Hijrah, Bukti Kandasnya Makar Penentang Dakwah

Oleh: M. Taufik NT

Para penentang dakwah mengira bahwa fitnahan, framing buruk dan berbagai tuduhan negatif akan menyurutkan langkah dakwah… sekali-kali tidak, justru hal tersebut akan memperkuatnya. Mungkin mereka berhasil menutup satu pintu, namun dengan itu Allah justru membukakan pintu lain yang lebih baik, satu orang berhasil mereka palingkan, namun Allah munculkan puluhan yang lebih baik sebagai penggantinya.

Tiga belas tahun kafir Quraisy menganiaya, mencaci, menyiksa, menuduh, memboikot dan bahkan mengatur strategi untuk membunuh Rasulullah ﷺ, namun karena Allah berkehendak lain, yang terjadi sungguh di luar nalar mereka. Belasan kabilah menolak dakwah Rasulullah, sebagian mau menerima dengan syarat agar kekuasaan sepeninggal Nabi dikuasai oleh mereka, namun Rasulullah tidak bergeming sedikitpun, beliau tetap lurus-lurus saja menyampaikan risalah Tuhannya. 

Hingga tiba saatnya di musim haji tahun ke 12 kenabian (622M) Allah datangkan 75 orang pemuka Yatsrib. Mereka mendatangi Rasulullah pada tengah malam di bukit Aqabah. Sebelum mereka berikrar untuk melindungi dakwah Nabi, Abbas bin ‘Ubadah berkata:

يَا مَعْشَرَ الْخَزْرَجِ، هَلْ تَدْرُونَ عَلَامَ تُبَايِعُونَ هَذَا الرَّجُلَ

“Wahai kaum Khazraj, apakah kalian menyadari makna membai’at laki-laki ini?

قَالُوا: نَعَمْ،

Mereka menjawab: iya

‘Abbas bin ‘Ubadah melanjutkan:

إنَّكُمْ تُبَايِعُونَهُ عَلَى حَرْبِ الْأَحْمَرِ وَالْأَسْوَدِ مِنْ النَّاسِ، فَإِنْ كُنْتُمْ تَرَوْنَ أَنَّكُمْ إذَا نُهِكَتْ أَمْوَالُكُمْ مُصِيبَةً، وَأَشْرَافُكُمْ قَتْلًا أَسْلَمْتُمُوهُ، فَمِنْ الْآنَ، فَهُوَ وَاَللَّهِ إنْ فَعَلْتُمْ خِزْيُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،

“Sesungguhnya kalian membai’atnya untuk (siap) memerangi manusia baik yang berkulit putih (merah) maupun hitam. Jika kalian memandang bahwa saat harta benda kalian habis diterjang musibah, dan tokoh-tokoh kalian mati terbunuh, lalu kalian akan mennyerahkannya (kepada musuh), maka sejak sekarang (tidak usah kalian membaiatnya), demi Allah, jika kalian melakukannya itu adalah kehinaan dunia dan akhirat.”

وَإِنْ كُنْتُمْ تَرَوْنَ أَنَّكُمْ وَافُونَ لَهُ بِمَا دَعَوْتُمُوهُ إلَيْهِ عَلَى نَهْكَةِ الْأَمْوَالِ، وَقَتْلِ الْأَشْرَافِ، فَخُذُوهُ، فَهُوَ وَاَللَّهِ خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ،

“Namun, jika kalian melihat bahwa diri kalian akan memenuhinya dengan segala hal yang telah kalian janjikan kepadanya walau harus kehilangan harta dan terbunuhnya para pemuka, maka ambillah dia, dan demi Allah hal itu merupakan kebaikan dunia dan akhirat!”

Kaum Khazraj pun menjawab,

فَإِنَّا نَأْخُذُهُ عَلَى مُصِيبَةِ الْأَمْوَالِ، وَقَتْلِ الْأَشْرَافِ، فَمَا لَنَا بِذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنْ نَحْنُ وَفَّيْنَا (بِذَلِكَ) ؟ قَالَ: الْجَنَّةُ. قَالُوا: اُبْسُطْ يَدَكَ، فَبَسَطَ يَدَهُ فَبَايَعُوهُ.

“Sesungguhnya kami akan mengambil (bai’at) tersebut meski dengan resiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya para pemuka.” Kemudian mereka berkata,“Wahai Rasulullah, apa bagian kami bila kami memenuhi hal itu?”. Rasul menjawab: “Surga”. Mereka berkata: “ulurkanlah tanganmu”, maka Rasul mengulurkan tangannya, dan mereka membai’atnya.”[1]

===

Sungguh para pembesar Quraisy yang menolak dan menghalangi dakwah, penguasa Thaif yang mengusir dan melempari Nabi ketika Beliau meminta perlindungan ke sana, bangsawan Bani Amir yang awalnya tertarik melindungi dakwah namun meminta kompensasi kekuasaan, mereka tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dakwah. 

Justru penolakan dan pengusiran tersebut mengantarkan ditemukannya mutiara cemerlang, pemuka-pemuka Yatsrib yang cukup dijanjikan surga, titik, tanpa janji duniawi lainnya, mereka siap sedia all out, wani hangit, lenyapnya seluruh harta dan terbunuhnya para ksatria tidak akan membuat mereka mundur dari ikrar setia untuk menjaga keberlangsungan dakwah Nabi.

Melihat geliat dakwah di Nusantara ini, sepertinya apa yang tergambar dalam sirah Nabi bisa dilihat secara riil. Tidakkah kita lihat bagaimana persekusi terhadap dakwah yang massif, bendera Rasulullah di framing keji, Khilafah yang merupakan ijma’ shahabat dan para ‘ulama sepakat akan kewajibannya dianggap negatif dan diasosiasikan dengan radikal fundamentalis, namun semakin hal tersebut diserang, makin muncul generasi umat yang siap membelanya, bahkan segmen-segmen masyarakat yang dahulunya menutup diri sekarang makin membuka diri dan siap memperjuangkannya. 

Sementara orang-orang yang menentangnya sibuk mengurus kepentingan duniawinya dan sebagian dipusingkan oleh KPK, tidakkah ini cukup jadi pelajaran? Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS. Ibrahim 46)

Oleh sebab itu, yang dibutuhkan dalam dakwah ini hanyalah keseriusan untuk terus mengkaji, dibarengi dengan keikhlasan dan kesabaran untuk tetap menyampaikan ajaran Islam itu apa adanya, dan berusaha istiqomah hingga akhir hayat. Masalah orang lain mau menerima atau menolak atau bahkan memusuhi, serahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. 

===
Sumber: https://mtaufiknt.wordpress.com/2019/08/31/hijrah-bukti-kandasnya-makar-penentang-dakwah/


banner zoom