MELINDUNGI GENERASI DAN PEREMPUAN DARI KEBEBASAN MEDIA

Oleh: Shanty Lusiana, S.E.I (Muslimah Peduli Umat)

Media merupakan sarana efektif untuk menjangkau massa dalam jumlah besar dan luas. Media mampu menembus batas ruang dan waktu. Bahkan mampu mempengaruhi masyarakat tanpa memandang usia, strata sosial dan latar belakang.

Media bukanlah sarana yg bebas dari nilai-nilai. Semua produk media pasti membawa nilai-nilai dan mengajarkan gaya hidup tertentu. Tergantung di sistem mana media itu berada.

Keberadaan media di negeri-negeri sekuler misalnya, termasuk di Indonesia, merupakan perwujudan dari asas kebebasan. Salah satu pilar yang begitu diagungkan. Di sistem sekuler, negara harus memberikan kebebasan pada setiap individu untuk mengungkapkan  pendapat apapun. Juga kebebasan berekspresi dengan menampilkan tayangan apapun tanpa mempedulikan apakah akan merusak atau tidak.

Karena itulah, negara sekuler tidak akan membatasi konten media secara tegas. Meskipun terdapat aturan berupa UU namun hukum tersebut bersifat lentur, mudah disiasati, mudah dibeli. Sehingga tayangan yang merusak aqidah, menyebarkan kebebasan dan kesesatan, mengandung unsur pornografi akan terus mendominasi di negeri ini. Semua dilakukan atas nama kebebasan.

Asas sekularisme yang mengagungkan kebebasan telah nyata menyebarkan virus-virus yang merusak fitrah manusia lewat media. Bagaimana tidak, berbagai produk media hari ini hanya berisi 'suguhan sampah'. Hiburan yang melenakan, eksploitasi anak dan perempuan. Belum lagi tayangan, lagu, film, pornografi, kekerasan, yang merasuki kehidupan bahkan tak jarang menjadi tuntunan masyarakat.

Kaum perempuan dan generasi tentu turut menjadi korban produk media sampah. Anak-anak generasi penerus bangsa dibiarkan menjadi korban media dengan menghisap racun-racun produk media yang rusak dan merusak. Begitupun dengan kaum perempuan, mereka tak luput menjadi korban. Kecantikan fisiknya dieksploitasi demi mendongkrak penjualan produk. Melalui iklan dan promo produk, perempuan digiring mengikuti life style ala kapitalis yang jauh dari nilai Islami.

Beginilah nasib buruk perempuan dan generasi dalam sistem sekularisme. Negara tidak mampu melindungi rakyatnya. Bahkan berlepas tangan dan cenderung menjerumuskan ke dalam kehancuran demi kepuasan dan keuntungan para pemilik modal. Sudahlah menjadi korban, rakyat pun dibiarkan bertarung sendiri menghadapi aneka kerusakan.

Layakkah kondisi ini dibiarkan bertahan? Tentu tidak! Umat harus mengakhiri kondisi ini secepatnya. Dengan cara mengambil Islam sebagai jalan yang mengatur kehidupan, termasuk mengatur ranah media.

Dalam Islam, media massa merupakan media komunikasi massal yang tak akan memberikan informasi yang serba asal. Asal bebas dan asal menguntungkan bagi kapitalis. Tidak! Media dalam Islam tak mengandung unsur kebebasan yang mendatangkan keburukan dan menyebarluaskan kemaksiatan. Siapapun boleh mengungkapkan pendapat, pemikiran, memberikan informasi serta berekspresi melalui media asalkan tidak bertentangan dengan syariat. Tidak pula membawa virus dan pengaruh buruk bagi masyarakat. Apalagi sampai membahayakan dan mengeksploitasi perempuan dan generasi.

Justru dengan Islam, perempuan dan generasi akan terjaga dan terlindungi. Sebab tidak ada tempat bagi pemikiran yang rusak, informasi yang menyesatkan serta tayangan-tayangan yang jauh dari nilai-nilai ibadah. Inilah indahnya gambaran hidup di bawah naungan syariat Islam.

Wallahu'alam []


banner zoom