Saat Rupiah Melemah Islam punya solusi
Oleh : Siti Julaeha S.si.
Nilai tukar rupiah kini berada di kisaran Rp17.500–Rp17.600 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp17.753 per dolar. Angka ini jauh di atas asumsi kurs dalam RAPBN/APBN 2026 yang dipatok sekitar Rp16.500 per dolar AS.
Artinya, realita ekonomi jauh lebih berat dari perencanaan negara. Pelemahan rupiah membuat harga impor naik, biaya utang membengkak, dan daya beli rakyat semakin tertekan.
Ini menunjukkan rapuhnya ekonomi yang masih bergantung pada dolar dan sistem global kapitalistik.
Di tengah melemahnya rupiah, pemerintah tetap menyatakan APBN negeri ini aman, ekonomi aman. Bahkan Bpk Presiden pun mengatakan bahwa rakyat di desa tidak menggunakan dolar seakan-akan tidak ada pengaruhnya bagi masyarakat desa. Namun di lapangan, rakyatlah yang menghadapi kenyataan harga-harga yang terus melambung, biaya hidup meningkat, dan daya beli yang semakin melemah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ukuran “ekonomi aman” tidak selalu dirasakan rakyat secara nyata. Melemahnya rupiah menunjukkan tekanan ekonomi yang nyata, terutama karena ketergantungan pada dolar dan impor yang masih sangat besar.
Selama ekonomi masih bergantung pada dolar dan impor, gejolak nilai tukar akan terus memberi tekanan besar pada kehidupan masyarakat.
Melemahnya rupiah menunjukkan tekanan ekonomi yang nyata, terutama karena ketergantungan pada dolar dan impor yang masih sangat besar.
Meski pemerintah menyatakan APBN tetap aman dan subsidi BBM dipertahankan, pelemahan rupiah tetap membawa dampak besar bagi rakyat dan keuangan negara, yaitu:
* Menggerus APBN
Pelemahan rupiah membuat beban pembayaran utang luar negeri dan impor pemerintah semakin mahal sehingga tekanan terhadap APBN ikut meningkat. Total utang pemerintah Indonesia per akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp9.920,42 triliun, dengan rasio 40,75% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, berdasarkan data dari Bank Indonesia, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia secara keseluruhan berada di angka US$433,4 miliar pada periode yang sama. Ketika rupiah melemah, beban pembayaran utang dan impor negara ikut membengkak.
* Ancaman subsidi energi
Karena impor migas dibayar dengan dolar, semakin mahal dolar, semakin besar anggaran yang harus dikeluarkan negara untuk menjaga subsidi BBM agar tidak naik. Melemahnya rupiah membuat biaya subsidi BBM dan energi semakin besar serta berpotensi membebani negara.
* Inflasi memukul rakyat
Pelemahan rupiah membuat harga barang impor dan kebutuhan pokok ikut naik. Akibatnya, biaya hidup meningkat dan daya beli rakyat semakin melemah.
Banyak komoditas dan bahan baku industri juga masih bergantung pada impor berbasis dolar. Ketika dolar naik, biaya produksi perusahaan ikut melonjak. Kondisi ini dapat berujung pada pengurangan produksi, kenaikan harga barang, hingga ancaman PHK bagi para pekerja.
Pelemahan rupiah memberikan dampak yang besar bagi rakyat daya beli masyarakat semakin melemah dan utang negara pun semakin membengkak. Dalam hitungan ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, jika utang pemerintah itu ditanggung oleh setiap warga negara Indonesia, artinya setiap orang akan menanggung beban utang pemerintah Rp 30,5 juta. Bagai mana bisa jika hutang ini selalu diambil oleh pemerintah? Bagai mana dengan nasib anak cucu kita di masa depan?
Sayang sekali negeri ini masih menjadikan sistem kapitalis sebagai pengatur di negeri ini, pembangunan saat ini dikejar sehingga mengabaikan resesi yang dihadapi negeri saat ini. Pengeluaran sangat besar dari pada pemasukan sehingga rakyat harus menanggung beban hutang negara.
Namun hal ini berbeda dengan pengaturan sistem Islam yang memberikan peraturan sebaik baiknya peraturan yang ada.
Islam memberikan solusi bagaimana keluar dari jeratan utang dan dolar.
Islam memandang sedikit atau banyak, ringan atau berat, utang tetaplah utang. Wajib untuk dibayar, dilunasi dan diselesaikan. Tentu cara penyelesaian utang yang benar adalah cara-cara sebagaimana tuntunan syariat Islam. Yaitu dengan membayar hutang sebesar dana yang dipinjam. Jadi kalau pinjamnya 1 juta dollar, maka dilunasinya pun sebesar satu juta dollar. Tidak kurang tidak lebih.
Jika negara belum mampu untuk membayar hutang maka lakukan akad ulang, terkait kapan negara sanggup melunasinya dan tidak boleh ada syarat yang menekan dari negara pendonor atau pemberi hutang kepada negara yang dihutangi. Karena memberi hutang hakikatnya adalah membantu bukan untuk mendominasi apalagi menjajah.
Karena syariat Islam adalah solusi atas seluruh permasalahan hidup manusia, termasuk negara. Maka satu satunya jalan, agar negara terbebas dari hutang adalah dengan meninggalkan tata aturan yang dibuat oleh kapitalis sekuler dan beralih dengan penerapan syariat Islam Kaffah dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam tatacara berhutang dan tata cara menyelesaikan hutang hingga lunas.
Islam juga mendorong negara untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dan tidak bergantung pada negara lain, termasuk dalam kebutuhan pangan, energi, maupun industri strategis.
Islam mengarahkan pengelolaan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat serta mendorong penguatan produksi dalam negeri agar tidak terus bergantung pada impor.
Dengan kemandirian ekonomi, negara tidak mudah tertekan oleh gejolak dolar, utang luar negeri, maupun permainan pasar global.
Islam juga mengatur pengelolaan keuangan negara yang dilakukan secara efisien dan amanah serta disertai perang terbuka terhadap korupsi.
Pemborosan anggaran dapat ditekan dengan memangkas gaji dan tunjangan pejabat yang berlebihan, serta tidak menjadikan jabatan sebagai jalan mencari fasilitas dan pensiun mewah.
Islam juga menekankan audit kekayaan pejabat, penyitaan harta yang tidak wajar, dan pemberian sanksi tegas bagi pelaku korupsi, penyuap dan perantaranya dengan penjara seumur hidup atau bahkan sanksi hukuman mati. Sehingga harta negara tidak dinikmati segelintir orang, tetapi benar-benar kembali untuk kemaslahatan rakyat.
Kerapuhan mata uang kertas yang ada di dunia menunjukkan bahwa sistem ekonomi kapitalisme tak layak dijadikan standar dalam kehidupan. Adalah Islam yang memiliki sistem terbaik dalam kehidupan termasuk dalam sistem ekonominya.
Dalam sistem pemerintahan Islam, negara Islam (Khilafah) akan menerapkan sistem mata uang yang berbasis emas dan perak sebagai standar untuk melakukan transaksi. Hal ini merupakan bagian dari perintah Allah Taala, sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Taubah ayat 34.
“... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka katakanlah kepada mereka (akan mendapatkan) dengan azab yang menyakitkan.”
Sistem mata uang berbasis emas dan perak yang disyariatkan Allah tidak lain adalah dinar dan dirham.
Dinar dan dirham tidak hanya memiliki nilai intrinsik namun juga nilai ekstrinsik.
Negara tidak boleh mengeluarkan mata uang kertas tanpa dicadangkan kepada emas dan perak.
Sistem uang emas adalah satu-satunya sistem uang terbaik di antara sistem yang lainnya. Dalam kitab Nizhamul Iqtishadiy Fil Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dijelaskan, bahwa sistem mata uang emas memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:
Pertama, memiliki fungsi stabilitas keuangan, moneter, dan keuangan.
Kedua, menjaga kurs pertukaran mata uang antarnegara bersifat tetap.
Ketiga, akan menimbulkan sikap hati-hati pemerintah dalam mengeluarkan mata uang kertas sebab setiap mata uang yang dicetak harus memiliki jaminan emas dan perak yang tersimpan.
Keempat, membuat negara untuk menjaga kekayaan emasnya.
Kelima, menghilangkan kelangkaan mata uang.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus berulang, ekonomi yang terus melemah, hukum yang amburadul, dan seluruh aspek kehidupan masyarakat rusak ini semua merupakan sebuah keniscayaan dalam sistem kapitalisme.
Hal ini seharusnya menyadarkan masyarakat bahwa sistem ini tidak layak dijadikan sebagai aturan hidup.
Sebaliknya, sistem uang emas dan perak yang diterapkan oleh Khilafah akan menjaga stabilitas ekonomi karena aturan ini berasal dari Allah Swt. Allah sebagai Sang Pencipta adalah Zat Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk semua hamba-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.

Posting Komentar