengajar. Karena pendidikan bukanlah sekedar transfer ilmu semata tapi juga unsur keteladanan dari guru.

c) Menu pendidikan yang disajikan dalam pengajaran di sekolah harus berpegang pada prinsip Al fikru lil amal (pemikiran yang diajarkan untuk diamalkan). Artinya penyusunan materi pelajaran tidak hanya sebatas teori belaka atau sesuatu yang tidak berpengaruh terhadap amal siswa. Seperti teori Darwin tentang asal usul manusia.

d) Makna pendidikan dalam Islam adalah pendidikan sepanjang hayat. Artinya tidak boleh  ada pembatasan usia belajar dan lama belajar.

Inilah prinsip pendidikan yang harus harus diatur oleh negara. Tanpa adanya negara yang menerapkan dan mengatur maka sistem pendidikan Islam hanyalah suatu utopia. Negara yang dapat menerapkan sistem pendidikan yang sempurna ini adalah negara khilafah, negara yang berasaskan Islam, menerapkan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh. 

Pendidikan sekuleris telah gagal mencetak generasi emas peradaban. Saatnya kembali pada sistem pendidikan terbaik yang berasal dari Pencipta manusia yang mengetahui hakekat penciptaan manusia. Hanya dengan sistem pendidikan Islam yang diterapkan negara khilafah dilahirkan generasi-generasi unggul yang siap memimpin dan mengisi peradaban mulia.

Wallahu a'lam.
banner zoom