-->

Mereka Bukan Sekadar Dibunuh, Tapi Sedang Dihapuskan sebagai Manusia


Oleh : Umma Almyra

Dunia kembali menyaksikan Gaza berdarah. Namun yang terjadi hari ini bukan sekadar perang biasa. Yang berlangsung di Palestina adalah penghancuran manusia secara sistematis—bukan hanya tubuh mereka, tetapi juga martabat, identitas, sejarah, bahkan hak mereka untuk dikenang sebagai manusia.

Anak-anak dibunuh tanpa ampun. Rumah sakit dihancurkan. Para jurnalis ditembak agar dunia tidak melihat kejahatan yang terjadi. Bahkan jenazah pun tak dibiarkan tenang. Kuburan dibongkar, jasad dipindahkan, tanah dirampas sedikit demi sedikit. Ini bukan lagi sekadar agresi militer. Ini adalah dehumanisasi paling mengerikan di abad modern.

Data korban terus bertambah. Puluhan ribu warga Palestina tewas dan ratusan ribu lainnya terluka. Banyak anak kehilangan tangan, kaki, bahkan seluruh keluarganya dalam satu malam. Gaza kini disebut sebagai tempat paling mematikan bagi jurnalis di dunia, dengan ratusan jurnalis gugur sejak agresi dimulai. Semua ini menunjukkan satu hal: penjajah Zionis tidak hanya ingin menguasai tanah Palestina, tetapi juga ingin menghapus rakyat Palestina dari kesadaran dunia.

Allah Swt. telah mengingatkan bahwa karakter kezaliman akan terus melampaui batas ketika manusia tidak lagi takut kepada-Nya. Allah berfirman:
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.”
(QS Ibrahim: 42)

Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman sebesar apa pun tidak akan luput dari perhitungan Allah. Namun pertanyaannya, sampai kapan kaum muslim hanya menjadi penonton penderitaan Palestina?

Palestina dan Wajah Asli Dehumanisasi

Dehumanisasi berarti menganggap manusia lain bukan lagi manusia yang memiliki hak hidup, kehormatan, dan perlindungan. Inilah yang dilakukan penjajah Zionis terhadap rakyat Palestina.

Ketika anak-anak Palestina dibunuh lalu disebut sebagai “kerusakan tambahan perang”, ketika rumah sakit dibom lalu disebut “target militer”, ketika jurnalis ditembak agar fakta tidak tersebar, maka jelas yang dihancurkan bukan hanya bangunan, tetapi nilai kemanusiaan itu sendiri.

Yang lebih mengerikan, kebrutalan ini dilakukan terang-terangan di depan dunia. Mereka tidak lagi merasa perlu menyembunyikan kejahatan. Sebab mereka tahu ada dukungan politik, militer, dan finansial dari negara-negara besar yang menjadi pelindung mereka.

Amerika Serikat terus memasok bantuan senjata dan perlindungan diplomatik. Sementara lembaga-lembaga internasional hanya sibuk mengeluarkan “keprihatinan mendalam” tanpa tindakan nyata. Resolusi demi resolusi tidak pernah benar-benar menghentikan pembantaian.

Akibatnya, penjajahan terus meluas. Wilayah Palestina semakin sempit. Rakyat Palestina dipaksa hidup di tanahnya sendiri seperti tahanan.

Padahal Islam memandang nyawa manusia begitu mulia. Allah Swt. berfirman:
“Barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.”
(QS Al -Ma’idah: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa satu nyawa manusia saja sangat berharga dalam Islam. Maka bagaimana dengan puluhan ribu nyawa yang dihabisi? Bagaimana dengan anak-anak yang kehilangan anggota tubuhnya? Bagaimana dengan keluarga yang terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan?

Ironisnya, dunia yang selama ini paling lantang bicara HAM justru diam ketika korban adalah muslim Palestina.

Membungkam Fakta dengan Membunuh Jurnalis

Salah satu fakta paling mengerikan dari agresi ini adalah banyaknya jurnalis yang dibunuh. Gaza menjadi wilayah paling mematikan bagi pekerja media.

Mengapa jurnalis menjadi target?

Karena penjajah memahami bahwa kamera lebih berbahaya daripada peluru. Rekaman anak kecil yang terbakar, tangisan ibu kehilangan anak, dan tubuh-tubuh tanpa kepala bisa mengguncang opini dunia. Maka pembawa berita harus dibungkam.

Ini menunjukkan bahwa agresi Zionis bukan sekadar perang fisik, tetapi juga perang narasi. Mereka ingin dunia melihat Palestina sebagai ancaman, bukan korban.

Padahal Rasulullah saw. mengajarkan kejujuran dan larangan menyembunyikan kebenaran. Dalam banyak peristiwa, Rasulullah saw. justru membuka fakta kezaliman agar umat sadar dan bergerak membela yang tertindas.

Islam tidak pernah membenarkan pembunuhan terhadap non-kombatan, apalagi jurnalis dan anak-anak. Dalam peperangan, Rasulullah saw. secara tegas melarang membunuh wanita, anak kecil, orang tua, dan orang yang tidak ikut berperang.

Diriwayatkan dalam hadis:
“Janganlah kalian membunuh wanita dan anak-anak.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Gaza hari ini. Anak-anak menjadi korban terbesar. Bahkan banyak di antara mereka harus diamputasi karena serangan brutal dan blokade medis.

Mengapa Dunia Islam Tak Bergerak?

Pertanyaan besar yang muncul adalah: mengapa lebih dari 50 negeri muslim tampak tidak mampu menghentikan tragedi ini?

Jawabannya bukan karena umat Islam kekurangan jumlah penduduk atau kekuatan militer. Dunia Islam memiliki sumber daya alam melimpah, posisi strategis, dan jumlah tentara yang besar. Namun semua itu tercerai-berai oleh sekat nasionalisme.

Setiap negeri sibuk dengan urusan negaranya masing-masing. Palestina dianggap hanya masalah bangsa Palestina, bukan persoalan seluruh umat Islam.

Padahal Rasulullah saw. menggambarkan kaum muslim seperti satu tubuh:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR Muslim)

Namun hari ini, tubuh itu tercerai-berai. Nasionalisme telah mengikis ukhuwah Islamiah. Batas negara lebih diprioritaskan daripada persaudaraan iman.
Akibatnya, Palestina dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kekuatan besar dunia.

Ketika Palestina Dibebaskan oleh Persatuan Umat

Sejarah Islam sebenarnya pernah membuktikan bahwa Palestina bisa dibebaskan ketika umat bersatu.
Salah satu contoh paling terkenal adalah pembebasan Baitul Maqdis oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Kemenangan itu tidak lahir dari pidato kecaman atau diplomasi kosong, tetapi dari persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan yang kuat.

Sebelum membebaskan Palestina, Shalahuddin terlebih dahulu menyatukan kaum muslim yang terpecah. Ia memahami bahwa musuh tidak mungkin dikalahkan jika umat terus tercerai-berai.

Saat Yerusalem berhasil direbut kembali, tidak terjadi pembantaian balas dendam. Inilah perbedaan mendasar antara peradaban Islam dan penjajahan Zionis. Islam membawa rahmat dan keadilan, bahkan kepada musuh.

Hal serupa terjadi di masa Umar bin Khattab ketika Palestina pertama kali dibebaskan dari kekuasaan Romawi. Penduduk non-muslim justru mendapat perlindungan dan jaminan keamanan.
Ini membuktikan bahwa Islam bukan ancaman bagi kemanusiaan. Justru Islam menghadirkan sistem yang menjaga kehormatan manusia tanpa memandang agama dan ras.

Palestina Tak Akan Bebas dengan Sekadar Simpati

Hari ini dunia muslim memang ramai menunjukkan simpati terhadap Palestina. Aksi boikot dilakukan. Donasi dikumpulkan. Demonstrasi digelar.

Semua itu baik dan penting. Namun pertanyaannya: apakah itu cukup menghentikan penjajahan?
Faktanya, penjajahan terus berlangsung puluhan tahun. Setiap gencatan senjata hanya menjadi jeda sebelum serangan berikutnya.

Akar masalahnya adalah keberadaan entitas penjajah di tanah Palestina dan tidak adanya kekuatan politik umat Islam yang benar-benar mampu menghentikannya.

Dalam pandangan Islam politik, umat membutuhkan kepemimpinan yang menyatukan kekuatan negeri-negeri muslim agar mampu melindungi darah kaum muslimin dan menghentikan penjajahan. Persatuan itu bukan sekadar slogan emosional, tetapi harus diwujudkan dalam institusi politik yang memiliki kekuatan nyata.

Karena itu, agenda besar umat tidak boleh berhenti pada rasa sedih atau kecaman moral. Umat membutuhkan persatuan hakiki yang mampu menggerakkan kekuatan militer, ekonomi, dan politik untuk melindungi Palestina.

Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan dalam Islam bukan hanya hubungan spiritual, tetapi juga tanggung jawab politik dan perlindungan nyata.

Gaza Sedang Menguji Umat Islam

Apa yang terjadi di Gaza sejatinya bukan hanya ujian bagi rakyat Palestina, tetapi juga ujian bagi seluruh umat Islam.

Apakah umat masih memiliki keberpihakan terhadap saudara seiman?
Apakah darah muslim masih dianggap berharga?
Ataukah umat sudah terlalu sibuk dengan urusan dunia masing-masing?

Palestina hari ini mengajarkan satu hal penting: ketika umat kehilangan persatuan dan kepemimpinan, maka mereka menjadi sasaran empuk penjajahan.

Namun di tengah semua penderitaan itu, rakyat Palestina justru menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Mereka tetap shalat di tengah reruntuhan. Mereka tetap bertakbir saat kehilangan keluarga. Mereka tetap yakin bahwa pertolongan Allah pasti datang.

Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.”
(QS Ali Imran: 139)

Ayat ini bukan sekadar penghibur, tetapi janji bahwa kemenangan akan diberikan kepada orang-orang beriman yang tetap teguh di jalan-Nya.

Karena itu, tragedi Palestina seharusnya menyadarkan umat bahwa persoalan ini tidak bisa selesai hanya dengan diplomasi internasional yang terbukti gagal. Dibutuhkan persatuan umat Islam yang nyata dan kepemimpinan yang benar-benar berpihak pada pembebasan Palestina.

Sebab selama penjajahan masih berdiri, selama umat tetap tercerai-berai, maka darah anak-anak Palestina akan terus mengalir.

Dan sejarah akan bertanya kepada generasi ini:
ketika Gaza dihancurkan, di pihak manakah kita berdiri?

Wallahu a’lam bish-shawab.