Seorang Mukmin Tidaklah Berdusta


Kebohongan adalah salah satu sifat tercela dalam Islam, bahkan sebelum Islam, para penyembah berhala di Makkah sudah menganggap kebohongan adalah ‘aib yang sangat memalukan.

Abu Sufyan, salah satu tokoh Quraisy, saat masih menjadi penyembah berhala pernah ditanya Kaisar Heraqlius, lewat penerjemahnya: “Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi (yakni Nabi Muhammad saw). Jika ia berdusta kepadaku, maka kalian harus mendustakannya.” Abu Sufyan berkata:

فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ

“Demi Allah, jika bukan karena rasa malu aku akan mereka tuduh telah berdusta, niscaya aku akan berdusta tentangnya.” (Shahih al Bukhari, 1/8. Maktabah Syamilah).

Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya:

أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَاناً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» .

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلاً؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»

فَقِيلَ لَهُ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّاباً؟ فَقَالَ: «لاَ»

“Apakah seorang mukmin bisa bersifat pengecut? Beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanya lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa bersifat pelit?’, beliau menjawab: ‘ya’.

Lalu ditanyakan lagi: ‘apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?’, beliau menjawab: tidak” (HR. Imam Malik dalam al Muwaththa’ dan al Baihaqi dalam Syu’abul ‘Iman).

Jika Abu Sufyan saat masih menyembah berhala dan hidup dalam zaman jahiliyyah saja malu untuk berdusta, maka sudah selayaknya seorang muslim meninggalkan dusta walaupun dalam rangka bercanda. Sungguh disayangkan jika seorang muslim berkata dusta, lalu ketika diklarifikasi dia mengatakan “saya hanya bercanda, guyon”, padahal ada sebuah hadits menyebutkan,

لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ، وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً

“Tidak seseorang beriman seutuhnya sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda dan ia meninggalkan debat kusir walaupun dia benar.” (HR. Ahmad).[1]

Rasulullah tidaklah berdusta walau dalam canda sekalipun, beliau mengatakan:

إِنِّي لأَمْزَحُ، وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda, namun tiada yang kukatakan melainkan kebenaran.” (HR. at Thabrani dalam al Awsath, 1/298)

Kenapa untuk hal yang ‘kecil’ dan ‘remeh’ kita dilarang berbohong? Karena satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru dalam rangka menutupi kebohongan lama, dan jika dibiarkan lambat laun akan hilanglah rasa malu untuk berbohong, hingga akhirnya Allah Ta’ala akan mencap dirinya sebagai pembohong.

Rasulullah saw bersabda:

وَمَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

“…dan senantiasa seorang hamba berdusta dan memilih yang dusta sehingga akhirnya dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR.al Bukhari dan Muslim).

Jika hal ini makin parah, maka level kebohongannya juga akan makin tinggi, hingga bisa berbohong atas nama Allah, halal-haram akan dibuat sesuai keinginan hawa nafsunya sembari memelintir ayat-ayat Allah untuk menjustifikasinya, wal iyaadzu billaah.

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِۖ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An Nahl: 105).

Jika sudah sampai level berani memelintir ayat suci untuk membuat kebohongan, sementara Abu Sufyan saat jahiliyah saja malu berbohong terkait pribadi Rasulullah, lantas siapa yang lebih pantas menyandang predikat “jahiliyah”? . Allaahu A’lam.

===
Sumber:
https://mtaufiknt.wordpress.com/2018/08/14/seorang-mukmin-tidaklah-berdusta/


banner zoom