Melihat Banjir di Era 4.0

Maka lalu muncul gagasan, bagaimana teknologi 4.0 dapat berkontribusi menanggulangi bencana? Kalau industri, bisnis dan pendidikan sudah semakin masuk ke era revolusi industri 4.0, tentunya penanggulangan bencana juga.
________________________________________

Oleh: Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar (Profesor Riset Sistem Informasi Spasial – BIG)

Di hari pertama tahun 2020, banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor dan sekitarnya. Sebagian memicu longsor. Seperti di beberapa titik Kecamatan Sukajaya Bogor.

Banjir adalah bencana bertemunya “faktor langit” yaitu kehendak Allah dalam menurunkan curah hujan untuk menguji kita, dengan “faktor bumi” – yaitu akibat ulah tangan-tangan manusia.

Ada sejumlah pelanggaran yang dilakukan manusia, seperti dalam wujud perusakan hutan, penambangan liar, pengabaian amdal, dan sebagainya. Ada oknum pemerintah yang abai atau lalai terhadap pelanggaran tersebut. Ironisnya, pemerintah malah berencana menghapuskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan juga Amdal. Demi menggenjot investasi, izin-izin nanti cukup dilakukan via Online Single Submission (OSS) berbasis peta Rencana Detil Tata Ruang (RDTR). Bagaimana bila RDTR nya sendiri dibuat dengan tergesa-gesa? Tanpa melalui kajian ilmiah yang mendalam dan komprehensif?

===

Maka lalu muncul gagasan, bagaimana teknologi 4.0 dapat berkontribusi menanggulangi bencana? Kalau industri, bisnis dan pendidikan sudah semakin masuk ke era revolusi industri 4.0, tentunya penanggulangan bencana juga.

Penanggulangan bencana mengenal 4 siklus: (1) mitigasi, (2) peringatan dini, (3) tanggap darurat, dan (4) rehabilitasi.

Pada siklus-1, analisis big data dari aneka sumber dapat dijadikan prediksi potensi kerawanan bencana (hazard) dan risiko (disaster) di suatu lokasi. Sudah tidak saatnya lagi, peta tematis bencana untuk dasar RDTR berskala 1:5.000 hanya dibuat dari perbesaran (blow-up) peta inarisk BNPB yang skalanya 1:250.000.  

Semestinya peta tematis bencana ini dibuat dari data citra satelit resolusi tinggi atas kondisi vegetasi aktual, data elevasi (untuk menghitung lereng), data jenis tanah dan data curah hujan secara time-series. Juga kejadian banjir dan longsor historis sejak ada pencatatan. Analisis dengan dinamika sistem spasial juga perlu untuk setiap perencanaan baru, agar konstruksi baru itu tidak justru memunculkan banjir bagi kawasan lain yang sebelumnya tak pernah banjir.

===

Pada siklus-2, crowd-source dan internet of things (IoT) termasuk data gerakan awan pada satelit cuaca dan data dari aneka sensor pada gawai yang kini nyaris ada pada setiap orang, dapat dijadikan acuan untuk memberikan peringatan dini. Di era 4.0 sudah saatnya ribuan CCTV yang dipasang di berbagai lokasi tak hanya sekedar pajangan, namun dianalisis secara cepat dengan artificial intellegence (AI) untuk memberikan peringatan dini secara tepat waktu.  

BPBD Kabupaten Sleman sudah mencoba sistem untuk memberi tahu seluruh gawai dalam radius bencana terkait aktivitas gunung Merapi. Tentunya gawai tersebut harus memasang aplikasi yang meraih hadiah Bhumandala Inovasi 2019 ini.

===

Pada siklus-3, participatory mapping akan memudahkan gotong royong saat bencana terjadi. Orang yang memegang gawai meski dikepung banjir, tetap bisa berorientasi karena sistem akan memberikan informasi area yang kering atau masih dapat dilalui kendaraan. Route evakuasi pun mestinya dapat dibantu.  

Sistem informasi spasial kaji cepat dampak bencana dapat menghitung dan memetakan Infrastruktur (jalan, jembatan, listrik, air bersih) yang rusak dan perlu segera dipulihkan. Web-map sebaran pengungsi dan cadangan logistik dapat mengoptimasikan arus relawan dan bantuan dari donatur. Demikian juga daerah-daerah hinterland yang tak secara langsung terpapar bencana, namun ikut terkena dampaknya seperti putusnya infrastruktur, tidak akan terlupakan.

===

Pada siklus-4, e-planning akan membantu pekerjaan rekonstruksi yang sangat besar, yang perlu melibatkan lebih banyak pihak. Di sini era 4.0 menawarkan media sosial dan crowd-funding, sehingga pekerjaan ini dapat dipercepat dengan gotong royong. Masyarakat berperan serta sejak perencanaan. Penawar barang dan jasa dapat ikut berpartisipasi dan memberikan harga terbaik. Para donatur juga puas karena dapat mengawasi proyek secara menyeluruh dan rinci.

Kapan Penanggulangan Bencana 4.0 dapat dimulai? Secara parsial sejak sekarang. Sejumlah LSM dan lembaga di daerah sudah memulai. Hanya masih uji coba. Tinggal menunggu para kepala daerah dan pejabat terkait yang lain secara massif, sistemik dan terstruktur untuk mencontoh. Juga untuk bentuk-bentuk bencana selain banjir. Demi masa depan anak cucu kita juga.  

===
Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, 16 Januari 2020


banner zoom