India Membuka Borok Demokrasi Bertopeng HAM

Oleh: Juanmartin 

Jika di negeri ini kaum muslim kerap disudutkan dengan isu intoleran dengan dalih HAM, kontras dengan apa yang saat ini sedang terjadi di India.

Penindasan terhadap kaum muslimin kian mengonfirmasi omong kosong HAM dan buruknya demokrasi. Terlebih dengan sikap intoleran pemerintah Modi dan masyarakat Hindu di India. Sebagaimana diberitakan media, dalam rentang waktu dua bulan ini, demonstrasi besar-besaran terus terjadi di India. Pemberlakuan UU kewarganegaraan masih terus menuai penentangan. Sebagian merasa bahwa UU tersebut mendiskriminasi kaum Muslim dengan menjadikan agama sebagai syarat kewarganegaraan.

Perdana Menteri India, Narendra Modi sendiri menyerukan perdamaian di New Delhi Rabu, 26 Februari 2020 setelah beberapa hari kebelakang terjadi bentrokan sengit antara sekte di sana. Dikutip Pikiranrakyat-depok.com dari Reuters,pada Rabu, 26 Februari 2020 sekte Hindu dan Muslim minoritas adalah dua kelompok yang terlibat. Dalam bentrokan ini setidaknya 20 orang tewas. 

===

Bukan kali ini saja pemerintah India Menunjukkan sikap yang tidak toleran terhadap kaum muslimin. Sebelumnya pada Agustus 2019 lalu, Modi mencabut status khusus wilayah Kashmir yang mayoritas penduduknya Muslim. Lalu pada November, sebuah putusan pengadilan membuka jalan bagi pembangunan sebuah kuil Hindu di lokasi sebuah masjid yang dihancurkan oleh para fanatik Hindu. Saat ini, melalui UU kewarganegaraan yang dikeluarkan pemerintah, sebagian besar mempertanyakan sikap pemerintah terhadap Muslim India, yang merupakan 14% dari populasi negara itu.

Kebijakan diskriminatif dan intoleran itu telah membuka borok demokrasi bertopeng HAM yang sejatinya merupakan alat politik Barat untuk mengendalikan kaum muslimin. Racun HAM yang dinyanyikan Barat hanya berlaku saat berkaitan dengan kepentingan mereka, namun tidak bagi kaum muslimin. Hal ini jelas terlihat saat Kunjungan Trump ke India. Masih dengan nyanyian tentang HAM, AS mengatakan menghormati hak asasi dalam beragama yang ada di India. Sayangnya pernyataan itu hanya berlaku untuk masyarakat Hindu. 

Perlakuan intoleran mereka terhadap kaum muslimin, sikap diskriminatif mereka yang berujung pada hilangnya nyawa kaum muslimin, pelecehan terhadap masjid yang mereka lakukan, sama sekali tidak dikritisi sebagai pelanggaran HAM. 

Sikap Trump ini berbeda saat Ia menunjukkan empati palsunya terhadap muslim Uyghur. Muka dua Trump adalah wajah asli demokrasi yang munafik. Sayangnya, omong kosong Hak Asasi Manusia ini nyatanya mampu melumpuhkan sikap kritis pemimpin muslim juga umat Islam dunia. 

===

Al-‘Allamah as-Syaikh Abdul Qadim Zallum di dalam bukunya, Demokrasi Sistem Kufur, mengatakan: “Di antara bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia ialah ide kebebasan yang dibawa oleh demokrasi. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat di negeri-negeri demokrasi sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang!”. 

Penindasan demi penindasan yang dialami kaum muslimin di berbagai belahan dunia tak akan tuntas saat mereka masih berkubang dengan pemikiran kapitalisme Barat. Resep Barat bukannya menjadi obat yang menyembuhkan melainkan menjadi racun yang mematikan umat Islam secara perlahan.

Sungguh, satu-satunya solusi tuntas bagi permasalahan kaum muslimin adalah tegaknya Kekhilafahan dimana Khalifah akan menjalankan fungsinya sebaga pengurus (raa'in) sekaligus sebagai pelindung (junnah) bagi kaum muslimin. 

===

Kaum muslimin tidak pernah mengalami penindasan yang sedemikian parah kecuali saat pelindung mereka telah tiada. Umat Islam juga telah memberi contoh nyata sikap toleran terhadap non-muslim saat kekhilafahan Islam tegak menaungi dua pertiga belahan dunia. Semoga Allah memberi ketabahan bagi umat Islam yang saat ini mengalami penindasan. 

Sungguh Allah subhānahu wa ta’āla berfirman: “(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (TQS Al-Hajj [22] : 40. Wallahu a'lam bish-shawwab.

—————————————
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom