KRL, Saksi Perjuangan dan Pengorbanan Perempuan
Oleh : Dinda Kusuma W T
Baru saja, sebuah peristiwa memilukan mengguncang masyarakat Indonesia. KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line yang berisi mayoritas perempuan, ditabrak oleh kereta Argo Bromo dengan kecepatan penuh. Tanpa aba-aba, gerbong khusus wanita yang berada paling belakang ringsek bersama para penumpang di dalamnya. 16 orang yang semuanya perempuan, meninggal dunia. Diantara mereka, ada yang seorang ibu, anak perempuan, kakak atau adik perempuan, mereka pulang bersama ke rumah yang abadi. Sedangkan puluhan lainnya terluka ringan hingga berat. Lebih dari itu, peristiwa ini tidak hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga luka batin dan trauma yang tak terbayangkan bagi para korbannya.
Dikutip dari kompas.id, tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL Commuter Line terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB. Peristiwa di Kilometer 28+920 itu melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasarturi dan Commuter Line relasi Kampung Bandan-Cikarang.
Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, berdasarkan hasil investigasi sementara, insiden awal itu(taksi tertemper kereta) diduga memicu gangguan operasional perjalanan di lintas Bekasi. ”Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi di JPL 85 sehingga ini yang kami curigai membuat sistem perkeretaapian di emplasemen Stasiun Bekasi Timur agak terganggu. Sementara ini kronologinya. Kami menyerahkan kepada KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk evaluasi penyebab kecelakaan kereta secara detail,” ujar Bobby (kompas.id, 28/04/2026).
KRL yang melaju dari Jakarta ke arah Cikarang itu, akhirnya menjadi saksi perjuangan dan pengorbanan para perempuan dalam mensejahterakan diri dan keluarganya hingga kehilangan nyawa. Hati siapa yang tidak pedih. Menyaksikan perempuan-perempuan yang harusnya berdiam dirumah mengurus rumah dan anaknya dengan nyaman, harus rela bekerja jauh dari rumah dan akhirnya meninggal dalam perjuangannya itu.
Tragedi ini tentu menyisakan banyak pertanyaan dan jeritan hati. Tentang keamanan transportasi umum, tentang kemiskinan yang mencekik, tentang perempuan yang harus menanggung beban sangat berat, tentang kesedihan keluarga korban, dan banyak lagi. Menyisakan penyesalan yang sangat sulit terobati.
Peristiwa ini membuka mata rakyat Indonesia, bahwa penuh sesaknya KRL bukan sekedar jejalan penumpang. Melainkan gambaran banyaknya rakyat miskin di negeri ini. Gambaran betapa minimnya perhatian negara terhadap kesejahteraan warganya, bahkan untuk menaiki transportasi umum dengan nyaman seakan sesuatu yang sangat mahal.
Ada dua kenyataan besar yang sangat pahit tampak dalam tragedi ini. Pertama, potret kemiskinan yang masih tinggi dan masif. Inilah yang memaksa perempuan harus ikut andil dalam mencari nafkah. Pada dasarnya, siapakah ibu yang dengan sukarela berjibaku dengan beratnya dunia kerja, sementara ia harus meninggalkan anaknya dirumah? Tentu tidak ada. Bahkan ada korban seorang ibu meninggal dunia yang baru pertama masuk kerja setelah cuti melahirkan. Sang ibu meninggalkan bayinya untuk selamanya.
Kedua, abainya pemerintah terhadap kenyamanan dan keamanan transportasi umum. Ditengah kota Jakarta yang penuh sesak dan menjadi sarang kemacetan, KRL adalah salah satu pilihan bagi penduduk Jakarta. Selain murah, mereka tidak perlu menghadapi kemacetan yang melelahkan. Namun, memilih KRL bukan tidak mempunyai tantangan tersendiri. Berdesakan dengan penumpang lain, terutama di jam berangkat dan pulang kerja, adalah rutinitas. Gerbong yang penuh sesak tentu terasa sangat tidak nyaman. Penumpang harus menahan bau badan keringat yang bercampur jadi satu, perempuan rawan mengalami pelecehan, rawan kriminalitas seperti pencopetan, dan lain-lain.
Seharusnya, ketika melihat fakta bahwa KRL menjadi salah satu pilihan favorit warga Jakarta, pemerintah setempat mau meningkatkan kenyamanan dan pelayanannya. Baik dari sisi gerbong KRL itu sendiri maupun jalur perlintasan. Alih-alih demikian, justru terjadi sebuah kecelakaan yang disayangkan semua pihak.
Inilah pil pahit yang harus ditelan oleh rakyat dalam sistem kapitalisme. Kemiskinan seolah dicetak dan dipelihara demi kepentingan korporasi. Dalam sistem ini segalanya diukur oleh uang. Kaum kapital berkolaborasi dengan pemerintah untuk terus memperkaya diri. Jadilah, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin dan sengsara. Nyaris tidak ada celah bagi yang miskin untuk keluar dari kemiskinanannya sebab dalam sistem ini si miskin bermanfaat bagi si kaya.
Sistem kapitalisme harus dihapus dan dicabut hingga ke akar-akarnya agar kemakmuran dapat terwujud. Islam adalah satu-satunya agama ideologi yang mengatur sebuah sistem kehidupan yang mampu mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hakiki bagi seluruh umat manusia. Keindahan dan kesempurnaan sistem Islam telah terbukti mampu menjadi solusi dan Rahmat bagi semua sejak ditegakkan oleh Rasulullah Saw hingga akhir masa kekhilafahan. Berlangsung hampir 1400 tahun Islam terbukti membawa manusia pada masa keemasannya. Demikianlah untuk mengembalikan kejayaan tersebut tidak ada pilihan selain menerapkan sistem Islam secara total dan menyeluruh. Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar