-->

Krisis Murid Baru di Sejumlah Sekolah Negeri di Binduriang dan Rejang Lebong, Orang Tua Memilih Sekolah Swasta?


Oleh : Noviana Husnul Khatimah, Amd. (Penulis Ideologis Lubuklinggau)

Wilayah Binduriang (Kecamatan Binduriang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu) pernah mengalami masalah serius terkait sekolah negeri yang sepi peminat. Puncaknya terjadi pada SMP Negeri 32 Rejang Lebong di Desa Simpang Beliti, yang terpaksa ditutup akibat tidak memiliki siswa. (Antaranews.com). Sementara itu, pada jenjang SD terdapat 13 sekolah yang belum mendapatkan murid baru sama sekali, yakni SD Negeri 31, SD Negeri 41, SD Negeri 61, SD Negeri 132, SD Negeri 140, SD Negeri 149, SD Negeri 150, SD Negeri 155, SD Negeri 158, SD Negeri 161, SD Negeri 164, SD Negeri 166, dan SD Negeri 167 Rejang Lebong. 

Pada jenjang SMP, SMP Negeri 35 Rejang Lebong menjadi satu-satunya sekolah yang belum mendapatkan peserta didik baru. Selain itu, SMP Negeri 30 baru menerima lima pendaftar, SMP Negeri 38 sebanyak enam pendaftar, sedangkan SMP Negeri 40 hanya memperoleh dua calon siswa baru. (bensindonesia.id, 15/07) 

Penyebab sekolah (terutama tingkat dasar) sepi peminat antara lain :
   1. Penurunan jumlah anak akibat program keluarga berencana 
   2. Perpindahan penduduk dan perubahan demografi kota.                            
  3. Persaingan dengan sekolah swasta berbasis agama yang menawarkan jam belajar lebih panjang, serta aturan batas usia masuk sekolah.

Faktor Demografi dan Wilayah Jumlah anak usia sekolah di sekitar area tersebut berkurang drastis. Perubahan fungsi wilayah menjadi area komersial atau pabrik. Lokasi sekolah yang rawan masalah alam seperti banjir. Tata letak dan sebaran sekolah yang tidak merata dengan jumlah penduduk. 

Perubahan Pilihan Orang TuaOrang tua lebih memilih sekolah swasta atau sekolah Islam terpadu (SDIT) karena menawarkan jam belajar seharian penuh yang berfungsi ganda sebagai tempat penitipan anak. Keinginan kuat agar anak mendapat pendidikan agama yang lebih intensif sejak dini. Sistem zonasi atau batasan umur seleksi membuat orang tua menyekolahkan anak lebih cepat ke lembaga swasta. Mutu dan Kebijakan Mutu dan fasilitas sekolah yang kalah saing dengan sekolah lain. Ruang gerak inovasi kepala sekolah negeri yang terbatas karena terikat aturan birokrasi kaku. Jumlah sekolah negeri yang terlalu banyak di satu zonasi sehingga murid terpencar.

Benarkah demikian? 

Bisa jadi, para orang tua memilih sekolah berbasis agama Islam karena menurunnya kualitas akhlak diantara para guru dan murid di sekolah. Dan juga banyak kasus pembuly-an di sekolah, pelecehan seksual diantara para murid maupun dilakukan para guru, kualitas bangunan sekolah banyak rusak dan juga minimnya tenaga pendidik yang mengajar di sekolah. 

Sejatinya, Indonesia merupakan salah satu penganut sistem Kapitalisme-Sekulerisme yang menjadikan sekolah swasta di branding lebih baik dibanding dari sekolah negeri, yang menjadikan sekolah-sekolah sebagai orientasi bisnis dan didukung para investor ataupun donatur (kapitalis) yang kaya sehingga mereka "bertarung"dari segala fasilitas lebih unggul dan kurikulum lebih mumpuni. 

Sudah ciri khas dari sistem ini yang kuat dialah yang bertahan. Jurang pemisahan antara kaya dan miskin semakin lebar. 

Dan juga semakin mahal biaya pendidikan, semakin tinggi biaya hidup, lapangan pekerjaan menyempit yang menjadikan anak-anak dari keluarga miskin tak mampu bersekolah walaupun biaya sekolah gratis tapi biaya lain dari seragam, dan peralatan sekolah yang tak murah. 

Pendidikan Berkualitas Adalah Kewajiban Negara.

Di dalam Islam menjadikan pendidikan sebagai dasar peradaban suatu negara besar. Dan kewajiban bagi rakyatnya untuk menuntut ilmu karena merupakan perintah Allah. 

Dan juga tanggung jawab negara menjamin pendidikan bagi rakyatnya tanpa terkecuali baik kaya maupun miskin. Bahkan kesejahteraan guru pun sangat diperhatikan. 

Sebut di masa kekhilafahan Umar bin Khaththab gaji gurunya saja mencapai 15 dinar yang jika dikonversikan ke dalam rupiah berapa juta yang diterima setiap guru.

Kualitas pendidikan pada masa kejayaan kekhilafahan Islam (khususnya era Daulah Abbasiyah dan sebelumnya, diletakkan dasarnya pada masa Khulafaur Rasyidin) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Negara hadir secara aktif dengan menyediakan infrastruktur lengkap, mendanai fasilitas riset, serta menjadikan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan peradaban. 

Didalam Islam tidaklah mengejar provit dalam pendidikan tapi kualitas pendidikan, yang dirasakan seluruh rakyatnya. 

Karena bangunan negara bisa kokoh karena pendidikan Islam yang menjadi pembentuk karakter pribadi yang kelak akan memberikan sumbangsih bagi para ilmuwan, guru, hingga penguasa menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. 

Dan rakyat bisa merasakan segala fasilitas terbaik tanpa biaya sedikitpun karena hal tersebut adalah kewajiban negara terhadap warga negaranya. 

Semua itu akan terwujud ketika kita menerapkan Islam Kaffah dalam suatu negara yaitu khilafah Islamiyyah, pengelolaan SDA, dan sumber-sumber pendapatan negara lainnya baik fai, kharaj, zakat yang dikelola sesuai syari'at Islam, dan semua digunakan untuk rakyat.

Wallahu a'lam bish-shawwab.