Pelecehan dan Kekerasan di Kampus, Buah dari Pendidikan Sistem Sekuler
Oleh : Alimatul Mufida (Mahasiswa)
Dikutip dari BBC NEWS Indonesia, sebanyak 16 mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap puluhan mahasiswi hingga dosen di fakultas tersebut. Kasus tersebut terungkap setelah tangkapan layar percakapan para terduga pelaku viral di media sosial. Pengamat pendidikan menyebut kasus tersebut menunjukkan situasi darurat dan alarm keras kasus kekerasan di lembaga pendidikan, yang terus meningkat dan mengkhawatirkan. "Kekerasan di dunia pendidikan bukan lagi kasus per kasus, tetapi sudah menjadi pola yang sistemik. Lebih berbahaya lagi, pelakunya justru banyak berasal dari dalam lembaga pendidikan itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa sekolah dan kampus telah gagal menjadi ruang aman," kata Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, Selasa (14/04). JPPI mencatat terjadi 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Dari jumlah itu, kasus yang paling banyak ditemukan adalah kekerasan seksual (46%), lalu dikuti kekerasan fisik (34%), dan perundungan (19%).
Ini merupakan sebuah bukti bahwa lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi bahkan tidak mampu mencetak generasi berkarakter, padahal tujuan dari pendidikan merupakan menghasilkan generasi yang memiliki karakter. Saat basis dari keseluruhan aspek merupakan pemisahan agama dari kehidupan, maka inilah awal mula kehancuran. Pelecehan seksual yang terjadi di perguruan tinggi bukanlah langkah awal tetapi merupakan hasil dari penerapan sistem sekuler kapitalis yang telah menjadikan pelajar terjauhkan dari agama, penjagaan akal, moral serta perbuatan. Lemahnya sistem pendidikan dan hukum yang diterapkan di negara saat ini juga menjadikan pelajar mudah terjerat pada aktivitas tidak bermoral.
Saat individu tidak memiliki iman yang kuat dan pada saat yang sama tentu saja individu ini tidak menumbuhkan rasa malu. Malu adalah sebagian dari iman, bahwa rasa malu merupakan cabang keimanan yang mendorong bukan hanya perilaku yang bermoral tetapi hingga akhlak mulia dan mencegah seseorang dari perbuatan tercela. Rasa malu ini mencakup malu saat membicarakan, melihat, dan berbuat hal yang tidak pantas. Ditambah lagi keadaan masyarakat yang menormalisasi kehidupan campur baur (ikhtilat) antar laki-laki dan perempuan bahkan meremehkan aktivitas berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dan perempuan. Pergaulan yang cenderung pada kebebasan inilah yang mengarah pada aktivitas tercela. Ini juga didukung oleh tidak hadirnya peran negara dalam membatasi dan mengatur tontonan yang layak maupun yang tidak. Ini hari sangat mudah mengakses tontonan yang tidak senonoh, bahkan saat kita tidak menginginkannya, berbagai macam iklan yang mengumbar aurat yang tidak layak ditampilkan tersebut tersedia bersliweran tanpa diminta pengguna. Untuk sekadar menundukkan pandangan yang seharusnya menjadi mudah nampak susah saat lingkungan dan sistem tidak mendukung.
Ini semua akan mengarah pada mudahnya tindakan pelecehan dilakukan bahkan bukan hanya di lingkungan kampus. Berbeda halnya saat aturan islam diterapkan. Sistem pendidikan Islam akan membentuk pribadi generasi sebagai hamba Allah yang shalih, muslih dan berkepribadian lslam. Selain itu, sistem islam juga memudahkan peran keluarga bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik anak-anaknya dengan menanamkan dasar-dasar keislaman yang menumbuhkan rasa malu yang kemudian akan memberikan teladan yang baik bagi yang lain. Ini juga akan terkondisikan oleh masvarakat islam dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi, dengan menjaga pergaulan, dan saling amar makruf nahi munkar. Terakhir, negara memiliki peran dalam mengatur tontonan yang layak. Negara akan membatasi situs-situs yang berpeluang merusak jiwa dan otak.
Selain itu, peran negara adalah memberikan hukuman yang tegas bagi pelaku pelecehan dan kekerasan agar merasakan efek jera serta menjadi pelajaran padaa individu lain agar tidak melakukan hal serupa. Wallahu a'lam bis shawwab

Posting Komentar