-->

Karhutla Belum Padam, Puluhan Ribu Balita Terancam


Oleh : Syafitri Nurul Aini (Aktivis Muslimah)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan persoalan lingkungan yang dampaknya tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengancam kehidupan manusia. Asap pekat yang menyelimuti pemukiman dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama bagi bayi dan balita yang sistem pernapasannya masih rentan.

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus. Dari total angka tersebut, sebanyak 258.298 kasus dialami warga berusia di atas lima tahun. Sisanya, yakni 75.172 kasus terjadi pada balita. Kasus ISPA ini tercatat berada pada 68 kabupaten/ kota di 7 provinsi. Lonjakan drastis penderita ISPA ini sejalan dengan pekatnya kabut asap yang mencemari udara.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Fifi Sofiah mengingatkan dampak jangka panjang cemaran udara akibat karhutla yang menyebabkan ISPA pada anak dan balita. Dia mengatakan bahwa organ pernapasan anak menjadi sasaran utama, karena partikel kasar (PM10) mengiritasi saluran napas atas, sedangkan PM2.5 yang bersifat _ultrafine_ menimbulkan gangguan pada saluran napas bawah. Kondisi ini berpotensi menimbulkan penyakit paru kronik dan menurunkan kualitas hidup anak hingga dewasa. (Kompas.com, Jum'at 23/10/2026)

Peran Pemerintah dalam Menangani Karhutla

Karhutla yang terjadi tiga bulan terakhir dipicu oleh beberapa faktor, seperti faktor alam berupa cuaca panas dan kering yang berkepanjangan. Serta aktivitas manusia dalam pembukaan lahan baru dengan cara membakar juga menjadi pemicunya.

Kebakaran yang terus berulang setiap tahunnya menyebabkan kerusakan yang parah. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya dengan memadamkan api, tetapi diperlukan tindakan pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, serta pemulihan hutan secara berkelanjutan. Bukan malah dijadikan perkebunan sawit yang memberikan keuntungan bagi para oligarki.

Bukan rahasia lagi jika saat ini kita melihat bahwa negara tidak serius dalam menangani karhutla. Sudah berbulan-bulan kebakaran hutan tidak kunjung padam. Negara juga abai akan keselamatan dan kesehatan warga negaranya. Bahkan menganggap karhutla ini sebagai hal yang biasa saja bahkan sepele. Padahal, hutan memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan sumber kehidupan dan membantu mempertahankan kualitas lingkungan. 

Solusi Karhutla dalam Islam

Dalam Islam, keselamatan jiwa merupakan perkara yang sangat penting. Ketika karhutla mengancam kesehatan balita dan masyarakat, maka penanganannya tidak boleh berhenti pada bantuan sementara, tetapi harus menyentuh penyebab utama terjadinya kebakaran. Dan ini merupakan salah satu tugas pemimpin negara dalam menjalankan amanah melindungi rakyat.

Islam memandang bahwa seorang pemimpin adalah pihak yang bertanggung jawab dalam mengurus kepentingan rakyatnya. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

"Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar dihadapan Allah SWT. Ia harus mempertanggung jawababkan kepemimpinannya kelak di akhirat.

Pemimpin atau Khilafah dalam Islam akan bertanggung jawab dan berusaha dengan sebaik-baiknya meriayah rakyatnya. Seperti salah satu kisah Khalifah Umar bin Khattab yang mendatangi rumah seorang wanita dengan beberapa anaknya yang kelaparan. 

Kisah itu bermula saat beliau bekeliling dan tidak sengaja mendengar tangisan anak-anak yang kelaparan. Beliau mendatangi rumah tersebut dan mendapati bahwa ibu itu berpura-pura memasak, padahal ia sedang merebus air dan beberapa batu. Si ibu terpaksa melakukannya agar anak-anaknya yang kelaparan mengira makanan sedang dimasak, hingga mereka lelah dan akhirnya tertidur karena lama menunggu.

Melihat hal tersebut, Khalifah Umar langsung pergi ke Baitul Mal untuk mengambil sekarung gandum dan lauk pauk. Setelah kembali ke rumah wanita tersebut, beliau lalu memasak untuk mereka hingga matang dan menyajikannya sampai mereka kenyang.

Ini adalah bukti dan tanggung jawab sebagai pemimpin dalam meriayah rakyatnya, seorang pemimpin juga harus memiliki rasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Karena kelak ia yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya selama menjadi pemimpin di hadapan Allah SWT. Termasuk dalam menangani masalah karhutla saat ini.

Jangan sampai hutan terus terbakar dan penderitaan anak-anak hanya menjadi berita yang berulang. Sudah saatnya keselamatan dan kelestarian hutan alam diutamakan. Karena menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

Wallahua'lam bishawab