-->

Cara Islam dan Khilafah Menghadapi Epidemi

Oleh: Ustadz Iwan Januar

Dunia medis kembali diguncang epidemi global. Setelah Ebola, SARS, kini muncul Virus Corona mengguncang bukan saja daratan Cina Tiongkok, tapi mulai ke seluruh dunia. Wabah penyakit yang bermula terjadi di kota Wuhan, di Republik Rakyat Tiongkok ini menular dengan cepat ke hampir seluruh penjuru negeri Cina. Meski pemerintah Cina sudah mengisolasi kota Wuhan namun penyebarannya tak bisa dibendung lagi.

Virus Corona (lengkapnya novel coronavirus atau 2019-nCoV) segera menjadi epidemi global, menyebar cepat ke sejumlah negara tetangga. Media penularannya yang relatif mudah menyebabkan wabah penyakit ini menginfeksi orang secara luas, yaitu melalui pernafasan, percikan ludah, terkena nafas atau batuk dari orang yang mengidap virus Corona. Data terakhir sudah ada 13 negara melaporkan temuan pasien positif virus Corona. Negara-negara itu akhirnya mengeluarkan kebijakan travel warning kunjungan ke Tiongkok dan terhadap person yang masuk ke dalam negeri mereka, terutama yang berasal dari Cina.

Bagaimana cara Islam menangani kondisi wabah penyakit yang menjadi epidemi? Karena Islam bukan hanya agama ruhiyah yang mengajarkan ibadah, tapi Islam adalah ideologi yang memberikan petunjuk kehidupan, termasuk penanganan bencana wabah penyakit.

1. Setiap muslim wajib mengimani bahwa wabah penyakit adalah bagian dari musibah yang diberikan Allah SWT.

Penyakit adalah bagian dari musibah yang datang dariNya. Patut dijauhkan sikap mengatikan musibah wabah penyakit dengan kisah-kisah takhayul atau khurafat. Wabah penyakit adalah bagian dari kuasa Allah Azza wa Jalla.

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (TQS. At-Taubah: 51).

Dengan keimanan ini maka setiap muslim tidak akan tergelincir pada dosa besar syirik, dan sebaliknya akan semakin kuat keimanan pada Allah sekaligus menumbuhkan sikap tawakal padaNya.

2. Menumbuhkan optimisme bahwa wabah penyakit akan mendatangkan pahala dan menaikkan derajat bila disikapi dengan sabar

Dengan keimanan yang kokoh, seorang muslim akan bersabar menerima ujian penyakit. Ia meyakini bahwa kesabaran itu akan mendatangkan kebaikan; menggugurkan dosa dan menaikkan derajat.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya. (HR. Al-Bukhari Muslim).

Juga sabda Nabi SAW.

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji. (HR. Ath-Thabrani).

3. Tidak mencaci maki penyakit demam

Selain menuntun kaum muslimin untuk bersabar dalam menghadapi rasa sakit, Nabi SAW. juga memberikan nasihat untuk tidak mencela demam yang menimpa diri mereka Demam, pesan Nabi, berfaedah menggugurkan dosa dan kesalahan.

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjenguk Ummu As-Saaib atau Ummul Musayyib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

 “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’. (HR. Muslim no. 2575)

4. Berobat dengan pengobatan yang halal

Islam tidak mengizinkan seorang hamba pasrah tanpa usaha saat sakit. Rasulullah SAW. menganjurkan kaum muslimin untuk berobat dengan zat yang halal, dan ini hukumnya adalah sunnah. Namun menjadi wajib manakala berkaitan dengan ikhtiar mempertahankan hidup. Sabdanya:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ad-Daulabi)

Tentang anjuran berobat – dan bukan sebagai kewajiban – telah datang dari riwayat Imam Bukhari tentang seorang wanita bernama Su’airah dari Habsyah yang mendatangi Nabi SAW. dan meminta kesembuhan.

Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:

“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.”

Maka ia berkata:”Aku akan bersabar.” Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya aku (bila kambuh maka tanpa disadari auratku) terbuka, maka mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Maka Beliau shallallahu ’alaihi wasallam pun mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)

5. Menghilangkan faktor penyebab penyakit

Selain mengobati, langkah yang tak kalah penting adalah menghilangkan peluang datangnya agen penyakit yang menjangkiti manusia. Kaum muslimin dan Daulah Khilafah beserta seluruh warga negara harus menghilangkan berbagai kebiasaan, makanan, minuman, dan lingkungan yang bisa menjadi penyebab munculnya agen-agen penyakit. Maka sanitasi menjadi wajib, baik di tingkat pribadi ataupun masyarakat.

Dalam kasus Virus Corona yang diduga datang dari kebiasaan menyantap hidangan dari kelelawar, maka kebiasaan mengkonsumsi jenis binatang ini harus dicegah. Bagi kaum muslimin, hukum memakan kelelawar adalah haram. Sesuai sabda Nabi SAW:

لاَ تَقْتُلُوا الضَّفَادِعَ فَإِنَّ نَقِيقَهَا تَسْبِيحٌ وَلاَ تَقْتُلُوا الْخَفَّاشَ فَإِنَّهُ لَمَّا خَرِبَ بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ : يَا رَبُّ سَلِّطْنِى عَلَى الْبَحْرِ حَتَّى أُغْرِقَهُمْ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, ia berkata,  “Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbiih. Jangan kalian pula membunuh kelelawar, karena ketika Baitul-Maqdis roboh ia berkata : ‘Wahai Rabb, berikanlah kekuasaan padaku atas lautan hingga aku dapat menenggelamkan mereka” (HR. Al Baihaqi dalam Al-Kubraa 9: 318 dan Ash-Shughraa 8: 293 no. 3907, dan Al-Ma’rifah hal. 456. Al Baihaqi berkata bahwa sanad hadits ini shahih)

Bila dalam agama warga negara non muslim ada kebolehan memakan daging tersebut, maka Daulah Khilafah berhak melarangnya bila ternyata terbukti atau diduga kuat menimbulkan kemudlaratan – seperti munculnya wabah penyakit – pada masyarakat.

6. Tetap optimis dan haram meminta kematian

Virus Corona membawa penyakit berbahaya dan mematikan. Meski demikian setiap muslim terlarang putus harapan apalagi mengharap kematian manakala tertimpa penyakit berat sekalipun.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَوْلاَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَنْ نَدْعُوَ بِالْمَوْتِ لَدَعَوْتُ بِهِ

“Jika bukan karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk berdoa meminta kematian, niscaya aku akan memintanya.” (HR. Bukhari no. 7234)

Untuk mereka yang ditimpa penyakit berat seperti Virus Corona ini tetap bersabar, optimis dan dianjurkan membaca doa yang diajarkan Nabi SAW.:

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.” (HR. Bukhari no. 6351, 5671 dan Muslim no. 2680)

7. Mengembangkan teknologi kedokteran dan medis yang mutakhir serta berkhidmat pada kemanusiaan

Ketika kapitalisme menjadikan kesehatan dan nyawa sebagai barang dagangan, dengan makin mahalnya biaya layanan kesehatan, harga obat-obatan, Islam justru memerintahkan Daulah Khilafah dan kaum muslimin untuk berkhidmat melayani kesehatan umat manusia. Nabi SAW. pernah diberi hadiah seorang dokter oleh Raja Mesir Muqauqis, lalu oleh Beliau dokter itu dipekerjakan untuk melayani kesehatan kaum muslimin. Ini menjadi dalil bahwa negara berkewajiban melayani kesehatan umat secara Cuma-Cuma.

Di masa Daulah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah satu rumah sakit terkemuka bernama Rumah Sakit an-Nuri dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari Dinasti Umayyah. Khalifah Walid juga meminta tempat perawatan khusus untuk penderita lepra agar tidak menular. Saat kepemimpinan Khalifah Nuruddin Zinki pada tahun 1156 M, rumah sakit ini diperluas dan diperbesar. Ia dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada masa berikutnya juga dibuat rumah sakit keliling yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk melayani masyarakat.

Tersedianya pelayanan kesehatan yang canggih, profesional dan memadai bagi warga menjadi amat penting untuk mencegah berkembangnya wabah penyakit dan mengobati warga.

8. Mengisolasi wilayah wabah, mencegah warga keluar dan masuk

Daulah Khilafah harus menerapkan kebijakan isolasi atas suatu wilayah yang telah menjadi epidemi. Hal ini telah diajarkan oleh Baginda Nabi SAW. bahwa bila pada suatu wilayah telah terjadi wabah penyakit, maka warga yang di dalam tidak boleh keluar, sedangkan yang di luar tak boleh memasukinya. Sabda Beliau:

« الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَفِرُّوا مِنْهُ »

Wabah Tha’un adalah suatu ayat, tanda kekuasaan Alloh Azza Wajall yang sangat menyakitkan, yang ditimpakan kepada orang-orang dari hambaNya. Jika kalian mendengar berita dengan adanya wabah Tha’un, maka jangan sekali-kali memasuki daerahnya, jika Tha’un telah terjadi pada suatu daerah dan kalian disana, maka janganlah kalian keluar darinya.

Maka kebijakan pemerintah Indonesia adalah gegabah karena beberapa hari lalu tetap mengizinkan warga asal Tiongkok masuk ke Tanah Air. Padahal negara-negara lain telah memberlakukan travel warning, serta melarang orang yang datang dari Cina memasuki negara mereka.

Alasan pemerintah karena telah memasang alat pemindai suhu badan (thermal scanner) di sejumlah bandara internasional untuk mendeteksi kemungkinan penumpang yang mengidap virus Corona. Padahal alat pemindai suhu tubuh diduga hanya efektif pada individu yang sudah menunjukkan gejala positif terinfeksi, sedangkan orang yang belum menunjukkan gejala tersebut tak akan terdeteksi oleh thermal scanner tersebut. Dua pasien pengidap virus Corona lolos dari thermal scanner di Prancis, karena saat naik pesawat tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus n-Cov tersebut.

Maka saran dari beberapa pihak, termasuk Ombudsman dan Ketua MPR agar pemerintah melarang sementara kedatangan warga asal Tiongkok, menjadi mutlak harus dilakukan. Janganlah pertimbangan devisa hasil kunjungan wisatawan, atau kepentingan investasi membuat pemerintah membuat kebijakan yang membahayakan warganya sendiri.

Melihat kejadian demi kejadian sejumlah epidemi global seperti virus Corona, SARS, Ebola atau Anthrax, terlihat bila umat membutuhkan kehadiran Daulah Khilafah untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu karena dikarenakan perlu teknologi kedokteran dan farmasi yang canggih dan berkhidmat pada pelayanan umat. Khalifah bersama aparaturnya, dan umat Muslim, telah diwajibkan untuk mencegah mudlarat dan menciptakan kemaslahatan bagi manusia, termasuk dalam bidang kesehatan. Semua itu dilakukan atas dorongan kemanusiaan (qimah al-insaniyyah), sehingga Daulah Khilafah akan menolong semua bangsa dan negara tanpa memandang status agama mereka. Sebagaimana dahulu berkali-kali dalam sejarah Daulah Khilafah menolong bangsa-bangsa asing seperti mengatasi kelaparan di Irlandia di tahun 1845 dengan mengirimkan makanan dan uang sebesar 10 ribu sterling, sedangkan Kerajaan Inggris yang menguasai Irlandia hanya memberikan bantuan sebesar seribu sterling.

Negara-negara kapitalis hari ini juga berlaku kejam dan kapitalistik pada negara-negara lain, terutama negara-negara lemah. Banyak dugaan negara-negara miskin menjadi praktek percobaan senjata kimia atau biologis seperti Anthrax milik militer Amerika Serikat, atau Ebola yang ditengarai dikembangkan militer Uni Soviet di akhir tahun 80-an. Virus Corona yang mewabah sekarang diduga kuat oleh intelijen Israel bocor dari laboratorium militer rahasia milik pemerintah komunis Cina.

Selain itu, negara-negara kapitalis Barat bersama perusahaan-perusahaan farmasi kapitalis kerap menjadikan masyarakat di negara dunia ketiga sebagai kelinci percobaan berbagai obat-obatan yang diproduksi perusahaan-perusahaan kapitalis farmasi Barat. Misalnya pemerintah Nigeri menuntut perusahan farmasi asal  Amerika Serikat, Pfizer, dengan tuduhan melakukan eksperimen medis tahun 1996 pada anak-anak yang mengakibatkan 11 orang tewas. Nigeria menuntut ganti rugi 7 miliar Dollar AS.

Bahkan seringkali wabah penyakit yang berkembang di negeri-negeri dunia ketiga itu diambil sampelnya untuk kemudian mereka buat vaksin, lalu mereka jual ke negara-negara miskin tersebut untuk mengambil keuntungan berlipat-lipat. Inilah penjajahan Barat terhadap negara dunia ketiga dalam bidang medis dan farmasi.

Maka umat manusia memang membutuhkan kehadiran Daulah Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam, dan menciptakan keamanan, kesejahteraan dan keamanan bagi seluruh umat manusia. In sha Allah.

________

Sumber : https://www.iwanjanuar.com/cara-islam-dan-khilafah-menghadapi-epidemi/