-->

GENERASI SALAH ARAH AKIBAT SISTEM KAPITALISME


Oleh : Zahra K.R (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Di tengah gemerlap kemajuan zaman, generasi muda tumbuh dalam dunia yang serba cepat, terbuka, dan penuh pilihan. Mereka dipuji sebagai harapan masa depan dengan kecerdasannya, kreatifitasnya, dan potensi besar yang dimilikinya. Namun siapa sangka jika di balik semua itu, ada kegelisahan yang tak selalu tampak di permukaan. Banyak di antara mereka berjalan tanpa arah yang jelas, melangkah dengan penuh kebebasan, tetapi tanpa pijakan nilai yang kuat.

Sebagaimana yang terjadi di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dua warga dari desa tersebut yang berinisial SH dan KF, telah diamankan oleh pihak polisi ketika hendak mengedarkan zat terlarang berupa sabu yang sengaja disembunyikan di samping rumahnya. Sementara, pemasok barang haram tersebut masih diburu oleh polisi. Saat diwawancarai oleh Detik Bali, pada hari Kamis (02/04/2026), Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih mengatakan bahwa status terduga pengedar SH sedang tidak bekerja dan KF masih duduk di bangku pelajar. (Detik.com 02/04/2026)

Tiga hari sebelumnya, tepat pada hari Senin, (30/03/2026), di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara, Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari juga telah berhasil mengamankan seorang pelajar berinisial HS akibat menyimpan puluhan zat terlarang. (Suarasultra.com 31/03/2026) 

Kesalahan demi kesalahan sering kali tidak lahir dari niat buruk, melainkan dari kebingungan yang dibiarkan. Ketika standar benar dan salah menjadi kabur, ketika batasan dianggap sebagai penghalang kebebasan, generasi muda pun mulai menyusun jalannya sendiri meski tanpa kompas yang benar. Sehingga, apa yang awalnya tampak sebagai pilihan kecil, perlahan berubah menjadi jejak keliru yang membawa mereka semakin jauh dari tujuan yang seharusnya.

Fenomena ini, tentunya bukan sekadar persoalan individu yang gagal mengambil keputusan. Melainkan, ia adalah gambaran yang lebih besar tentang sistem yang belum mampu menjaga arah generasi. Ketika bimbingan melemah dan nilai kehilangan tempatnya, maka penyimpangan bukan lagi hal yang mengejutkan, melainkan konsekuensi yang tak terelakkan. Lalu, bagaimana jejak keliru ini terbentuk, dan di mana letak kegagalan yang sebenarnya?

Ketika pelajar berani mengambil keputusan yang salah, seperti menjadi pengedar zat terlarang, ini membuktikan bahwa sistem hari ini tidak mampu memberikan bekal yang benar dan jelas untuk generasi muda. Sistem hari ini, secara perlahan justru merusak moral generasi muda dengan sistem pendidikan yang sekuler, dimana aturan agama sengaja dijauhkan dari pendidikan. 

Seorang Muslim yang berusaha menjalankan perintah agama dicap fanatik, ekstrimis, bahkan disudutkan oleh berbagai pihak. Seolah menjadi seorang Muslim yang taat agama adalah sebuah kesalahan besar di hari ini. Padahal, setiap muslim yang sudah baligh dan berakal, dirinya sudah terhitung beban hukum yang dibuat oleh Pencipta-Nya. Namun, sistem hari ini justru terang-terangan menghalangi seorang hamba untuk taat pada Rabb-nya. Dan sistem itu adalah sistem kapitalis sekuler. Sistem yang sedang diterapkan saat ini di sebagian besar negeri, termasuk negeri ini. 

Perlu disadari, bahwa hadirnya sistem ini adalah awal dari munculnya mala petaka itu terjadi. Kualitas sistem pendidikan dan hukum yang dibuat pun buruk, dimana mampu menjauhkan generasi muda dari ajaran agama, sehingga nereka dengan mudahnya melakukan aktivitas haram yang justru merusak akalnya, bahkan perilakunya menjadi tidak bisa terkontrol. Alhasil, generasi muda hari ini menjadi generasi yang rapuh dan mudah tumbang. Karena mereka tidak lagi memiliki prinsip hidup yang kuat. 

Berbeda jauh dengan sistem Islam. Islam dengan sepaket aturannya yang lengkap dan sempurna, mampu melahirkan generasi yang memiliki kepribadian emas. Tak hanya cerdas dalam ilmu dunia, namun juga pandai mengejar ilmu akhirat yang akan menjadi bekal di kehidupan yang kekal. 

Dengan sistem pendidikan yang benar, jelas, dan terarah. Generasi akan dibentuk menjadi generasi yang istimewa sebagai hamba Allah yang shalih, muslih, dan berkepribadian Islam. Dan dalam mewujudkannya, sistem Islam akan mendorong terlaksana peran dari tiga pihak yang sangat penting di dalamnya, yaitu pertama; peran dari pihak keluarga. Dalam hal ini, setiap orangtua akan didorong untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan pendampingan dan pendidikan anak mereka. Beberapa peran orangtua adalah menanamkan dasar-dasar Keislaman yang memadai serta berusaha untuk memberikan contoh teladan yang baik untuk anak mereka. 

Kedua; peran dari pihak masyarakat. Mengapa peran masyarakat penting? Karena masyarakat berperan dalam menciptakan lingkungan yang baik dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi. Hal itu bisa dilakukan masyarakat dengan menjaga pergaulan dan selalu membiasakan dakwah di tengah-tengah mereka melalui ajakan pada kebaikan dan mendorong untuk menjauhi kemungkaran. 

Ketiga; peran dari pihak negara. Tanpa adanya negara yang bertindak, kedua peran diatas sulit diwujudkan dengan maksimal. Sebab itu, dalam hal ini yang berperan utama adalah negara. Karena, hanya negara yang berwenang membuat sistem kebijakan. Dengan begitu, negara dalam Islam akan membuat sistem kebijakan dengan sebaik mungkin demi kemaslahatan umat. Salah satunya adalah kebijakan sanksi hukum yang tegas dan tidak tebang pilih. Setiap orang yang melakukan tindak kejahatan maupun kriminal, baik dia dari kalangan kaya maupun miskin hukumannya sama. Sehingga, dalam kasus seperti yang terjadi pada generasi muda hari ini, baik dia sebagai pembuat, pengedar, ataupun pengguna akan diberikan hukuman yang mampu menjerakannya.

Ketika ketiga peran ini terlaksana, maka generasi yang diharapkan dan didambakan umat itu akan terwujud. Sehingga, seperti kasus di atas, akan sulit ditemukan. Karena, kesibukan generasi yang sudah tertanam aqidah Islam yang kuat, bukan pada jalan hidup yang bebas dan tidak jelas. Melainkan, sibuk berjalan di atas jalan hidup yang terarah dan mampu memberikan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. 

Wallahu a'lam bish-shawwab.