-->

Rupiah Melemah, Rakyat Menengah ke Bawah makin Susah


Oleh : Dinda Kusuma W T 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan. Pada perdagangan Senin (18/5) pagi, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi domestik (ugm.ac.id, 19/05/2026)

Miris, janji politik presiden terpilih untuk menguatkan rupiah dijawab dengan fakta sebaliknya. Bahkan Presiden Prabowo pada masa kampanyenya sempat "berkoar" akan memperkuat rupiah hingga ke angka 6000 rupiah per dolar AS. Lebih dari setahun masa jabatan presiden, janji tinggal janji, hanya sekedar omon-omon yang tidak pernah terbukti. 

Melemahnya rupiah adalah akumulasi dari berbagai persoalan yang dihadapi negara ini di berbagai lini. Konflik geopolitik internasional, termasuk perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai turut memengaruhi kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri. Situasi ini membuat Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan subsidi bagi masyarakat. Kemudian melihat sepak terjang pemerintah dalam menghadapi masalah ini membuat banyak pihak kehilangan kepercayaan terhadap rupiah. Anjloknya rupiah pun tak bisa ditolak lagi.

Yang menyedihkan, dalam jangka pendek, yang paling cepat merasakan dampaknya adalah kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah. Terutama kelompok kelas menengah di wilayah perkotaan. Kenaikan berbagai biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat makin tercekik. Kondisi tersebut perlahan memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Sedangkan untuk masyarakat kalangan atas, turunnya perekonomian ini mungkin tidak akan seberapa berpengaruh bagi mereka. 

Disisi lain kita tahu, bahwa kalangan pejabat dan aparat berada nyaman sebagai masyarakat golongan kelas atas. Praktis, kesengsaraan rakyat tidak bisa mereka rasakan secara langsung. Minimnya empati, bahkan membuat pejabat dan penguasa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sama sekali tidak menenangkan masyarakat. Hanya pernyataan yang terkesan "meremehkan" kondisi saat ini tanpa ada niat mencari solusi seefisisen dan sedini mungkin. Presiden mengatakan "Dolar naik tidak masalah, rakyat di desa tidak menggunakan dolar". Sungguh sebuah pernyataan "konyol", unsolutif dan bisa dikatakan pembohongan.

Persoalan melemahnya rupiah ini bukan hal sepele. Jika negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun. tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas. Ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi rumah tangga semata. Situasi tersebut dapat memengaruhi stabilitas sosial karena masyarakat mengalami penurunan rasa aman terhadap kondisi hidup mereka. Dampaknya adalah, kriminalitas meningkat, pinjol dan judol makin merajalela, dan berbagai kerusakan lainnya.

Berkurangnya kapasitas fiskal negara dan daerah juga memperbesar tekanan sosial ekonomi masyarakat. Banyaknya program tidak produktif dan pemborosan menyebabkan negara kebingungan melakukan efisiensi anggaran. Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk pendidikan yang harus menghadapi pengurangan anggaran dan berbagai keterbatasan pembiayaan. Dalam situasi seperti ini, berbagai institusi dituntut mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Hal ini tidak dapat dianggap sebagai persoalan ringan karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pelayanan publik dan hajat primer bagi masyarakat.

Ya, beginilah kacaunya perekonomian jika diatur dengan sistem kapitalisme dan sekulerisme. Saat kaum kapital berkolaborasi dengan penguasa, lahirlah aturan negara yang tidak berpihak pada rakyat, hanya berpihak pada kepentingan kaum kapital itu sendiri. Bagi rakyat kecil, kebijakan negara hanya lingkaran hitam yang tidak bisa ditembus. Dalam sistem ini, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin dan sengsara.

Sebelum bangsa dan negara ini benar-benar terjun ke dalam jurang kehancuran, sistem kapitalisme harus segera dicabut hingga ke akarnya. Diganti dengan sistem yang benar, sempurna dan mulia yaitu Islam. Sebuah sistem yang aturannya berasal dari Sang Pencipta yang tertuang dalam Al Qur'an dan hadits. Jelas, aturan tersebut tidak akan berpihak pada golongan tertentu tapi berpihak pada kebaikan seluruh umat manusia.

Sejarah telah mencatat, bahwa sistem kenegaraan Islam adalah sistem yang mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya. Negara bersistem Islam praktis akan menjadi negara yang mandiri dan kuat, terutama dalam hal ekonomi. Islam melarang Daulah Islamiyah bekerja sama dengan negara kafir apalagi membiarkan kekayaan negara dikeruk sedemikian rupa seperti saat ini. Perekonomian dalam Islam diatur secara rinci sehingga meniscayakan terwujudnya sebuah negara swasembada dan berdaulat penuh. Yang lebih utama, menerapkan Islam secara keseluruhan akan mendatangkan keridhaan dan keberkahan dari Allah SWT. 
Wallahu a'lam bishsawab.