-->

Menggugat Akar Krisis Gen Z dan Menjemput Solusi Hakiki


Oleh : Al Fikr Mustaniroh

Generasi Z di Indonesia kini tengah menghadapi ancaman yang sangat berat yaitu krisis mental yang serius. Alih-alih menuju Indonesia Emas, malah dihantui ancaman nyata “Indonesia Cemas”. Berdasarkan hasil survei, generasi yang lahir di rentang tahun 1997-2012 ini tercatat sebagai kelompok usia yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental dibandingkan dengan generasi lainnya. Dari data Kementrian Kesehatan RI terbaru, sekitar 700.000 anak muda di tanah air terbukti mengidap gejala kecemasan dan depresi (tirto.id).

Krisis kesehatan mental ini kian diperparah oleh kecemasan struktual global. Laporan terbaru menunjukkan ada ratusan juta generasi Z yang kini menganggur dan terjebak dalam ketidakpastian karir. Kombinasi antara rapuhnya kesehatan mental dan masa depan ekonomi yang buram ini sempat membuat generasi Z bersikap cuek. Tetapi dengan kondisi yang seperti ini, membuat anak-anak muda mulai sadar. Sehingga munculah gelombang perlawanan atau resistensi. Dimana generasi Z mulai membangun ruang-ruang perlawanan demi merebut kembali atas hidup mereka . 

Mengapa ini bisa terjadi?
Jika kita analisi lebih dalam, masalah pemuda hari ini bukan karena mereka “manja”. Tetapi ini semua adalah akibat dari sistem hidup yang kita pakai hari ini, yaitu demokrasi-kapitalisme. Sistem kapitalisme ini membuat semua hal diukur menggunakan materi. Sehingga generasi Z dipaksa untuk mengikuti kompetisi hidup yang tidak sehat. Media sosial yang lahir dari rahim kapitalisme dirancang demi meraup keuntungan industri lewat algoritma pembanding. Ini yang membuat generasi Z mudah burnout dan depresi.

Secara ekonomi, sistem kapitalisme juga gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang baik untuk generasi muda hari ini. Kekayaan hanya berputar dilingkaran orang-orang kapitalistik. Sementara negara yang menganut sistem demokrasi sering kali hanya menjadi pembuat aturan yang menguntungkan pengusaha besar, bukan untuk melindungi rakyat kecil. Ketidakpastian karir, mahalnya biaya pendidikan, dan minimnya jaminan masa depan dari negara sekuler inilah secara struktural menghancurkan mentalitas generasi Z, membuat mereka cemas lalu meledak dalam gelombang resistensi tak berdarah.

Menyembuhkan mental generasi Z tidak cukup hanya dengan datang ke psikolog atau sekadar diajak untuk healing. Mereka butuh solusi yang jelas dan mengakar. Hanya dengan sistem Islam lah masalah anak muda hari ini akan terselesaikan. 

Sejarah telah mencatat, bagaimana peradaban Islam dibawah naungan negara yang menerapkan Islam secara kaffah mampu melahirkan pemuda-pemuda bermental baja. Tidak ada cerita depresi atau bingung dengan arah hidup. Contohnya kisah dari Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, atau Muhammad Al Fatih yang tumbuh menjadi pemimpin, pemikir dan penakluk dunia yang luar biasa diusia belasan tahunnya. 

Mengapa mentalitas mereka begitu kuat? Karena mereka dididik dengan akidah Islam yang kokoh, memiliki visi hidup yang jelas yaitu meraih ridho Allah, dan bebas dari tekanan ekonomi kapitalistik. 

Islam memandang bahwa negara wajib hadir sebagai pelindung (Junnah) dan pengurus (raa’in) yang menjamin seluruh kebutuhan dasar warganya, tak terkecuali. Mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga penyediaan lapangan kerja yang luas melalui pengelolaan kepemilikan umum sesuai syariat Islam. 

Oleh karena itu, gelombang resistensi generasi Z hari ini harus diarahkan kearah yang lebih benar. Generasi muda saat ini harus sadar dan bangkit dari jebakan narasi sekuler. Ini adalah momentum bagi generasi Z untuk mempelajari, mengadopsi dan mengemban mabda Islam secara utuh. 

Pemuda Islam tidak boleh memiliki sifat egois, cuek dan abai. Mereka wajib memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi umat lain di seluruh belahan dunia yang sama-sama sedang ditindas oleh sistem rusak hari ini. Hanya dengan kembali kedalam institusi dan tatanan kehidupan Islam yang sahih, masa depan generasi Z dan peradaban manusia dapat diselamatkan dari jurang kehancuran.

Wallahu’alam bishawab