-->

Bencana Sumatra Jadikan Sinyal untuk Tafakur

Oleh : Elly Ranty, Aktivis Muslimah

Renungkanlah... Sudah begitu banyak sinyal ditampakkan Allah, yang tidak dapat dihitung lagi mulai dari kesulitan dan kesempitan dalam kehidupan sampai bencana yang beruntun,  baik bencana alam maupun kerusakan materi, sosial dan moral karena perbuatan manusia yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Padahal, fitrahnya manusia itu cenderung kepada ketenangan, kedamaian, dan memuaskan akal. 

Segala bentuk kerusakan dilakukan oleh rakyat dan para pembesar mereka, yang sejatinya berperan sebagai periayah bagi rakyatnya. Bencana yang terjadi merupakan akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah. Tujuannya tidak lain sebagai peringatan dan ajakan dari Allah kepada manusia, khususnya kaum Muslimin.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, perbuatan melanggar hukum Allah SWT telah menjadikan hidup manusia jauh dari kedamaian dan ketenangan. Kehidupan itu tidak memuaskan akal, tidak selaras dengan fitrahnya sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah SWT. Padahal Allah telah menyiapkan hukum-hukum yang sangat adil, ditetapkan sesuai dengan keadaan manusia, karena Allah yang menciptakan mereka. Hukum-hukum itu dapat dilihat dan pelajari melalui wahyu-wahyu Allah  yang diturunkan kepada kekasih-Ku dan junjungan kalian, Nabi Muhammad ﷺ, yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah yang beliau wariskan melalui hadits-haditsnya.

Nabi Muhammad SAW menguatkan dengan hadits, “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah, Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya” (HR Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm). 

Allah SAW juga mengingatkan manusia dalam Al-Qur’an surah adz-Zariyat ayat 56, agar kalian tidak beribadah kepada selain-Ku. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Makna beribadah kepada-Ku adalah kalian hanya taat dan mengikuti seluruh perintah-Ku, dan tidak sekali-kali menaati serta mengikuti perintah selain-Ku.

Laa ilaaha illallah—tidak ada Tuhan selain Allah—berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Aku dan teladan kalian, Nabi Muhammad ﷺ, mengatur kehidupan ini secara menyeluruh, mulai dari urusan paling pribadi hingga urusan negara.

Karena itu, masuklah kalian ke dalam Islam secara total dan menyeluruh/kaaffah (QS al-Baqarah [2]: 208). Janganlah kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, hukum Allah dengan hukum buatan manusia (QS al-Baqarah [2]: 42). Bangkitlah kalian untuk melakukan perubahan dengan amal saleh sesuai dengan hukum dan aturan-Ku, bukan dengan aturan selain-Ku (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11).

Dan jika kalian menolong agama Allah, niscaya Aku akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (QS. Muhammad [47]: 7). Makna menolong agama Allah adalah menegakkan hukum dan aturan-Ku dalam seluruh aspek kehidupan: dalam kehidupan pribadi dan keluarga, dalam bermasyarakat (muamalah), hingga dalam kehidupan bernegara.

Sebagian dari kalian telah baik dalam menunaikan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Namun itu baru sebatas kesalehan pribadi. Padahal kehidupan dunia yang Aku bentangkan untuk kalian tidak cukup ditegakkan dengan kesalehan individu semata. Kalian juga memiliki kewajiban menegakkan kesalehan masyarakat dan kesalehan negara dengan mengamalkan seluruh hukum dan aturan yang Aku turunkan, demi kemaslahatan hidup kalian di dunia dan keselamatan kalian di akhirat kelak, saat kalian kembali kepada-Ku.

Kewajiban itu diwujudkan melalui amar ma’ruf nahi mungkar. Terlebih kalian yang beriman, yang bersaksi (bersyahadat) bahwa Aku adalah Tuhan kalian dan Muhammad adalah utusan-Ku. Kalian adalah umat terbaik yang Aku keluarkan untuk manusia (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Maka mengapa kalian merasa berat untuk bersikap sami‘na wa atha‘na kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku? Padahal Aku telah menyiapkan balasan yang sangat besar bagi kalian berupa surga yang penuh kemuliaan (QS. Al-Furqan [25]: 75–76; Yasin [36]: 58).

Bersyukurlah kepada-Ku atas pilihan-Ku menjadikan kalian umat terbaik, dengan bersungguh-sungguh menaati Aku dan Rasul-Ku, Nabi Muhammad ﷺ. Niscaya Aku akan memberikan kemenangan kepada kalian atas musuh-musuh-Ku dari kalangan orang-orang kafir, munafik, dan musyrik (QS. An-Nur [24]: 55).[]