Akar Masalah Gaul Bebas Remaja


Oleh : Ummu Farras (Pemerhati Remaja) 

Di negeri yang menganut sistem sekular liberal saat ini, seks di luar nikah bukan hal yang tabu lagi bagi siapa saja, termasuk remaja. Bahkan, ada yang merasa bangga jika sudah melakukan hal tersebut bersama pasangannya. Gak keren dan gak gaul katanya, jika belum melakukannya. Jika sudah demikian, akan bagaimana nasib generasi muda bangsa? 
Akar masalah dari tingginya kasus pergaulan bebas remaja, yakni perilaku seks pranikah dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

Pertama, minimnya penanaman nilai agama dan akidah remaja. Hal ini menyebabkan keimanan remaja dan generasi muda semakin menipis. Di negeri penganut sekularisme ini, meski mayoritas penduduknya adalah muslim, namun aturan Islam dibatasi hanya sebagai ibadah mahdoh semata. Para remaja pun tidak menjadikan aturan Islam sebagai landasan dari segala aspek kehidupannya. Akibatnya, remaja tak takut lagi untuk melakukan perbuatan asusila. Orangtua pun merasa tak berdosa membiarkan anaknya pacaran dan membuka auratnya. Padahal, keimananlah yang bisa menjadi self control dan 'warning' bagi seorang muslim dari berbagai kemaksiatan termasuk perzinaan.

Kedua, tidak adanya kepedulian/kontrol masyarakat. Saat berbagai kemaksiatan terjadi di tengah-tengah masyarakat, tak ada tindakan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Mereka terkesan membiarkan dan bersikap masa bodoh, sibuk dengan urusan pribadi masing-masing (individualisme). Prinsip tak mencampuri urusan orang lain, menjadi pegangan tiap individu masyarakat. Akibatnya, tak ada kontrol di tengah-tengah masyarakat. Remaja tak lagi malu ketika mempertontonkan tindakan asusila. Seperti berduaan, berpacaran, dan tidak menutup aurat.

Ketiga, gaya hidup liberal. Remaja dan generasi muda saat ini cenderung berkiblat ke barat. Gaya hidup remaja saat ini begitu bebas tanpa batas. Ini dikarenakan gempuran peradaban barat yang begitu deras meracuni pemahaman remaja muslim. Semua aspek kehidupan remaja kini sudah terpapar ide Liberalisme. Gaya hidup remaja yang hedonis, konsumtif, dan kebarat-baratan kini lekat dengan kehidupan remaja. Hal ini menuntut mereka untuk serba boleh dan bebas dalam melakukan segala hal. Termasuk bebas memilih gaya hidupnya. Maka, dari mulai pakaian (fashion), gadget, makanan, hingga perilaku, para remaja berkiblat ke barat. Alasan ini juga yang mendorong mereka untuk terjun ke jurang kemaksiatan. Berpacaran, clubbing, ngedrugs, dll. Ini semua dilakukan demi memenuhi gaya hidup.

Keempat, tidak adanya sanksi yang tegas. Di negeri ini, remaja yang melakukan perbuatan asusila termasuk perzinaan tak dikenakan sanksi yang tegas. Alasannya, karena mereka masih di bawah umur sehingga tak dapat dijerat undang-undang yang ada. Alasan lainnya, karena dalam KUHP perbuatan asusila baru dapat diterapkan pada tindak pemerkosaan atau kalau ada pelaporan. Sementara seks bebas pada remaja yang katanya dikarenakan suka sama suka tak masuk dalam kategori kriminal. Ataupun ketika tidak ada pelaporan dari korban tak akan di proses hukum. Akibatnya, remaja tak jera. Dan mengulangi kembali perbuatan tersebut. Maka, wajar jika seks bebas pada remaja ini tiada akhirnya.

Kelima, tidak adanya peran negara untuk melindungi remaja dan generasi bangsa. Seharusnya, peran negara ada di garda terdepan dalam melindungi eksistensi para remaja di negerinya. Karena remaja merupakan aset masa depan bangsa. Di tangannya tonggak estafet peradaban umat diberikan. Tapi kenyataannya, di negeri sekularisme yang memisahkan antara peranan Agama dari kehidupan saat ini, para remaja dibiarkan saja membebek ke barat. Dibiarkan dengan segala problematika kompleks tanpa solusi tuntas. Maka, justru pada akhirnya generasi muda ini akan berpotensi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Wallahu'alam bisshowwab

Sumber : Muslimah Banten Official 
banner zoom