Zionis Penjarakan 370 Anak Palestina, Penguasa Muslim Membisu
Oleh : Eva Arlini (Pemerhati Masyarakat)
Bayangkan seorang anak yang seharusnya duduk di bangku sekolah, bermain bersama teman, dan tumbuh penuh harapan—justru mendekam di balik jeruji penjara. Bukan karena melakukan kejahatan, melainkan karena lahir dan hidup sebagai anak Palestina di bawah pendudukan Zionis.
Laporan terbaru menyebut sekitar 370 anak Palestina kini ditahan di penjara Israel, sebagian besar di Penjara Megiddo dan Ofer. Mereka bagian dari lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel hingga awal Agustus 2026. Dalam enam bulan pertama tahun ini saja, 276 anak Palestina dilaporkan ditangkap pasukan Israel.
Ini bukan angka yang boleh dibaca sambil lalu. Di balik angka 370, ada 370 anak—dengan nama, wajah, ibu, ayah, saudara, cita-cita, dan masa depan yang dirampas.
Kebijakan, Bukan Kebetulan
Persoalan ini bukan hal baru. Sejak pendudukan 1967, tercatat lebih dari 50.000 kasus penangkapan terhadap anak Palestina. Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan menyebut penangkapan anak telah menjadi bagian dari kebijakan sistematis yang berdampak pada masa kini dan masa depan mereka.
Maka wajar muncul pertanyaan: benarkah ini sekadar persoalan keamanan? Atau bagian dari upaya mematahkan mental sebuah bangsa sejak usia dini?
Anak yang ditangkap, diintimidasi, dan dipenjara membawa luka fisik maupun psikologis. Ketika rumah tak lagi aman, ketika tentara bisa datang menangkap kapan saja, ketika masa kecil digantikan jeruji besi—yang sedang dihancurkan bukan hanya seorang anak, melainkan masa depan Palestina.
Ketika Penguasa Muslim Memilih Diam
Yang membuat hati semakin miris: kejahatan terus berlangsung, sementara penguasa negeri-negeri Muslim seakan tidak berdaya. Kita mendengar pernyataan keprihatinan, kecaman, konferensi dan pertemuan—tapi anak-anak Palestina tetap di penjara.
Sampai kapan?
Jika 370 anak yang dipenjara saja belum cukup menggerakkan tindakan nyata, berapa banyak lagi korban yang dibutuhkan agar umat Islam sadar bahwa Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan?
Palestina adalah tanah kaum Muslimin. Al-Quds bagian dari sejarah dan kehormatan umat Islam. Karena itu, penderitaan rakyat Palestina bukan persoalan bangsa Palestina semata. Dalam Islam, sesama Muslim ibarat satu tubuh—ketika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan.
Lantas bagaimana mungkin umat menyaksikan anak-anak Palestina dipenjara, disiksa, kehilangan masa kecil dan masa depan, sementara para penguasa Muslim justru sibuk dengan kepentingan politik dan hubungan internasional?
Islam Bukan Ajaran Diam di Hadapan Kezaliman
Islam tidak mengajarkan negara menjadi penonton ketika kezaliman terjadi. Islam menempatkan negara sebagai pelindung dan pengurus rakyat—kekuasaan adalah amanah untuk menjaga agama, jiwa, kehormatan, dan keamanan manusia, bukan sekadar alat administrasi.
Bahkan dalam peperangan, Islam punya aturan tegas. Anak-anak, perempuan, orang tua, dan pihak yang tidak terlibat pertempuran tidak boleh menjadi sasaran—Rasulullah ﷺ melarang pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak dalam perang. Aturan perang dalam Islam tidak dibangun di atas prinsip "semua boleh demi kemenangan"; kekuatan militer tunduk pada hukum Allah. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirim pasukan, beliau berpesan agar tidak membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua, tidak berkhianat, tidak merusak, dan tidak berbuat zalim.
Inilah beda mendasar antara kekuatan yang tunduk pada syariat dengan kekuatan yang menjadikan kepentingan dan kekuasaan sebagai ukuran.
Islam juga mengatur perlakuan terhadap tawanan perang—mereka bukan objek untuk disiksa, melainkan punya hak yang harus dijaga. Al-Qur'an bahkan memuji orang beriman yang memberi makan tawanan meski mereka sendiri membutuhkannya. Artinya, dalam Islam, kekuatan besar bukan lisensi untuk berbuat zalim—justru semakin besar kekuatan, semakin besar tanggung jawab menegakkan keadilan.
Bukan Sekadar Bantuan Kemanusiaan
Persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan dengan belas kasihan dan bantuan kemanusiaan saja. Bantuan penting, menolong korban wajib—tapi selama penjajahan dan sumber kezaliman dibiarkan, penderitaan akan terus berulang.
Umat Islam butuh kesadaran bahwa Palestina adalah persoalan politik umat, bukan sekadar persoalan bantuan kemanusiaan. Diperlukan persatuan umat dan kepemimpinan yang menjadikan pembebasan Palestina sebagai tanggung jawab, bukan slogan.
Persoalannya, apakah para penguasa Muslim hari ini punya keberanian menjalankan tanggung jawab itu? Atau mereka akan terus memilih diam karena terikat kepentingan politik, ekonomi, dan hubungan dengan negara-negara besar?
Sudah terlalu lama Palestina menjadi saksi: umat berjumlah besar, tapi kekuatannya tercerai-berai. Sudah terlalu lama anak-anak Palestina tumbuh dengan suara ledakan, kehilangan orang tua, rumah, bahkan kebebasan.
Palestina butuh pembelaan nyata. Umat butuh persatuan, kekuatan, dan kepemimpinan yang menjadikan syariat Allah sebagai pedoman melindungi manusia dan melawan kezaliman.
Sebab anak-anak Palestina seharusnya mengenal dunia lewat sekolah, keluarga, permainan, dan mimpi tentang masa depan—bukan lewat jeruji penjara. Mereka berhak tumbuh sebagai anak-anak. Bukan sebagai tahanan.

Posting Komentar