-->

Rupiah Terpuruk, Rakyat Makin Tertindas, Bukti Rapuhnya Sistem Ekonomi Kapitalisme


Oleh : Henise

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Di balik angka-angka ekonomi yang sering diperdebatkan para elite, ada kenyataan pahit yang benar-benar dirasakan rakyat kecil, harga kebutuhan pokok naik, biaya produksi melonjak, BBM makin mahal, dan beban hidup semakin menyesakkan. Ketika rupiah jatuh, masyarakat menengah-bawah menjadi pihak pertama yang paling merasakan dampaknya.

Ironisnya, di tengah kondisi yang semakin berat, pemerintah justru menilai situasi masih aman dan terkendali. Padahal rakyat terus dipaksa bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang semakin brutal. Banyak keluarga akhirnya terjerat pinjaman online demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi Indonesia bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, tetapi buah dari sistem ekonomi kapitalistik yang rapuh dan zalim.

Fakta: Pelemahan Rupiah Mencekik Kehidupan Rakyat

Depresiasi rupiah terhadap dolar membuat kondisi ekonomi Indonesia semakin mengkhawatirkan. Pelemahan kurs berdampak langsung pada naiknya harga bahan baku, energi, dan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor dan sistem perdagangan global berbasis dolar, setiap pelemahan rupiah langsung memukul daya beli rakyat.

Kenaikan harga BBM dan kelangkaan solar subsidi juga membuat para nelayan dan pelaku usaha kecil semakin terpuruk. Banyak nelayan mengeluhkan hasil tangkapan tidak lagi mampu menutupi biaya operasional akibat harga bahan bakar yang melonjak berkali-kali lipat.

Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup. Banyak rakyat akhirnya bergantung pada pinjaman online untuk bertahan hidup. Data pinjol menunjukkan jumlah utang masyarakat terus meningkat tajam hingga mencapai puluhan triliun rupiah.

Ironisnya, pemerintah tetap memandang kondisi ekonomi masyarakat masih aman. Pernyataan elite yang menganggap rakyat desa tidak memakai dolar justru menunjukkan jauhnya penguasa dari realitas penderitaan masyarakat kecil.

Semua ini memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs mata uang, tetapi berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat secara luas.

Kritik Islam: Kapitalisme Membuat Ekonomi Rapuh dan Menindas Rakyat

Dalam pandangan Islam, problem pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang bergantung pada mekanisme pasar global dan dominasi dolar.

Sistem ekonomi kapitalistik membuat negara tunduk pada konstelasi politik dan ekonomi internasional. Ketika terjadi konflik global seperti perang Amerika Serikat dan Iran, pasar dunia langsung terguncang dan negara-negara berkembang seperti Indonesia ikut terkena dampaknya. Ini menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi yang bergantung pada kekuatan asing.

Kapitalisme juga menjadikan dolar sebagai pusat transaksi dan cadangan devisa dunia. Akibatnya, negara-negara berkembang terus berada dalam ketergantungan dan mudah terkena gejolak eksternal.

Di sisi lain, pemerintah dalam sistem kapitalisme sering kali tidak benar-benar memahami penderitaan rakyat karena ukuran keberhasilan ekonomi hanya dilihat dari stabilitas makro dan angka pertumbuhan. Selama investasi berjalan dan pasar dianggap stabil, maka penderitaan rakyat kecil sering diabaikan.

Sistem kapitalisme juga membuat negara lebih memilih utang sebagai solusi ekonomi. Ketika pendapatan negara bermasalah, utang terus ditambah. Akibatnya, beban ekonomi rakyat semakin berat karena pada akhirnya rakyatlah yang menanggung dampak kebijakan tersebut melalui pajak, kenaikan harga, dan berkurangnya subsidi.

Lebih parah lagi, kapitalisme membiarkan praktik riba tumbuh subur melalui perbankan dan pinjaman online. Rakyat yang terdesak ekonomi akhirnya masuk dalam lingkaran utang berbunga yang semakin menjerat kehidupan mereka.

Semua ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi kapitalisme tidak dibangun untuk menjamin kesejahteraan rakyat, tetapi hanya menjaga stabilitas pasar dan kepentingan pemilik modal.

Solusi Islam: Sistem Ekonomi Islam Menjamin Stabilitas dan Kesejahteraan

Islam memiliki sistem ekonomi yang berbeda secara mendasar dari kapitalisme. Sistem ekonomi Islam dibangun untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan pasar dan oligarki.

Dalam Islam, sistem mata uang menggunakan emas dan perak yang memiliki nilai intrinsik sehingga lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan oleh kekuatan pasar global. Dengan sistem ini, negara tidak akan mudah terkena guncangan akibat dominasi dolar atau spekulasi pasar internasional.

Islam juga melarang riba dalam seluruh aktivitas ekonomi. Dengan dihapuskannya sistem riba, masyarakat tidak akan terjebak dalam jeratan utang berbunga yang menindas seperti pinjaman online dan sistem perbankan kapitalistik.

Negara dalam Islam wajib menjaga stabilitas harga dan distribusi kebutuhan pokok masyarakat. Syariat mengatur kepemilikan umum, distribusi kekayaan, dan perdagangan agar tidak terjadi penumpukan harta pada segelintir orang.

Sumber daya alam yang menjadi kebutuhan vital rakyat seperti energi, tambang, dan hutan wajib dikelola negara untuk kepentingan masyarakat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Dengan demikian, harga energi dan kebutuhan dasar dapat dijaga agar tetap terjangkau.

Dalam Islam, pemimpin adalah ra’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung). Negara bertanggung jawab penuh melindungi rakyat dari kesengsaraan hidup. Penguasa tidak boleh abai terhadap penderitaan masyarakat dan tidak boleh membiarkan rakyat menghadapi beban ekonomi sendirian.

Islam juga memiliki mekanisme distribusi kekayaan yang adil sehingga kesejahteraan tidak hanya dinikmati kelompok elit, tetapi benar-benar dirasakan seluruh masyarakat.

Penutup

Pelemahan rupiah yang terus menekan kehidupan rakyat membuktikan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme. Ketergantungan terhadap dolar, dominasi pasar global, budaya utang, dan praktik riba membuat rakyat kecil menjadi korban utama setiap krisis ekonomi.

Sementara penguasa sibuk menjaga stabilitas angka-angka ekonomi, rakyat justru semakin tercekik oleh mahalnya kebutuhan hidup dan jeratan utang.

Islam menawarkan solusi ekonomi yang lebih adil dan stabil melalui penerapan syariat secara kaffah. Sistem ekonomi Islam tidak dibangun untuk melayani pasar dan oligarki, tetapi untuk menjaga kesejahteraan rakyat dan mewujudkan keadilan ekonomi.

Karena itu, problem ekonomi bangsa tidak akan selesai hanya dengan kebijakan tambal sulam. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar menuju sistem Islam yang mampu melindungi rakyat dari kezaliman ekonomi kapitalistik.

Wallahu a'lam