Karena Muslim Harus Memilih


Oleh: Dessy Fatmawati, S.T

Tahun 1924, secara de Jure Islam sebagai pemimpin peradaban runtuh. Seketika itu muslim ditransformasi massal untuk tunduk kepada kaidah memisahkan agama dari kehidupan setelah 13 abad hidup dengan iman di atas segalanya. Kaidah pemisahan agama dari kehidupan berarti pada saat yang sama ada yang setara atau lebih tinggi dari agama.

Kasus di Indonesia, adalah apa yang sebetulnya set of philosophy dengan segala keterbatasannya dipaksakan di atas Islam yang jelas-jelas sempurna. Pada akhirnya kita tahu, kapitalisme atau komunisme lah yang menjadi pengisi keterbatasan set of philosophy ini. Tergantung ideologi mana yang digandrungi penguasa negeri ini.

“Tidak tepat menjadikan agama sebagai musuh terbesar Pancasila. Statement ini harus dilawan dengan edukasi terhadap umat Islam, tidak memusuhi Pancasila. Jika terus melabeli seperti ini, kita patut menaruh curiga bahwa Pancasila telah dimaknai ala Marxisme Leninisme” ujar Prof. Suteki, Pakar Filsafat Pancasila, Hukum dan Kemasyarakatan pada acara ILC TV One. (18/2/2020) 

===

Tidak akan bersatu iman dan kufur dalam satu hati. Kalimat ini telah ada sejak dulu. Tak ada multitafsir di dalamnya. Bahwa memilih adalah konsekuensi dari keimanan. Namun, mengapa menjadi demikian dituntut saat ini untuk menegaskan pilihan? Mengapa kalimat itu kini terasa lebih berat?

Hendaknya muslim mencatat betul, perlakuan kapitalisme pada agama telah jelas, dipisahkan. Komunisme juga telah jelas, ditiadakan. Meski jelas-jelas sebelumnya penguasa mengatakan bahwa set of philosophy ini bernapaskan Islam, sia-sia jika muslim memegangnya sebab ini ibarat serigala berkata di depan domba bahwa ia tidaklah berbahaya.

Lantas bagaimana nasib muslim? Dapat diterka, benar bahwa bukan set of philosophy ini yang menyudutkan dan menyerang muslim dan Islam, namun ia selalu akan dijadikan tameng pembenaran. Menempatkan muslim dan Islam di posisi tunduk, tertuduh dan pasrah bahkan jika harus diseret menuju kebinasaan. Lalu, masihkah ada urgensi membela set of philosophy ini di atas pembelaan pada Islam?

Tiada sikap lain yang layak bagi muslim selain memilih Islam, menempatkan Islam di atas segalanya sebagaimana era Khulafaur Rasyidin, era Salahuddin Al Ayubi, ataupun era Muhammad Al Fatih. 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab 36).

—————————————
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom